Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Provinsi DKI Jakarta saat ini dianggap kurang aktif untuk memberikan informasi terkait kualitas udara di DKI Jakarta. Hal tersebut dapat berakibat pada kurangnya kepedulian warga.
Juru kampanye polusi udara dari Greenpeace, Bondan Andriyanu, mengemukakan itu dalam acara diskusi santai tentang polusi udara Jakarta, di arena car free day, Jakarta Pusat, Minggu (10/3).
Data Kementerian Lingkungan dan Kehutanan (KLHK) pada tahun lalu menyebutkan kualitas udara di Jakarta dengan partikel polusi atau particulate matter (PM) 2,5 mikron mencapai 34,2 ug/m3.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara baku mutu PM 2,5 tahunan adalah 15 ug/m3. Artinya, angka partikel polusi di Jakarta tersebut sudah melebihi dua kali lipat dari baku mutu yang sudah di tetapkan oleh KLHK.
"Terdapat dua parameter polusi udara yang dapat diukur yaitu gas dan partikel. Pertama, dalam bentuk gas berupa karbon dioksida (CO2), sulfur dioksida (SO2), dan nitrogen dioksida (NO2). Gas tersebut bisa tergolong tidak baik bagi tubuh jika dihirup," kata Bondan.
Kedua, lanjut dia, untuk partikel sangat berbahaya adalah debu. Debu juga memiliki ukuran PM 2.5.
"Jika bicara solusi ada dua hal yang harus ditekankan pertama, adanya pengakuan dari pemerintah kalau udara di Jakarta menghawatirkan, sehingga masyarakat mulai sadar akan udara yang dikonsumsi. Kedua, kesadaran dari masyarakat untuk mulai hidup sehat seperti menghilangkan asap rokok dan mengurangi penggunaan transportasi pribadi untuk beralih ke moda transportasi publik," ujar Bondan.
Pada 2018 Jakarta memiliki hari dengan udara yang buruk yaitu PM 2,5 lebih banyak dari udara bersih. Jumlah hari dengan kualitas baik hanya 34 hari, kualitas sedang 122 hari, dan hari dengan kualitas udara tidak sehat mencapai 196 hari.
"Artinya udara yang dihirup oleh warga Jakarta lebih banyak tidak sehat, tapi mengapa hingga saat ini belum ada pengakuan dari pemerintah mengenai kondisi udara di DKI Jakarta. Kondisi udara di Jakarta sedang mengkhawatirkan bukan sedang baik-baik saja," cetus Bondan.
Imbauan untuk masyarakat ialah ketika di luar ruangan masyarakat menggunakan masker N95 untuk memfiter polusi PM 2,5 hampir 90%. Untuk di dalam ruangan masyarakat menggunakan air purifier untuk menjernihkan udara dalam ruangan. Pasalnya udara di luar ruangan dengan PM 2,5 dapat masuk.
"Pemerintah tidak bisa menyangkal lagi bahwa kualitas udara di kota ini memang sudah dalam tingkat yang mengkhawatirkan. Perlu adanya tindak lanjut yang nyata untuk mengatasi masalah polusi seperti perkuat standar baku mutu udara ambien dan emisi, perbanyak stasiun pemantauan yang datanya bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat luas," tandas Bondan.
Dampak polusi
Dokter spesialis paru-paru, Ade Imasanti, mengatakan partikel debu PM 2,5 tersebut sangat kecil. Apabila dibandingkan dengan sehelai rambut maka rambut itu akan terbagi menjadin 30 bagian. Partikel debu tersebut berasal dari asap kendaraan bermotor, asap rokok, hingga asap dari memasak.
"Bila dihirup oleh manusia, tidak hanya masuk ke tenggorokan tetapi hingga paru-paru dan mengendap di paru-paru tersebut," kata Ade Imasanti.
Imasanti mengatakan jika debu PM 2,5 tersebut terhirup manusia, dampaknya akan terasa dalam jangka panjang. "Polusi udara debu tersebut bisa dikaitkan dengan sesak nafas, asma, kanker hingga stroke," imbuhnya.
Sebuah laporan baru-baru ini juga menyajikan data terbaru tentang kualitas udara di kota-kota seluruh dunia. Jakarta menempati peringkat 1 dengan PM 2,5 terburuk se-Asia Tenggara.
Polusi udara mengancam kesehatan masyarakat dan menurunkan produktivitas dalam bekerja. Berdasarkan penelitian WHO di 2018, sembilan dari sepuluh orang di dunia menghirup udara berpolusi setiap harinya. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved