Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
Tingginya biaya operasional dan perawatan sarana moda raya terpadu (MRT) menjadi pemicu tingginya tarif MRT. Hal itu berimbas pada tingginya subsidi yang harus diberikan Pemerintah DKI Jakarta sehingga ditolak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah(DPRD).
Sekretaris Perusahaan PT MRT Jakarta, Muhammad Kamaluddin, mengatakan biaya operasional dan pera-watan sarana MRT mencapai Rp491 miliar per tahun dan biaya operasi sebesar Rp192 miliar per tahun. Biaya itu untuk merawat lintasan MRT sepanjang 15,7 km dari Lebak Bulus sampai Bundaran Hotel Indonesia (HI).
Dalam rapat pembahasan tarif MRT dan LRT yang digelar DPRD-Pemprov DKI pada Rabu (6/3), tarif yang diajukan PT MRT Jakarta sebesar Rp34.100 per penumpang untuk sekali jalan. Untuk itu, PT MRT mengajukan subsidi Rp21.659 per penumpang agar tarif turun menjadi Rp12.441.
Kamaludin mengatakan, tarif tersebut merupakan sesuatu yang wajar karena adanya biaya perawatan, penggantian aset jangka panjang dan biaya operasional yang juga cukup tinggi tersebut.
"Hanya keperluan biaya tersebut yang membuat mahal. Jika mengenai return of investment (ROI) tidak menjadi sebuah masalah," ujar Kamaludin.
Baca juga: Subsidi Tarif MRT Rp21.659 per Penumpang
Menanggapi penolakan DPRD tersebut, Kamaludin mengatakan, pihaknya akan melakukan pengkajian ulang mengenai pengajuan tarif MRT. "Kami akan merancang dengan penggunaan transportasi bagi ekonomi masyarakat sehingga moda tersebut dapat memenuhi target penumpang," katanya.
Dalam rapat tersebut, Santoso mengkritik subsidi yang harus dikeluarkan Pemerintah DKI Jakarta yang mencapai Rp672 miliar untuk MRT terlampau besar.
"Subsidi yang di ajukan sangat signifikan dan subsidi yang pemerintah (DKI) berikan tidak tahu menyasar kepada siapa, apakah untuk warga Jakarta atau untuk masyarakat umum yang dari luar Jakarta. Padahal, pajaknya berasal dari warga Jakarta," tanyanya.
Selain menolak subsidi untuk MRT, DPRD juga menolak usulan subsidi untuk PT Light Rail Transit (LRT) Jakarta. Alasannya sama, subsidi yang dikeluarkan pemprov terlampau besar.
Dalam rapat itu, PT Light Rail Transit (LRT) Jakarta mengajukan usulan tarif sebesar Rp41.655 per penumpang. Dengan pengajuan subsidi Rp35.655, tiap penumpang hanya dikenai ongkos Rp6.000. "Untuk LRT, subsidi yang diminta sebesar Rp327 Miliar," imbuh Santoso. (*/J-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved