Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Kota (Pemkot) Depok mengakui pengelolaan sampah di tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Cipayung belum maksimal. Hal itu karena gundukan sampah di TPA Cipayung mencapai ketinggian 23 meter. Padahal, batas ketinggian tumpukan sampah adalah 20 meter.
Pihak Pemkot juga mengakui persentase warga yang terlibat pemilahan kurang. Pada 2017, sebanyak 20% warga ikut peduli memilah sampah, sedangkan pada 2018 turun 3% menjadi 17%. Hal itu karena masyarakat enggan melakukan pemilihan sampah di sumber.
Sekretaris Dinas Kebersihan Kota Depok Mochamad Ridwan membeberkan bahwa ada beberapa kendala yang menyebabkan pengolahan sampah belum maksimal. Dia mencontohkan, pengolahan dengan metode sanitary landfil masih terkendala dengan tanah uruk. Oleh sebab itu, sampah yang dibuang ke TPA Cipyaung kini hanya ditumpuk.
“Gunungan sampah di TPA Cipayung sudah 23 meter, artinya sudah melewati batas ketinggian maksimal 20 meter,“ ungkap Ridwan kepada Media Indonesia, Senin (4/3).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan konsultan independen di TPA Cipayung pada awal 2019, indeks risiko TPA sebesar 455. "Kalau sudah mencapai 601-1.000 sudah harus ditutup. Karena risikonya makin besar dan bahaya jika dilanjutkan," papar Ridwan.
Namun, menurut Ridwan, saat ini Kota Depok masih punya napas setidaknya sampai satu tahun ke depan. TPA Cipayung masih bisa digunakan.
"TPA Nambo 2020 baru bisa digunakan. Kami sudah beli dan juga sewa truk sampah ke Pemprov DKI Jakarta untuk nantinya membawa sampah ke Nambo. Kami juga belanja alat berat pada tahun ini untuk turunkan gundukan sampah di TPA. Kami maksimalkan TPA sambil menunggu Nambo bisa dioperasikan," tuturnya.
Ridwan juga membeberkan pemilahan sampah yang melibatkan masyarakat. Masyarakat Kota Depok, diakuinya belum masif melakukan pemilahan. Hal ini terbukti dari persentase warga yang terlibat pemilahan. Pada 2017, sebanyak 20% warga ikut memilah sampah, sedangkan pada 2018 menjadi 17%.
Kepala Bidang Kebersihan Dinas LHK Kota Depok Iyai Gumilar menuturkan, pada tahun ini akan dilakukan kajian mengolah sampah dengan metode landfill mining.
"Baru kajiannya saja. Belum realisasinya. Bentuknya nanti naskah akademik untuk kami pelajari kedepannya untuk pelaksanaan landfill mining ini," ujar Gumilar.
Kajian rencana revitalisasi ini akan dilihat dari sisi budaya, ekonomi, dan lingkungan sekitar TPA Cipayung. Nantinya, menurut Kasi TPA Cipayung Ardan, setelah selesai dikaji mulai dilakukan pembangunan fisik sesuai hasil kajian revitalisasi yang direncanakan menggunakan metode landfill mining.
"Untuk kajian revitalisasi ini dianggarkan Pemerintah Kota Depok sebesar Rp450 juta, pelaksanaan kajian dengan cara lelang," ungkap Ardan.
Rencana revitalisasi merupakan program Depok Zero Waste. Landfill mining atau menambangkan sampah, tambah Gumilar bertujuan untuk mengurangi sampah yang sudah tertimbun pada zona landfill.
“Landfill mining dapat mereduksi sampah yang sudah ditimbun yang dapat meningkatkan kapasitas penimbunan sampah di zona,“ tutur Gumilar. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved