Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Anies Minta Fasilitas Pengolahan Sampah Sunter Rampung Lebih Cepat

Haufan Hasyim Salengke
20/12/2018 20:45
Anies Minta Fasilitas Pengolahan Sampah Sunter Rampung Lebih Cepat
(MI/Haufan Hasyim Salengke )

PROYEK pembangunan fasilitas pengelohan sampah berstandar internasional intermediate treatment facility (lTF) Sunter milik Pemprov DKI Jakarta diproyeksikan selesai pada 2021. Namun, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menginginkan proyek itu selesai lebih cepat.

Pasalnya, pada tahun 2021, Tempat Pembuangan Sampah terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, tempat DKI membuang sampah warganya selama ini, diprediksi penuh dan tidak bisa menerima sampah lagi.

"Proyek (ITF Sunter) ini direncanakan selesai dalam tiga tahun. Tapi tadi saya meminta lebih cepat agar dikebut supaya lebih awal karena kita punya deadline 2021," ujar Anies saat melakukan peletakkan batu pertama (groundbreaking) dimulainya pembangunan lTF Sunter, Kamis (20/12).

Fasilitas itu diharapkan bisa beroperasi lebih dari 25 tahun dan bisa mengolah sampah dari semua wilayah di Jakarta. Menurut catatan Pemprov DKI Jakarta, pada 2018, sampah yang tertampung di TPST Bantargebang, Bekasi, sudah menembus 80% dari kapasitas maksimumnya. Dalam tiga tahun, sampah yang masuk TPST itu diprediksi melebihi kapasitas.

ITF Sunter akan menjadi solusi bagi permasalahan sampah di Ibu Kota. Anies menegaskan akan membagun fasilitas serupa di semua wilayah Jakarta. Pembangunan juga tidak perlu menunggu ITF Sunter rampung.

"Sehingga sampah-sampah di Jakarta tidak harus dikirim ke luar (Jakarta)," tandas Gubernur.

Yang tidak kalah penting, kata Anies, ITF Sunter akan dioperasikan dengan standar lingkungan hidup yang sangat tinggi. ITF itu dibangun dengan seluruh standar ramah lingkungan mengikuti ketentuan di Uni Eropa yang dipakai oleh Fortum, perusahaan negara Finlandia, yang menjadi mitra Jakpro dalam membangun ITF Sunter.

Ia melanjutkan, ITF bukan hanya tempat pengolahan sampah melainkan fasilitas yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar dan Jakarta secara luas. Karena rancangan bangunannya bisa didatangi dan dilihat sebagai tempat pendidikan bagi warga.

Teknologi yang digunakan di ITF bisa mengonversi energi panas menjadi energi listrik. Daya listrik yang dihasilkan bisa mencapai 35 megawatt per hari.

"Dan residu-residunya semua bisa dipakai kembali baik yang berbentuk debu, metal, maupun ada yang bisa digunakan untuk tanaman. Jadi pemanfaatannya akan sangat maksimal," terang Anies.

Anies menyebut peletakan batu pertama ITF Sunter sebagai sejarah dan babak baru bagi Jakarta. Pasalnya, fasilitas itu bukan hanya pertama di Jakarta, melainkan juga di Indonesia.

Kapasitas ITF Sunter bisa mengolah seperempat produksi sampah di Jakarta yaitu 2.200 ton per hari. Di Jakarta, produksi sampah rata-rata 7.000 ton hingga 8.000 ton per harinya.

"Ke depan yang kita inginkan adalah seluruh sampah itu diolah, bukan ditimbun seperti di Bantargebang. Itu pesan utamanya. Listrik yang dihasilkan ITF nanti dijual ke PLN," tandas Anies. (A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya