Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Penerapan Ganjil-Genap belum Optimal Kurangi Emisi CO2

Yanurisa Ananta
09/7/2018 16:30
Penerapan Ganjil-Genap belum Optimal Kurangi Emisi CO2
(ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

KEBIJAKAN ganjil-genap sudah beberapa tahun diterapkan. Menjelang Asian Games 2018 waktu dan titik lokasi yang berlaku ganjil genap bahkan ditambah.

Namun, kebijakan itu dinyatakan Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) belum optimal mengurangi jumlah karbon dioksida (CO2). Penurunan penggunaan kendaraan, yakni motor, mobil penumpang, bus, dan truk Jakarta baru mencapai 28,56% per hari atau 13 ribu kendaraan.

Direktur KPBB Ahmad Safrudin mengatakan, efek kebijakan nomor pelat ganjil-genap terhadap emisi CO2 baru signifikan bila ada pengurangan jumlah kendaraan hingga 50%. Dengan begitu, sebanyak 22 ribu ton emisi bisa dikurangi dalam sehari dan 8,31 juta ton emisi CO2 bisa ditekan dalam setahun. Kondisi ini disebut ideal.

“Namun saat ini baru efektif dengan rata-rata 28,56% penurunan jumlah kendaraan. Artinya, baru 4,75 juta ton CO2 yang berkurang per tahun,” kata Ahmad kepada Media Indonesia, beberapa waktu lalu. (Baca juga : Kualitas Udara Jakarta Mengkhawatirkan Jelang Asian Games 2018).

Ahmad menambahkan, secara objektif ganjil-genap masih bisa diharapkan bisa menekan emisi CO2 hingga 46,79% atau 7,77 juta ton per tahun. Hal itu dengan syarat Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI bisa melakukan penegakan hukum secara tegas dan konsisten. Juga mampu meningkatkan kesadaran pengguna kendaraan motor untuk menggunakan transportasi publik.

“Seharusnya bukan hanya dari ganjil-genap. Tapi juga harus ada uji emisi, penggunaan bahan bakar gas, sampai industri,” imbuhnya. (A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya