Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Tawuran saat SOTR Disebabkan Kurang Pemahaman Agama

Tosiani
05/6/2018 08:40
Tawuran saat SOTR Disebabkan Kurang Pemahaman Agama
(Ilustrasi)

TAWURAN antarremaja pada saat sahur on the road di Jakarta pada Minggu (3/6) Dini Hari lalu menandakan pemahaman agama dan kemampuan pengendalian diru sangat kurang.

Demikian disampaikan Sosiolog Kriminalitas Universitas Gajah Mada (UGM) Soeprapto, saat dihubungi Media Indonesia, Selasa (5/6).

Soeprapto mengatakan, sahur di pagi hari maupun buka puasa di petang hari, seharusnya merupakan saat umat beragama bersujud pada Tuhan. Selesai sahur ada kewajiban umat muslim untuk berinteraksi dengan Tuhan melalui sholat subuh, dan di saat buka puasa juga ada kewajiban sholat magrib.

"Dua waktu penting itu harusnya dilakukan umat muslim untuk melakukan hal-hal yang bisa mendekatkan kita dengan Tuhan, dan mendekatkan dengan sesama manusia, bukannya sebaliknya menciptakan konflik dan permusuhan,"ujar Soeprapto.

Tawuran antar remaja pada waktu itu, katanya, menandakan bahwa mereka tidak memahami betul makna bangun pagi untuk sahur, dan berpuasa. Harusnya difahami dengan berpuasa dapat merasakan lapar dan haus, sehingga bisa berempati kepada orang yang lapar. Lalu ditindaklanjuti dengan sodakoh, zakat, dan aneka bentuk empati lainnya pada orang lapar dan haus.

"Puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tapi juga menahan amarah, menghindari ngomongin kejelekan orang lain. Mereka justru tawuran karena bekal pemahaman tentang makna sahur, puasa, dan buka puasa sangat minim.

Mereka tidak memiliki kemampuan mengendalikan diri dengan baik, EQ nya rendah,"ujar Soeprapto.

Ia menyarankan dua solusi mengatasi itu, yakni internal dan eksternal. Lingkup internal dari keluarga. Mestinya keluarga memberi bekal budaya, nilai, dan norma yg memadai sesuai usia. Keluarga juga harus mampu menjadi pengontrol perilaku anak. Serta jangab berlebihan dalam memfasilitasi anak.

Lingkup eksternal, adalah solusi dari masyarakat dan Instansi Pemerintah terkait. Pihak eksternal ini, kata dia, harus berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas kontrol terhadap perilaku remaja di saat-saat rawan. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya