Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Menakar Ketegasan Aparat Membongkar Pabrik Narkoba

Sri Utami
17/12/2017 19:27
Menakar Ketegasan Aparat Membongkar Pabrik Narkoba
(MI/ARYA MANGGALA)

UPAYA pemberatasan narkotika dan obat-obatan terlarang tidak hanya menjadi tugas aparat yang diberi kewenangan untuk bertindak tegas, tapi menjadi tanggung jawab semua warga negara. Hal itu tersebut telah diintruksikan oleh presiden Joko Widodo beberapa waktu terkait dengan semakin meningkat korban dan masuknya berbagai jenis narkotika ke Indonesia.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso menegaskan intruksi memerangi peredaran narkotika harus dilakukan di semua lini serta menjadi tanggung jawab semua warga negara. Budi yang memimpin penggerebekan pabrik pembuatan narkotika di kawasan Tubagus Angke, Jakarta Barat juga mengatakan, bahan dasar narkotika yakni prekursor dan puluhan botol narkoba cair ditemukan di tempat yang juga dijadikan diskotek bagi kalangan menengah ke bawah tersebut.

"Peredaran narkotika sudah sangat menghawatirkan jadi tidak salah jika posisi kita saat ini sudah darurat. Darurat narkotika. Kami terus mengejar pelakunya," ujarnya

Diskotek MG di jalan Tubagus Angke, Jakarta Barat digerebek oleh tim gabungan BNN dan polri sekitar pukul 02.30 Wib tadi pagi. Diskotek tersebut memiliki dua laboratorium pembuatan sabu dan ektasi dalam jumlah yang cukup besar.

Diduga peredaran narkotika di tempat tersebut sudah berlangsung lama serta pendistribusian yang sudah menyebar di banyak tempat. Kepala BNNP DKI Jakarta Brigjen Jonny Latuperissa mengungkapkan aparat menemukan ratusan botol bekas narkotika cair.

"Yang belum dipakai ada sekitar 80 botol yang sudah dipakai itu banyak sekali. Kami temukan itu d lanta dua. Sistemnya jika ada yang pesan baru diambil," ungkapnya

Cairan narkotika sabu dan ektasi terebut lanjut Jonny dikemas dalam botol air mineral dan dijual senilai Rp400 ribu untuk dikonsumsi oleh empat orang. Dari penggerebekan itu aparat melakukan pemeriksanaan urin ratusan pengunjung diskotek MG. Hasilnya 120 pengunjung positif konsumsi narkotika.

"Aparat juga sudah mengamankan lima orang pelaku yang tertangkap tangan mengedarkan sabu dan ektasi. Jadi tidak hanya barang bukti laboratorium yang ditemukan, juga pelaku dan pengguna narkotika di tempat itu," imbuhnya

Lima orang yang diduga pelaku,yakni Wastam (43), Ferdiansyah (23), Dedi Wahyudi (40), Mislah (45) dan Fadly (40) saat ini diperiksa intensif oleh penyidik. Selanjutnya aparat akan mengejar pemasok prekursor di tempat itu. Deputi Penindakan BNN Irjen Pol Arman Depari menuturkan dari lima pelaku satu orang pelaku Rudy diduga menjadi pemilik dan operator dua laboratorium tersebut.

"Penemuan ini terus dikembangkan. Satu orang yang diduga pemilik masih dalam pengejaran," tuturnya.

Sementara itu menurut Ketua Indonesia Narchotic Watch, Josmar Naibaho, diskotek itu hanya modus untuk mengelabui aparat atau masyarakat. Modus yang dilakukan oleh pengedar menurutnya terus berubah seiring dengan upaya aparat untuk membongkar bisnis besar tersebut.

"Ini hanya modus, hanya kedok dengan menjadikan tempat itu diskotek kelas ecek-ecek. Selama ini yang diketahui pabrik berkedok toko," jelasnya

Selain harus mewaspadai bentuk baru peredaran narkotika, aparat harus berani membongkar dugaan keterlibatan aparat nakal yang mungkin ada di balik aktifitas ilegal tersebut.

"Harus berani membongkar dari mana bahan dasar itu didapatkan dan bagaimana bisa aktifitas pembuatan narkotika ini bisa berlangsung selama ini. Aparat harus berani membongkar itu," tegasnya

Dia juga menambahkan pemerintahan di kawasan itu harus aktif memantau setiap usaha yang ada di kawasannya. Hal tersebut menurutnya bisa diketahui jika didapatkan aktifitas yang tertutup.

"Aparat pemerintah setempat juga harus memantau jika suatu tempat usaha dijaga ketat sampai aparat tidak boleh masuk, itu harus dicurigai," tandasnya.

Di sisi lain salah satu warga yang bekerja di salah satu bengkel tidak jauh dari diskotek MG Tarno,41, mengaku tidak menaruh curiga dengan aktifitas tempat tersebut. Dirinya menduga peredaran narkotika di tempat itu semakin menjadi setelah aktifitas sex komersial kembali terjadi di kawasan Tubagus Angke.

"Yang saya tahu tempat itu diskotek, aktifitasnya tengah malam. Kalau ada narkotikanya saya rasa semua orang sudah tahu tempat begitu pasti ada saja. Dan sejak perempuan malam itu kembali ke sini mungkin jadi tambah ramai tempat itu," ungkapnya.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya