Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Provinsi DKI Jakarta akan menjalankan program revolusi putih usulan Prabowo Subianto pada 2018 mendatang. Melalui program ini, masyarakat akan menerima tambahan komoditas untuk subsidi pangan untuk susu dan ikan beku. Anggaran untuk subsidi pangan secara keseluruhan pun meningkat dari Rp190 miliar pada 2017 menjadi Rp885 miliar pada 2018.
"Betul ada susu sama ikan. Iya (revolusi putih)," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Darjamuni di Balaikota, kemarin.
Baik Darjamuni dan Asisten Sekretaris Daerah DKI Jakarta Bidang Perekonomian Franky Mangatas memastikan bahwa subsidi untuk susu dan ikan beku tersebut akan diberikan pada penerimanya mulai 2018 mendatang.
Hal ini diputuskan usai rapat bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno pada Rabu (22/11) di Balaikota. Sebelumnya, subsidi pangan hanya diberikan untuk komoditas daging sapi, daging ayam, dan telur. Selain menambah susu dan ikan beku, Pemprov DKI juga memperluas penerima subsidi. Selain pemegang kartu jakarta pintar (KJP), penghuni rumah susun sederhana sewa, serta pekerja penanganan sarana dan prasarana umum (PPSU), subsidi juga akan didapatkan oleh lansia, penyandang disabilitas, serta buruh yang berpenghasilan setara upah minimum provinsi (UMP).
Dengan adanya perluasan penerima dan penambahan komoditas yang disubsidi, anggaran subsidi pangan Pemprov DKI pun meningkat dari Rp190 miliar pada tahun 2017 menjadi Rp885 miliar pada 2018.
Kepala Biro Perekonomian Pemprov DKI Jakarta Sri Haryati menyatakan tidak mengetahui alasan mengapa susu turut dipilih sebagai komoditas yang disubsidi. Menurutnya hal itu ditentukan oleh Dinas KPKP. Namun, Darjamuni selaku Kepala Dinas KPKP tidak merespons saat dihubungi. Sri menuturkan untuk pengadaan susu dan ikan rencananya ditugaskan oleh PT Food Station Tjipinang Jaya selaku badan usaha milik daerah (BUMD).
Anggaran Rp885 miliar itu di dalam situs apbd.jakarta.go.id termasuk ke dalam belanja subsidi pangan. Dalam uraian rekeningnya, disebutkan untuk belanja subsidi kepada BUMD. Namun, tidak ada rincian dari anggaran tersebut.
Pengamat dari Center for Budget Analysis Uchok Sky Khadafi mengingatkan agar Pemprov DKI transparan dalam rincian anggaran untuk subsidin tersebut. Pasalnya, kenaikannya terbilang fantastis. Ia juga mempertanyakan urgensi dari subsidi susu, sebab sumber protein bisa didapat dari komoditas pangan lainnya seperti ikan dan telur.
"DPRD harus mempertanyakan rincian anggarannya itu, kalau tidak ada rinciannya itu seperti dana gelondongan saja," kata Ucok.
Ditanyai soal program "revolusi putih" ini, Sandiaga Uno tidak menjawab secara tegas. Ia hanya menjelaskan bahwa susu dan ikan merupakan bagian dari penyiapan protein bagi masyarakat. Ia menyebut usulan ini disampaikan oleh masyarakat.
"Itu dari bawah diusulkan, dan saya sepakat bahwa ini sebagai salah satu terobosan buat kita. Ditambah aja susu sama sebetulnya ikan itu sudah terpikirkan karena kita negara maritime kan. Langkah baiknya juga kebutuhan protein kita diberikan melalui frozen fish," ucap Sandiaga.
Usulan terkait program revolusi putih mulanya disampaikan oleh adik Prabowo, Hashim Djojohadikusumo saat berkunjung ke Balaikota DKI Jakarta pada Kamis (26/10) lalu. Saat itu, Hashim menyampaikan usulannya agar program revolusi putih ini bisa masuk ke APBD 2018.
"Ini perlu diajukan ke untuk dimasukkan ke dalam RAPBD tahun depan. Kan ini tahun fiskal berarti mulai 2018. Secepatnya," tutur Hashim usai bertemu Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Kamis (26/10).
Program revolusi putih digalang oleh Prabowo sejak 2009, ketika ia mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia bersama Megawati Soekarno Putri. Prabowo telah memulai gerakan ini di rumahnya di Bukit Hambalang, Kampung Gombong, Desa Bojongkoneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, yang juga terdapat lokasi peternakan kambing. Tujuannya, dengan menjadikan susu sebagai konsumsi harian anak Indonesia, diharapkan dapat melahirkan karakter bangsa yang sehat dan kuat. Ia berkaca pada India dan Cina, yang disebutnya telah melaksanakan program sejenis secara simultan.
Saat itu, Sandiaga menyebut usulan tersebut patut dikaji. Menteri Kesehatan Nila F Moeloek pun kala itu sempat angkat bicara terkait program yang diusung Prabowo ini. Jika diukur skala nasional, Nila menyebut jumlah sapi perah di Indonesia tidak akan mencukupi suplai susu untuk seluruh anak. Selain itu, konten gizi yang terangkum dalam susu juga bisa didapat dari makanan lain seperti ikan nila, ikan lele, ikan mujair, dan jenis ikan tawar lainnya. (MTVN/OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved