Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SAMBIL melambaikan tangannya, Djarot menaiki sebuah delman yang telah menantinya sejak pagi. Delman itu membawa Djarot meninggalkan halaman Balai Kota, menjadi penanda usai sudah masa abdinya. Sorak-sorai mengiringi.
Tiba juga akhir dari masa kepemimpinan tiga Gubernur DKI Jakarta pada 2012 hingga 2017. Dimulai Joko Widodo, dilanjutkan Basuki Tjahaja Purnama, dan kini diakhiri Djarot Saiful Hidayat.
Satu jam sebelumnya, lirik lagu Kapan-Kapan dari band lawas Koes Plus terdengar di Pendopo Balai Kota. Djarot turut bernyanyi. Tidak tanggung-tanggung, ia membawakan tiga lagu Koes Plus, diiringi band bernama Goes Plus. Sepuas ia bernyanyi, potret Djarot bersama para pembantunya di jajaran eksekutif Pemprov DKI pun diabadikan. Tidak lupa, pidato terakhir Djarot sebagai ‘Gubernur Jomlo’ di Balaikota.
“Saya memimpin Jakarta kurang lebih enam bulan, sebagai ‘Gubernur Jomlo’. Tapi saya tidak pernah merasa jomlo karena dilimpahi rasa cinta yang mendalam dari jajaran Pemprov DKI,” tutur Djarot disambut tawa hadirin.
Selama enam bulan menjadi gubernur, dan 1,5 tahun ia menjabat wakil gubernur, Djarot mengaku tidak pernah memasang raut cemberut. Sebabnya ia merasa bahagia.
“Kalau kalian lihat, saya hampir tidak pernah cemberut, ya, karena saya suka. Karena rasa suka itulah, beban pekerjaan seberat apa pun jadi terasa ringan,” ucap mantan Wali Kota Blitar ini.
Rasa bangga menyelimuti Djarot setelah apa yang ia lewati di Balai Kota. Mulai dari menghadapi problematik Jakarta, hingga dicecar para pewarta. Tidak lupa, Djarot menyampaikan pesan agar para pejabat di Pemprov DKI senantiasa mengabdi sebagai pelayan masyarakat dan mengesampingkan kepentingan pribadi.
Atas nama Jokowi dan Ahok, Djarot pun menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh jajaran Pemprov DKI. “Saya bangga terhadap kalian semua,” tambahnya.
Ia berharap masyarakat optimistis dan percaya kepada gubernur dan wakil gubernur selanjutnya, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.
“Tetap optimistis dan percaya kepada gubernur baru. Tapi tetap kawal proses pembangunan. Saya masih bersama dengan mereka, saya juga masih bersama dengan kalian,” ucapnya.
Lalu, apa yang akan dilakukan Djarot selepas tugasnya sebagai gubernur? “Saya akan rekreasi dulu, kalian enggak boleh ikut, saya mau ke Labuan Bajo. Ketua DPRD aja nggak boleh ikut,” cetusnya sambil berkelakar.
Ketika ditanyai apakah ia akan menghadiri prosesi serah terima jabatan dari Pelaksana Harian Gubernur DKI Jakarta Saefullah kepada Anies-Sandi, Djarot hanya menjawab, “Kita lihat besok.”
Seusai rangkaian perpisahan itu, Djarot dan delmannya lantas bergerak meninggalkan halaman Balai Kota. Sorak-sorai warga mengiringi. Sang istri, Happy Farida, tampak di sampingnya. Para pejabat utama, turut naik delman lain, mengantarnya.
Pawai sembilan delman yang melambangkan unsur pemerintahan, yakni eksekutif, legislatif, masyarakat, serta enam wilayah administratif di DKI Jakarta bergerak ke Gedung Joeang 45. dipilih sebagai simbol agar Djarot tidak berhenti berjuang.
Sekda DKI Saefullah pun mengaku memiliki kesan tersendiri seusai bekerja bersama Djarot, juga gubernur-gubernur sebelumnya, Jokowi dan Ahok. Ada pendidikan luar biasa yang ia akui didapatkan dirinya, juga jajaran satuan kerja perangkat daerah (SKPD) lainnya. (Nicky Aulia Widadio/J-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved