Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
JEMBATAN buntung, begitulah sebutan baru untuk jembatan penyeberangan orang (JPO) yang berada di Jalan Sudirman, persisnya di sisi barat pintu masuk Polda Metro Jaya.
Sesuai sebutan barunya, buntung, jembatan itu memang hanya tinggal setengahnya. Semula jembatan tersebut menjadi urat nadi lalu lalang masyarakat untuk menyeberang, baik dari arah Gelora Bung Karno maupun dari perkantoran Sudirman Central Business District (SCBD).
Pada jam-jam sibuk pagi dan sore hari, jembatan itu selalu disesaki penumpang angkutan umum, termasuk yang turun naik dari bus Trans-Jakarta. Sayangnya, sejak dua tahun lalu (November 2015) jembatan itu sudah terpotong setengah.
Bagi penumpang Trans-Jakarta memang tidak ada masalah karena jembatan masih tersambung hingga posisi tengah jalan, tempat halte berada. Namun, orang yang hendak menyeberang dari Gelora Bung Karno ke arah Polda Metro Jaya atau SCBD ataupun sebaliknya sangat terganggu karena JPO tinggal setengah.
Mereka harus memutar jauh jika hendak menggunakan JPO lainnya. Tidak mengherankan akhirnya banyak orang nekat menyeberang jalan dari bawah jembatan meski rawan diseruduk mobil.
Herman Wancoko, 37, misalnya, entah sudah berapa kali dia mempertaruhkan nyawanya menyeberang di ruas jalan sibuk tersebut. Setiap pagi Herman yang menggunakan bus dari Bekasi turun depan halte Polda Metro Jaya (Jalan Sudirman) untuk melanjutkan perjalanan ke arah Slipi, Jakarta Barat.
Dia nekat saja menyeberang di jalan protokol itu. Awalnya polisi menegur tindakannya itu. Lama-kelamaan semakin banyak orang menyeberang dari bawah jembatan sehingga polisi terpaksa membantu menyeberangkan.
“Polisi bingung kali, ya. Mau melarang, tapi enggak ada jembatan penyeberangan. Karena tidak ada pilihan, terpaksa dibiarkan bahkan dibantu menyeberangkan,” tutur Herman.
Sekalipun masih digunakan oleh calon penumpang Trans-Jakarta, jembatan buntung kian tidak terawat. Nina Ramsay, 59, harus berjalan pelan dan ekstra hati-hati menapaki jembatan. Lantai yang sudah bergelombang dan berbunyi membuatnya takut bila sewaktu-waktu ambles.
Sambil membawa dua tas yang digantungkan di bahunya, Nina meraba-raba lantai dengan kakinya. Tangan kirinya terus memegang terali besi jembatan. Nina butuh waktu 20 menit untuk bisa sampai di halte Trans-Jakarta.
“Saya takut terjeblos. Lantainya bunyi ngit, ngit, ngit, membuat mencekam. Jembatan itu tidak aman. Jadi saya selalu jalan pelan-pelan sambil pilih-pilih mana lantai yang tidak bunyi,” ujarnya, kemarin.
Sisa lantai jembatan pun sudah berwarna cokelat pekat berkarat dan keropos. Di bagian tiangnya banyak berjuntai kabel dan kotak sakelar listrik yang terbuka. Untuk yang mengarah ke halte, sebuah tangga yang tersambung JPO terlihat masih dalam kondisi baik. Namun, tangga itu disiapkan untuk para pekerja megaproyek moda raya terpadu (MRT). Di ujung jembatan berdiri pelang rambu permohonan maaf atas penutupan JPO. (Sri Utami/J-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved