Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SUDAHKAN Anda mengunjungi Kota Tua (Old Batavia) belakangan ini? Situs warisan yang sebelumnya tak atau kurang terawat itu kini telah berubah wajah secara drastis. Lebih indah dan bernilai.
Gedung-gedungnya kini tidak kumuh, kanalnya pun bersih tanpa sampah dan tidak bau lagi. Kondisi itu seolah meneguhkan bahwa Kota Tua telah mendapatkan kembali julukan masyhur masa lampau, yakni The Queen of the East atau Ratu dari Timur. Predikat tersebut diberikan para pelaut Eropa pada abad ke-16. Gedung dan bangunan cagar budaya serta kanal direvitalisasi. Taman-taman pun dipercantik. Sejumlah bangunan sudah selesai disegarkan, seperti kantor pos, Apotek Chung Hwa, gedung Jiwasraya, gedung Kerta Niaga, eks Galery Jeans, dan Rotterdam Loyd.
Kali Besar di kawasan itu pun dipoles. Meski belum selesai, keelokan kanal sudah terlihat. Airnya cukup bersih, nyaris tak terlihat sampah. Pada sisi kanan dan kirinya dibangun trotoar dan taman selebar hampir 10 meter.
Di beberapa sisi kanal terdapat pula semacam balkon berbentuk setengah lingkaran yang berfungsi sebagai tempat santai pengunjung. Ada pula Jembatan Budaya dan Jembatan Informasi. Jembatan itu menghubungkan antara Kali Besar dan Museum Fatahillah untuk memudahkan aktivitas warga berwisata di sana.
“Sekarang memang beda banget. Kalinya bersih,” ujar Yadi, 35, warga Jembatan Dua, Jakarta Barat, saat dijumpai di lokasi. “Wisata ke sini kan enak, cuma keluar uang buat parkir motor aja. Enggak perlu bayar tiket masuk, paling kalau masuk museum. Mau datang siang atau malam juga enak.”
Menurutnya, keberadaan Kota Tua sangat dibutuhkan masyarakat sebagai salah satu tempat berwisata. Selain sarat nilai edukasi, tempat itu dapat disebut sebagai sarana rekreasi murah. Kepala Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua Norviadi Husodo mengatakan revitalisasi Kali Besar dalam rangka mempercantik kawasan wisata Kota Tua berdasarkan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 101 Tahun 2016.
Menurut Norviadi, revitalisasi Kali Besar ini terinspirasi Sungai Cheonggyecheon di Kota Seoul, Korea Selatan. Tahap awal, revitalisasi Kali
Besar dilaksanakan sepanjang sekitar 700 meter hingga Jembatan Kota Intan.
Berdasarkan sejarah dan fungsinya, kanal-kanal di Kota Tua saat masa pemerintahan Hindia Belanda sengaja dibuat sebagai jalur pelayaran kapal kecil. Saat itu, Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi jalur pelayaran terpadat se-Asia Tenggara. Belanda menjadikan kanal-kanal sebagai jalur kapal kecil yang mengangkut barang-barang hasil perkebunan dari wilayah selatan Batavia--saat ini kawasan Monas dan Menteng--menuju Pelabuhan Sunda Kelapa.
“Seperti Kali Besar dahulu memang sebagai jalur pelayaran kapal kecil. Kebetulan Pelabuhan Sunda Kelapa sebagai pelabuhan induk jalur transportasi dari Batavia,” jelas sejarawan Restu Gunawan. (Deni Aryanto/X-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved