Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Mengenal Gohyong: Sejarah, Asal-Usul, dan Resep Viral ala Cikini

Irvan Sihombing
22/12/2025 20:00
Mengenal Gohyong: Sejarah, Asal-Usul, dan Resep Viral ala Cikini
Ilustrasi(Antara)

Apa Itu Gohyong?

Belakangan ini, lini masa media sosial dipenuhi dengan antrean panjang pemburu kuliner kaki lima di kawasan Jakarta Pusat. Kuliner yang dimaksud adalah gohyong. Secara definisi, gohyong adalah makanan khas hasil akulturasi budaya Tionghoa dan lokal (Peranakan) yang terbuat dari adonan daging cincang yang dibungkus dengan kulit dadar atau kulit tahu, kemudian digoreng hingga kering. Cita rasanya yang gurih dengan tekstur luar yang renyah dan bagian dalam yang lembut membuat kudapan ini digemari banyak kalangan.

Meskipun baru viral belakangan ini, gohyong sejatinya bukan makanan baru. Di kalangan masyarakat keturunan Tionghoa, makanan ini lebih dikenal dengan sebutan ngohiong atau ngo-hiang. Nama ini merujuk pada bumbu khas yang digunakan di dalamnya, yaitu bubuk lima rempah (five-spice powder). Bumbu ini terdiri dari perpaduan bunga lawang, cengkeh, kayu manis, andaliman (szechuan pepper), dan biji adas. Aroma rempah inilah yang menjadi ciri khas utama yang membedakan gohyong dengan olahan daging goreng lainnya seperti kekian atau hekeng.

Sejarah dan Asal-Usul Gohyong

Menelusuri jejak sejarahnya, gohyong berasal dari wilayah Fujian, Tiongkok. Awalnya, hidangan ini dibawa oleh para imigran Tionghoa ke berbagai negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Dalam versi aslinya, ngohiong atau lor bak (dalam dialek Hokkian) umumnya menggunakan daging babi yang dicincang kasar, dicampur dengan udang, bengkuang, dan bumbu lima rempah, lalu dibungkus dengan kulit tahu sebelum digoreng.

Namun, seiring dengan proses asimilasi budaya di Indonesia, resep gohyong mengalami penyesuaian. Di Indonesia, khususnya yang dijual oleh pedagang kaki lima yang kini viral, gohyong telah dimodifikasi menjadi makanan halal. Bahan utamanya diganti menggunakan campuran daging ayam dan udang, atau bahkan daging sapi. Selain itu, jika versi tradisional menggunakan kulit tahu, gohyong versi 'kaki lima' atau yang populer disebut 'Gohyong Cikini' seringkali menggunakan kulit dadar cair yang terbuat dari tepung terigu, memberikan tekstur yang sedikit berbeda namun tetap lezat.

Perbedaan Gohyong Tradisional dan Gohyong Viral

Penting untuk memahami bahwa terdapat sedikit perbedaan antara ngohiong yang biasa ditemukan di restoran chinese food dengan gohyong viral yang dijual di pinggir jalan. Berikut adalah perbedaannya:

  • Pembungkus: Ngohiong tradisional umumnya menggunakan kulit tahu (kembang tahu) yang tipis dan renyah. Sedangkan gohyong viral sering menggunakan kulit dadar buatan sendiri dari adonan tepung dan telur.
  • Tekstur: Ngohiong tradisional cenderung lebih padat daging. Sementara gohyong viral biasanya memiliki campuran tepung tapioka yang lebih banyak untuk mendapatkan tekstur kenyal dan volume yang lebih besar (ekonomis).
  • Penyajian: Gohyong viral di Jakarta disajikan dengan siraman kuah saus mentega atau saus cuko yang asam manis pedas, serta potongan cabai rawit hijau, mirip dengan penyajian pempek.

Resep Gohyong Ayam Udang (Versi Viral Halal)

Bagi Anda yang ingin mencoba membuatnya di rumah tanpa harus mengantre berjam-jam, berikut adalah panduan lengkap membuat gohyong ayam udang yang renyah di luar dan juicy di dalam.

Bahan-bahan Kulit

  • 200 gram tepung terigu protein sedang
  • 3 sendok makan tepung tapioka
  • 1 butir telur ayam
  • 500 ml air
  • 3 sendok makan minyak goreng
  • 1/2 sendok teh garam

Bahan Isian (Adonan Daging)

  • 300 gram daging ayam paha (giling kasar/cincang)
  • 150 gram udang kupas (cincang kasar)
  • 100 gram bakso sapi (potong dadu kecil)
  • 2 batang daun bawang (iris halus)
  • 3 siung bawang putih (haluskan)
  • 5 sendok makan tepung tapioka
  • 1 butir telur
  • 1 sendok makan bubuk ngohiong (Wajib ada)
  • 1 sendok teh garam
  • 1 sendok teh gula pasir
  • 1/2 sendok teh merica bubuk
  • 1 sendok teh kaldu jamur
  • Sedikit air es (jika adonan terlalu padat)

Bahan Kuah Siram

  • 500 ml air
  • 100 gram gula merah (sisir)
  • 2 sendok makan kecap manis
  • 1 sendok teh garam
  • 3 siung bawang putih (haluskan)
  • 10 buah cabai rawit hijau (iris, untuk taburan)
  • 1 sendok makan air asam jawa atau cuka makan

Cara Membuat Langkah demi Langkah

  1. Membuat Kulit: Campurkan semua bahan kulit (terigu, tapioka, telur, air, minyak, garam) dalam satu wadah. Aduk rata menggunakan whisk hingga tidak ada yang bergerindil. Saring adonan. Panaskan wajan anti lengket, tuang satu sendok sayur adonan, ratakan hingga menjadi dadar tipis. Lakukan hingga adonan habis. Sisihkan.
  2. Membuat Isian: Dalam wadah besar, campurkan ayam cincang, udang, dan bakso. Masukkan bawang putih, daun bawang, telur, dan semua bumbu (garam, gula, merica, kaldu, dan bubuk ngohiong). Aduk rata. Masukkan tepung tapioka perlahan sambil diaduk. Pastikan adonan menyatu namun tidak terlalu keras.
  3. Membungkus: Ambil selembar kulit dadar yang sudah dibuat. Letakkan adonan isian secukupnya di bagian tengah memanjang. Gulung kulit hingga menutup adonan dengan rapat. Rekatkan ujungnya dengan sedikit larutan tepung atau sisa adonan.
  4. Mengukus (Opsional): Agar hasil lebih matang sempurna dan bisa disimpan (frozen food), Anda bisa mengukus gulungan gohyong selama 15-20 menit. Setelah matang, dinginkan. Jika ingin langsung digoreng tanpa kukus juga bisa, namun pastikan api tidak terlalu besar agar matang sampai dalam.
  5. Menggoreng: Potong-potong gulungan gohyong secara serong setebal 2-3 cm. Panaskan minyak yang banyak. Goreng potongan gohyong hingga berwarna kuning keemasan dan kulitnya menjadi krispi. Angkat dan tiriskan.
  6. Membuat Kuah: Rebus air bersama gula merah, bawang putih, garam, dan kecap manis hingga mendidih. Masukkan air asam jawa/cuka. Koreksi rasa (harus ada keseimbangan manis dan asam). Saring kuah.

Sajikan gohyong yang masih hangat di piring, lalu siram dengan kuah cuko dan taburi dengan irisan cabai rawit hijau. Perpaduan tekstur renyah dari kulit, aroma rempah ngohiong yang kuat, serta kuah yang segar menjadikan hidangan ini sangat istimewa.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya