Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
INDUSTRI kuliner Jepang di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan signifikan. Setelah gelombang restoran udon dan sushi yang lebih dulu populer, kini ramen kembali menjadi salah satu kategori yang mengalami lonjakan minat, terutama pada konsep ramen dengan kuah lebih ringan dan ramah bagi konsumen.
Menurut General Manager of Operations PT Sriboga Matahari Nusantara, Andrias Chandra, perkembangan ini dipicu oleh semakin terbukanya masyarakat Indonesia terhadap cita rasa Jepang.
“Kompetisinya besar, tapi itu artinya demand juga besar. Masyarakat Indonesia cocok dengan masakan Jepang,” ujarnya dalam pembukaan Zundo-ya Gandaria City (27/11).
Salah satu tantangan terbesar dalam membawa ramen Jepang ke Indonesia adalah perbedaan karakter rasa, terutama tingkat keasinan serta intensitas kaldu. Chef Zundo-ya, Masanao Takeda, yang terlibat dalam pengembangan resep, menjelaskan bahwa ramen tradisional Jepang kerap dinilai kurang kuat oleh lidah Indonesia, sementara beberapa varian justru dianggap terlalu asin.
Karena itu, proses pengembangan resep melibatkan banyak tahapan testing untuk menemukan titik keseimbangan. “Kami menyeimbangkan antara asin khas Jepang dan preferensi masyarakat Indonesia. Yang penting otentiknya tetap ada,” ujar Andrias.
Ramen Zundo-ya yang hadir di Indonesia kini turut memperkenalkan karakter kuah yang lebih silky dan smooth, berbeda dari tren ramen berat yang sebelumnya mendominasi pasar. Pendekatan ini memungkinkan konsumen menikmati ramen lebih sering tanpa merasa cepat enek.
Meski banyak restoran Jepang mengandalkan bahan impor, Andrias menegaskan bahwa keaslian ramen tidak semata-mata ditentukan oleh bahan dari luar negeri, melainkan oleh teknik memasaknya. Di Jepang, ramen memiliki tiga komponen utama:
Kombinasi ketiganya menciptakan rasa yang kompleks. Di Indonesia, seluruh bahan dasar sebenarnya dapat diperoleh secara lokal, sementara teknik memasaknya tetap mengikuti standar Jepang.
Beberapa restoran bahkan mendatangkan peralatan khusus, misalnya pot berukuran besar untuk proses simmering kaldu, yang menjadi ciri khas ramen autentik.
Andrias melihat pasar ramen di Indonesia masih sangat menjanjikan, meski kompetisinya semakin padat. Pertumbuhan kelas menengah memberikan peluang besar bagi restoran Jepang untuk memperluas segmennya.
“Selama ekonomi makro Indonesia kuat, bisnis F&B akan ikut tumbuh. Masyarakat kita semakin sering mencari pengalaman kuliner baru,” katanya.
Di sisi lain, sertifikasi halal kini menjadi faktor penting untuk menjangkau lebih banyak konsumen. Sejumlah brand ramen Jepang mulai menyesuaikan resep dan proses dapur agar memenuhi standar halal di Indonesia, langkah yang dahulu dianggap rumit, namun kini menjadi kebutuhan utama. (Z-10)
Udon, Soba, dan Ramen, perbedaannya adalah bahan-bahannya.
SEBUAH studi di Jepang menunjukkan bahwa menyantap ramen tiga kali atau lebih dalam seminggu dapat meningkatkan risiko diabetes, hipertensi, bahkan kematian dini.
Penelitian Jepang ungkap bahaya makan ramen terlalu sering. Risiko diabetes, tekanan darah tinggi, dan kematian dini bisa meningkat.
Kini, dengan varian Rose dan Quattro Cheese, Samyang mengajak konsumen Indonesia untuk menjelajahi rasa yang lebih kaya, creamy, dan eksploratif.
RESTORAN ramen dan sushi asal Jepang kini masuk Jakarta Timur. RamenYA! X SushiYA pada Rabu (26/3) membuka gerai di Lippo Plaza Kramat Jati.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved