Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Kebiasaan Makan Ramen Terlalu Sering Bisa Berbahaya, Ini Jawaban Ilmiahnya

Margaretha Tiffany
11/11/2025 14:16
Kebiasaan Makan Ramen Terlalu Sering Bisa Berbahaya, Ini Jawaban Ilmiahnya
Ilustrasi(Freepik)

Ramen memang menjadi makanan penghibur bagi banyak orang, tetapi penelitian terbaru dari Jepang memberi peringatan serius. Terlalu sering menyantapnya bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Konsumsi ramen lebih dari tiga kali dalam seminggu dikaitkan dengan meningkatnya risiko diabetes, tekanan darah tinggi, bahkan kematian dini.

Penelitian ini dilakukan di Prefektur Yamagata, yang dikenal sebagai “kota ramen” di Jepang, oleh sejumlah universitas di wilayah timur laut. Sebanyak 6.700 peserta berusia 40 tahun ke atas dipantau selama empat setengah tahun.

Para peserta dikelompokkan berdasarkan frekuensi konsumsi ramen, mulai dari kurang dari sekali sebulan hingga lebih dari tiga kali dalam seminggu. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok yang paling sering makan ramen memiliki risiko kematian sekitar 1,5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang hanya makan satu hingga dua kali seminggu.

Menariknya, peserta yang sangat jarang makan ramen juga mencatat peningkatan risiko kematian, kemungkinan karena sudah memiliki penyakit kronis dan membatasi makanan asin sesuai anjuran dokter.

Faktor usia dan jenis kelamin turut berpengaruh. Pria muda yang gemar makan ramen cenderung memilih porsi besar dengan kandungan garam tinggi. Para peneliti mencatat sebagian besar asupan garam pria muda Jepang berasal dari mi. Asupan garam berlebih diketahui dapat meningkatkan risiko kanker lambung.

Kebiasaan menikmati ramen sambil mengonsumsi alkohol juga memperburuk dampaknya. Mereka yang makan ramen tiga kali atau lebih dalam seminggu dan sering minum alkohol menunjukkan peningkatan risiko kematian yang signifikan.

Pandangan Ahli Gizi

Ahli gizi senior dari Rumah Sakit Mount Elizabeth, Looi Bee Hong, menjelaskan hasil penelitian ini masih bersifat observasional. Ia menekankan perlunya penelitian lanjutan untuk memastikan beberapa pertanyaan:

Apakah ramen benar-benar menjadi penyebab utama, atau ada faktor gaya hidup lain yang turut berpengaruh, seperti pola makan, kebiasaan merokok, dan ukuran porsi?

Meski begitu, ia menegaskan terlalu sering mengonsumsi ramen, terutama jika kuahnya dihabiskan, dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan kanker lambung akibat kadar garam yang tinggi.

Ahli gizi Jaclyn Reutens dari Aptima Nutrition & Sports Consultants menambahkan, seiring bertambahnya usia, fungsi organ tubuh menurun dan risiko penyakit gaya hidup meningkat. Ia menyarankan agar konsumsi ramen dibatasi satu hingga dua kali dalam sebulan.

Kandungan dan Pilihan yang Lebih Sehat

Satu mangkuk ramen tonkotsu khas Jepang dapat mengandung 900–1.200 kalori, dengan 50–60 gram lemak serta 2.000–3.000 miligram garam, jumlah yang sudah mendekati atau bahkan melebihi batas harian yang disarankan.

Reutens menyarankan agar kuah ramen tidak dihabiskan untuk mengurangi asupan garam. Ia juga merekomendasikan pilihan mi soba atau udon yang lebih tinggi serat dan lebih rendah lemak.

Topping seperti ayam panggang, tahu, telur rebus, atau makanan laut bisa menjadi pilihan yang lebih sehat dibandingkan daging babi panggang. Menambahkan sayuran seperti bayam atau tauge juga membantu menyeimbangkan gizi dalam semangkuk ramen.

Ramen tetap bisa dinikmati sesekali, asalkan porsinya wajar dan bahan pelengkapnya lebih sehat. Menjaga keseimbangan adalah kunci agar hidangan favorit ini tetap lezat tanpa mengorbankan kesehatan.

Sumber: CNA



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya