Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Belajar Mitigasi Krisis 72 Jam dari Buku Panduan Pemerintah Belanda

mediaindonesia.com
02/3/2026 16:33
Belajar Mitigasi Krisis 72 Jam dari Buku Panduan Pemerintah Belanda
Salah satu sudut Kota Den Haag, Belanda, Minggu (16/2/2020).(Antara)

Memasuki tahun 2026, kesadaran akan ketahanan sipil menjadi tren global yang dipelopori oleh negara-negara maju. Salah satu yang paling menonjol adalah langkah Pemerintah Belanda yang menerbitkan buku panduan bertahan hidup secara masif. Program bertajuk "Denk Vooruit" (Berpikir ke Depan) ini memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya mitigasi krisis 72 jam bagi setiap rumah tangga.

Mengapa Angka 72 Jam Sangat Krusial?

Dalam dunia manajemen darurat, 72 jam atau tiga hari pertama adalah periode transisi kritis. Pada periode ini, layanan darurat pemerintah seperti kepolisian, pemadam kebakaran, dan tim medis biasanya akan memprioritaskan penanganan pada infrastruktur vital dan penyelamatan massal. Dengan memiliki kesiapan mandiri selama 72 jam, warga secara tidak langsung membantu pemerintah untuk fokus pada area yang paling membutuhkan bantuan.

Elemen Kunci Mitigasi Versi Pemerintah Belanda:

  • Kemandirian Air: Menyiapkan stok air minum minimal 3 liter per orang per hari.
  • Informasi Tanpa Internet: Kewajiban memiliki radio bertenaga baterai untuk memantau instruksi pemerintah saat jaringan internet lumpuh.
  • Logistik Pangan: Stok makanan yang tahan lama (expired lama) dan tidak memerlukan banyak air atau energi untuk mengolahnya.
  • Keuangan Darurat: Menyimpan uang tunai dalam pecahan kecil untuk transaksi manual saat sistem perbankan digital offline.

Adaptasi untuk Konteks Indonesia

Meskipun Belanda fokus pada risiko kegagalan infrastruktur digital dan energi, prinsip ini sangat relevan bagi Indonesia yang memiliki risiko tinggi terhadap bencana alam. Konsep Tas Siaga Bencana (TSB) yang selama ini disosialisasikan oleh BNPB memiliki kesamaan fundamental dengan panduan Belanda tersebut.

Tabel Perbandingan Kesiapsiagaan

Kategori Panduan Belanda (Resiliensi Siber) Konteks Indonesia (Resiliensi Bencana)
Komunikasi Radio FM/AM baterai Radio, Peluit, dan Power Bank
Kebutuhan Air Stok galon tertutup Stok air & alat penjernih portable
Dokumen Salinan fisik ID Dokumen dalam plastik kedap air

People Also Ask: FAQ Mitigasi Krisis

Apa barang yang paling sering terlupakan dalam Tas Siaga?

Berdasarkan riset, banyak orang melupakan obat-obatan pribadi yang bersifat rutin dan pembuka kaleng manual. Selain itu, daftar kontak penting yang dicatat di kertas seringkali diabaikan karena terlalu bergantung pada memori ponsel.

Bagaimana cara menyimpan stok makanan agar tidak mubazir?

Gunakan sistem FIFO (First In, First Out). Konsumsi stok makanan darurat Anda sebagai bagian dari makanan harian secara berkala sebelum tanggal kedaluwarsa tiba, lalu ganti dengan stok yang baru.

Kesimpulan: Kesiapsiagaan adalah Bentuk Kepedulian

Langkah Pemerintah Belanda mengingatkan kita bahwa bencana atau krisis tidak memberikan peringatan sebelum datang. Dengan mengadopsi pola pikir "Denk Vooruit", kita tidak hanya menyelamatkan diri sendiri dan keluarga, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas nasional saat krisis benar-benar terjadi. Mulailah menyusun rencana darurat keluarga Anda hari ini, karena persiapan adalah separuh dari keselamatan.

Tips Redaksi: Simpan Tas Siaga Bencana Anda di tempat yang mudah dijangkau oleh seluruh anggota keluarga, seperti di dekat pintu utama atau di dalam kamar tidur utama.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya