Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Angka Penderita PCOS di Indonesia 2026 Melonjak, Mayoritas Usia Produktif

Media Indonesia
29/1/2026 14:50
Angka Penderita PCOS di Indonesia 2026 Melonjak, Mayoritas Usia Produktif
Ilustrasi(Dok Istimewa)

 

Jakarta, Media Indonesia – Tren gangguan hormonal Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) di Indonesia menunjukkan grafik yang mengkhawatirkan pada awal tahun 2026. Data terbaru mengindikasikan bahwa prevalensi PCOS kini tidak hanya menghantui wanita dewasa, tetapi juga mulai mendominasi kelompok remaja putri akibat gaya hidup sedenter dan pola makan tinggi gula.

Berdasarkan estimasi data demografi kesehatan reproduksi terbaru, prevalensi PCOS di Indonesia diperkirakan berkisar antara 5% hingga 10% dari total populasi wanita usia subur. Jika merujuk pada data BKKBN yang mencatat sekitar 46 juta Pasangan Usia Subur (PUS), maka secara kasar terdapat sekitar 2,3 hingga 4,6 juta wanita Indonesia yang hidup dengan kondisi ini. Angka ini menempatkan PCOS sebagai salah satu penyebab utama infertilitas (kemandulan) pada wanita di Tanah Air.

Fakta Data Terbaru 2026

Laporan medis dari berbagai rumah sakit rujukan nasional menunjukkan tren kenaikan kunjungan pasien dengan keluhan haid tidak teratur yang berujung pada diagnosis PCOS. Beberapa poin penting yang perlu dicatat meliputi:

  • Dominasi Usia Muda: Sekitar 50% kasus baru terdeteksi pada wanita usia 20-30 tahun.
  • Korelasi Obesitas: Lebih dari 60% penderita PCOS di Indonesia memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) di atas normal atau mengalami obesitas sentral.
  • Risiko Infertilitas: PCOS menyumbang angka signifikan terhadap kasus pasangan yang sulit mendapatkan keturunan, dengan gangguan ovulasi sebagai pemicu utama.

Penyebab dan "Silent Symptoms"

Para ahli dari Himpunan Endokrinologi Reproduksi dan Fertilitas Indonesia (HIFERI) menyoroti bahwa resistensi insulin menjadi biang kerok utama. Kondisi ini diperparah oleh konsumsi makanan olahan dan kurangnya aktivitas fisik.

"Banyak wanita tidak sadar mereka mengidap PCOS karena gejalanya sering dianggap biasa, seperti jerawat yang tak kunjung sembuh atau siklus haid yang mundur sedikit," ujar salah satu pakar fertilitas di Jakarta. Gejala klasik yang harus diwaspadai meliputi:

  • Siklus Haid Kacau: Kurang dari 8 kali setahun atau jarak antar haid lebih dari 35 hari.
  • Hiperandrogen: Tumbuh rambut berlebih di wajah (hirsutisme), kerontokan rambut kepala, dan jerawat parah.
  • Gambaran Polikistik: Terlihat banyak sel telur kecil yang tidak matang pada pemeriksaan USG.

Langkah Preventif: Jangan Tunggu Menikah

Salah satu kesalahan persepsi terbesar di masyarakat adalah baru memeriksakan diri saat sulit hamil setelah menikah. Dokter menyarankan agar remaja putri yang sudah mengalami haid tidak teratur selama lebih dari 2 tahun pasca-menarche (haid pertama) untuk segera melakukan skrining.

Penanganan dini melalui modifikasi gaya hidup—seperti diet rendah indeks glikemik dan olahraga rutin minimal 150 menit per minggu—terbukti dapat memperbaiki resistensi insulin dan mengembalikan siklus ovulasi tanpa ketergantungan obat jangka panjang.

Tags: PCOS, Kesehatan Reproduksi, Infertilitas, BKKBN, Kemenkes, Wanita Indonesia



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya