Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Diabetes tidak hanya disebabkan oleh konsumsi gula berlebih. Dalam sebuah seminar kesehatan di salah satu Rumah Sakit di Depok, Dr Herry Nursetiyanto dan Dr Kartika Soka Rahmita memaparkan bahwa kebiasaan harian yang dianggap sepele justru menjadi pemicu terbesar meningkatnya kasus diabetes di Indonesia.
Dr. Herry menjelaskan bahwa faktor genetik memang memiliki peran, tetapi pola hidup sehari-hari lebih menentukan peningkatan risiko diabetes.
Kebiasaan seperti kurang bergerak, pola makan tidak teratur, dan stres berulang membuat angka kasus diabetes melonjak. Banyak pasien baru menyadari kondisinya setelah memasuki fase diabetes atau ketika komplikasi sudah muncul.
Herry menegaskan bahwa kurang aktivitas fisik menjadi salah satu penyebab paling umum, terutama di kalangan usia muda. Ia mencontohkan kasus anak berusia 25 tahun yang sudah mengalami diabetes tipe 2 akibat aktivitas fisik yang rendah.
“Banyak di antaranya tinggal di asrama, enggak diawasi orang tuanya (pola makan) makan begitu saja, udah gitu aktivitas fisiknya sangat kurang,” jelasnya.
Menurut Herry, duduk terlalu lama dan tidak aktif bergerak dapat menurunkan sensitivitas insulin, hormon penting yang mengatur kadar gula darah.
Selain kurang gerak, kebiasaan melompati sarapan juga berkontribusi besar. Ketika tubuh tidak mendapat asupan pagi, rasa lapar meningkat di siang dan malam hari sehingga porsi makan menjadi lebih besar dan lonjakan gula darah sulit dihindari.
Kebiasaan ini mengacaukan pola makan harian dan meningkatkan risiko penumpukan kalori pada waktu tubuh sedang tidak aktif. Kondisi tersebut dapat memicu kenaikan berat badan dan gangguan metabolik.
Stres sering dianggap hal kecil, padahal memiliki dampak besar pada metabolisme tubuh. Herry menjelaskan bahwa stres yang terjadi terus-menerus dapat memperburuk pengendalian gula darah, terutama pada orang berisiko atau dalam kondisi pre-diabetes.
Menurutnya, stres bukan hanya soal tekanan emosi, tetapi kondisi mental yang menumpuk akibat pekerjaan, hubungan dengan atasan, masalah rumah tangga, hingga lingkungan sosial. Ia menggambarkan stres sebagai aspek yang perlahan menggerogoti kemampuan tubuh mempertahankan metabolisme yang stabil.
Stres kronis yang tidak dikelola dengan baik juga mengganggu kualitas hidup. Pasien sering menganggap kondisi stres yang dialaminya normal, padahal perlahan memengaruhi kestabilan gula darah.
Kebiasaan tidak memeriksakan diri secara rutin menjadi salah satu faktor paling berbahaya. Banyak pasien datang ke dokter dalam kondisi sudah parah dan mengalami komplikasi.
Herry menerangkan bahwa pre-diabetes merupakan fase awal yang sangat menentukan. Pada tahap ini, kadar gula darah belum masuk kategori diabetes, tetapi perubahan metabolik sudah terjadi. Sayangnya fase ini jarang terdeteksi karena tidak menunjukkan gejala jelas sehingga banyak orang merasa sehat.
SEBUAH studi di Jepang menunjukkan bahwa menyantap ramen tiga kali atau lebih dalam seminggu dapat meningkatkan risiko diabetes, hipertensi, bahkan kematian dini.
Penyebab diabetes bisa datang dari mana saja, bahkan hal-hal sederhana yang rutin dilakukan setiap hari seperti penggunaan gawai atau gadget.
Kesalahan umum lain yang sering dilakukan banyak orang adalah mengabaikan gejala awal diabetes. Tanda-tanda penyakit ini sering muncul perlahan dan dianggap remeh.
DI tengah kesibukan dan gaya hidup serba cepat, banyak orang tidak menyadari bahwa sejumlah kebiasaan kecil dalam keseharian dapat memicu munculnya diabetes.
Fenomena maraknya makanan dan minuman yang viral di media sosial seringkali memunculkan perasaan Fear of Missing Out (FOMO), terutama pada kalangan Gen Z.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved