Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Menguak Kebiasaan Sepele yang Ternyata Memicu Diabetes

Abi Rama
15/11/2025 17:31
Menguak Kebiasaan Sepele yang Ternyata Memicu Diabetes
Ilustrasi(Freepik)

Diabetes tidak hanya disebabkan oleh konsumsi gula berlebih. Dalam sebuah seminar kesehatan di salah satu Rumah Sakit di Depok, Dr Herry Nursetiyanto dan Dr Kartika Soka Rahmita memaparkan bahwa kebiasaan harian yang dianggap sepele justru menjadi pemicu terbesar meningkatnya kasus diabetes di Indonesia.

Dr. Herry menjelaskan bahwa faktor genetik memang memiliki peran, tetapi pola hidup sehari-hari lebih menentukan peningkatan risiko diabetes. 

Kebiasaan seperti kurang bergerak, pola makan tidak teratur, dan stres berulang membuat angka kasus diabetes melonjak. Banyak pasien baru menyadari kondisinya setelah memasuki fase diabetes atau ketika komplikasi sudah muncul.

Herry menegaskan bahwa kurang aktivitas fisik menjadi salah satu penyebab paling umum, terutama di kalangan usia muda. Ia mencontohkan kasus anak berusia 25 tahun yang sudah mengalami diabetes tipe 2 akibat aktivitas fisik yang rendah.

“Banyak di antaranya tinggal di asrama, enggak diawasi orang tuanya (pola makan) makan begitu saja, udah gitu aktivitas fisiknya sangat kurang,” jelasnya.

Menurut Herry, duduk terlalu lama dan tidak aktif bergerak dapat menurunkan sensitivitas insulin, hormon penting yang mengatur kadar gula darah.

Melewatkan Sarapan Memicu Ketidakseimbangan Gula Darah

Selain kurang gerak, kebiasaan melompati sarapan juga berkontribusi besar. Ketika tubuh tidak mendapat asupan pagi, rasa lapar meningkat di siang dan malam hari sehingga porsi makan menjadi lebih besar dan lonjakan gula darah sulit dihindari.

Kebiasaan ini mengacaukan pola makan harian dan meningkatkan risiko penumpukan kalori pada waktu tubuh sedang tidak aktif. Kondisi tersebut dapat memicu kenaikan berat badan dan gangguan metabolik.

Stres sering dianggap hal kecil, padahal memiliki dampak besar pada metabolisme tubuh. Herry menjelaskan bahwa stres yang terjadi terus-menerus dapat memperburuk pengendalian gula darah, terutama pada orang berisiko atau dalam kondisi pre-diabetes.

Menurutnya, stres bukan hanya soal tekanan emosi, tetapi kondisi mental yang menumpuk akibat pekerjaan, hubungan dengan atasan, masalah rumah tangga, hingga lingkungan sosial. Ia menggambarkan stres sebagai aspek yang perlahan menggerogoti kemampuan tubuh mempertahankan metabolisme yang stabil.

Stres kronis yang tidak dikelola dengan baik juga mengganggu kualitas hidup. Pasien sering menganggap kondisi stres yang dialaminya normal, padahal perlahan memengaruhi kestabilan gula darah.

Jangan Abaikan Pemeriksaan Kesehatan

Kebiasaan tidak memeriksakan diri secara rutin menjadi salah satu faktor paling berbahaya. Banyak pasien datang ke dokter dalam kondisi sudah parah dan mengalami komplikasi.

Herry menerangkan bahwa pre-diabetes merupakan fase awal yang sangat menentukan. Pada tahap ini, kadar gula darah belum masuk kategori diabetes, tetapi perubahan metabolik sudah terjadi. Sayangnya fase ini jarang terdeteksi karena tidak menunjukkan gejala jelas sehingga banyak orang merasa sehat.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya