Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
MOMEN liburan panjang juga kerap dimanfaatkan untuk menggelar acara kumpul keluarga besar. Namun, bagi sebagian orang, pertemuan keluarga bisa memicu rasa cemas atau membuat beban tersendiri.
Itu bisa terjadi karena berbagai sebab, mulai dari kecemasan karena menjadi tuan rumah atau panitia acara kumpul, hingga karena pertanyaan-pertanyaan pribadi yang datang dari para kerabat. Lalu bagaimana cara agar tetap nyaman dan tidak menimbulkan kecemasan?
Seorang terapis sekaligus penulis Nedra Glover Tawwab membagikan cara agar acara kumpul keluarga bisa menjadi lebih rileks dan menyenangkan. Berikut kiatnya, seperti dilansir dari Channel News Asia, Sabtu (20/12):
1. Hadirkan Pengalaman Berbeda
Menurut Nedra, langkah awal yang penting adalah membuat komitmen pribadi untuk tidak mengulang pola liburan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Jika menjadi tuan rumah, jangan takut mengubah pendekatan atau suasana agar pengalaman
terasa berbeda.
Artinya, anda tidak perlu terpaku dengan gaya atau standar kerabat lainnya, dalam menyelenggarakan acara kumpul. Namun, agar keluarga juga tidak kaget dengan perubahan, ada baiknya anda menginfokan konsep anda sebelumnya. Beri juga penjelasan alasannya sehingga keluarga bisa memaklumi keterbatasan kondisi yang ada.
2. Punya Batasan Waktu
Sementara itu, bagi orang yang datang sebagai tamu, Nedra menyarankan untuk menentukan batasan waktu sejak awal, misalnya dengan memilih datang lebih lambat atau pulang lebih cepat dibanding tahun sebelumnya.
"Kita harus mengambil kendali atas liburan kita sendiri dan menciptakan pengalaman yang kita inginkan," kata Nedra.
Ia juga menekankan pentingnya membangun toleransi terhadap ketidaknyamanan yang mungkin muncul. Salah satu caranya adalah dengan menetapkan batas yang realistis, seperti membatasi durasi kehadiran.
Jika sebuah acara berlangsung berjam-jam, seseorang tetap bisa memilih hadir sebentar saja sesuai kemampuan emosionalnya.
3. Alihkan Topik Obrolan
Toleransi serupa juga diperlukan ketika menghadapi anggota keluarga yang terlalu bersemangat membicarakan topik tertentu, misalnya yang terlalu personal atau yang memancing perdebatan, seperti politik.
"Mereka sebenarnya tidak peduli bagaimana Anda memandang subjek tersebut. Kita harus mampu mengalihkan topik," kata dia.
Untuk menjaga suasana tetap ringan, ia menyarankan penggunaan humor sebagai cara halus mengubah arah pembicaraan atau menyela diskusi yang mulai terasa tegang.
4. Jelaskan Karakter dan Kebiasaan
Jika berencana membawa pasangan atau teman ke acara keluarga, Nedra mengingatkan agar terlebih dahulu menjelaskan karakter dan kebiasaan orang-orang yang akan ditemui, terutama hal-hal yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan.
5. Peka terhadap Kondisi Diri
Hal terakhir yang tak kalah penting adalah kepekaan terhadap kondisi diri sendiri. Perubahan suasana hati atau energi bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
"Perhatikan saat Anda merasakan energi Anda berubah dan lakukan introspeksi diri: Apa yang terjadi tadi? Apakah ada kesempatan bagi Anda untuk melakukan sesuatu? Berbicara dengan diri sendiri, baik dengan menuliskannya, di kamar mandi, atau hanya dalam pikiran Anda, itu penting," kata Nedra. (M-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved