Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Gara-Gara Trump Anak-Anak Ketakutan

MI
16/12/2015 00:00
Gara-Gara Trump Anak-Anak Ketakutan
(AP/LM OTERO)
"MENGAPA kita muslim, Pa? Kenapa kita tidak seperti orang lain di negara ini?" tanya anak perempuan Kafumba Kromah, warga Minneapolis, Amerika Serikat (AS). Kromah berasal dari Liberia. Anaknya yang berusia 8 tahun menanyakan itu kepadanya saat sang ayah hendak bepergian ke Liberia, negara asalnya. "Dia takut saya bakal dilarang masuk lagi ke AS dan tidak bisa lagi bertemu dengan dia," kata Kromah.

Ada lagi Sofia Yassini, juga berusia 8 tahun. Di rumahnya di Plano, Texas, AS, beberapa waktu lalu, Sofia menyaksikan kandidat calon presiden AS, Donald Trump, dalam siaran televisi. Di situ, Trump melontarkan pernyataan melarang muslim masuk ke AS.

Sofia yang saat itu sedang sendirian di rumah serta-merta mengunci pintu rumah dan masuk ke kamarnya. Dia buru-buru mengemas sepasang boneka Barbie, sebotol selai kacang, dan sebatang sikat gigi ke dalam tas. Rupanya Sofia takut ada tentara yang datang ke rumahnya, mengusir dia beserta keluarganya dari rumah, dan memaksa mereka pergi dari AS. Sofia terus mengurung diri di kamar hingga ibunya tiba di rumah.

"Saat saya tiba, dia memeluk saya sembari menangis," kata Melissa Yassini, ibunda Sofia. "Inilah yang terjadi ketika orang-orang seperti mereka mengucapkan hal seperti itu.

"Ya, yang dimaksud Melissa memang ucapan Trump soal pelarangan muslim masuk ke AS. "Kita, orang dewasa, bisa saja menerimanya. Tapi mereka? Merekalah yang merasakan akibatnya. Mereka harus pergi ke sekolah setiap hari dengan perasaan takut bahwa mereka ialah muslim," ucap Melissa kesal.

Sejak komentar kontroversial Trump itu diucapkan, banyak bocah muslim di AS merasa dikucilkan. Mereka takut, apalagi kalimat-kalimat yang menyiratkan kebencian akan muslim terpampang di berbagai tempat dari kaus hingga stiker di kendaraan.

"Dialah (Trump) pemicu ketakutan ini. Saya yakin dia tidak sadar kata-katanya bakal berakibat seperti ini bagi anak-anak," ujar Reza Khan, ketua departemen ilmu di Carroll Community College, Washington, AS. Khan pun mendapati anaknya, Ahad, 12, tersedu-sedu sepulang dari sekolah suatu hari. "Sahabatnya menyebut dia calon teroris," tutur Khan.

Para psikiater anak berpendapat, pernyataan politik Trump yang menyebut 'penutupan total dan menyeluruh bagi muslim' jelas memicu berbagai imajinasi anak-anak. "Karena pada dasarnya anak-anak ingin lingkungan melindungi mereka dan pernyataan (Trump) itu menyiratkan hal buruk yang memunculkan rasa takut dan trauma," ujar Mark DeAntonio, profesor psikiatri anak di University of California Los Angeles, California, AS.

Patricia Greenfield, profesor psikologi di UCLA, menyatakan orangtua dan guru harus berperan. "Mereka mesti bisa menjelaskan bahwa muslim ialah sama, juga meminta anak-anak mempererat persahabatan mereka." (AP/Andhika Prasetyo/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya