MISI Amerika Serikat (AS) melawan propaganda kelompok teroris Islamic State (IS) dirasakan belum maksimal. Karena itu, pejabat teras Pentagon menyerukan agar 'Negeri Paman Sam' mengambil langkah dan kebijakan yang lebih keras untuk menumpas kelompok radikal itu.
"Menurut saya, kita mungkin memperoleh nilai C minus atau D dalam upaya itu (melawan kelompok IS) saat ini," ungkap Jenderal Joe Dunford dalam forum keamanan nasional di Washington, Senin (14/12) waktu setempat.
Dunford yang menjabat Kepala Staf Gabungan menyatakan masyarakat di Barat cenderung memandang remeh kekuatan propaganda IS di lingkup media sosial. Padahal, kata dia, daya tarik kelompok yang berpusat di utara Suriah dan Irak itu tidak bisa dipandang sebelah mata, khususnya dalam memengaruhi kalangan anak muda.
"Yang mengkhawatirkan saya ialah cerita (gambaran) yang disajikan IS itu memiliki daya pikat dan kita harus merespons hal itu dengan serius," tandas Dunford yang memulai jabatannya di Pentagon akhir September lalu.
Secara terpisah, Menteri Pertahanan Ash Carter terbang ke Turki, Selasa (15/12), untuk menjajaki upaya baru koalisi militer yang dipimpin AS dalam memperkuat kampanye menumpas milisi IS di Suriah dan Irak.
Carter menyatakan akan meminta para komandan militer dan pejabat untuk mengajukan taktik baru yang efektif untuk menggempur IS. Ia menekankan setiap kontribusi yang diajukan para anggota atau rekan koalisi bisa mempercepat kehancuran kelompok pimpinan Abu Bakr al-Baghdadi itu.
Saat berbicara kepada para wartawan yang ikut dalam lawatannya ke Turki, Carter mengungkapkan, "AS menginginkan Turki mengontrol wilayah perbatasannya dengan Suriah secara lebih baik guna membantu memblokade lalu lintas petempur asing.
"Dia juga menegaskan, "Kami ingin angkatan bersenjata Turki bergabung dalam serangan udara dan darat dengan peran yang sepatutnya."
Adapun dari Jerman, Menteri Pertahanan Ursula von der Leyen menampik seruan AS yang meminta Berlin memberikan kontribusi militer lebih besar lagi dalam upaya memberangus kelompok IS.
Menurut Von der Leyen, Berlin sejatinya telah terlibat dalam sejumlah front militer melawan kelompok ekstremis, termasuk di Mali dan Afghanistan.
Target selanjutnya Saat memimpin sesi briefing ringkas pada Senin (14/12) pagi, yang juga diikuti Dunford dan Carter, Presiden Barack Obama menyerukan tekad baru untuk menghancurkan IS. Politikus dari Partai Demokrat itu bahkan bersumpah untuk membunuh para pemimpin IS dan menguasai kembali wilayah-wilayah di Timur Tengah.
Obama pun mengakui kampanye militer dalam upaya menggempur IS perlu dipercepat lagi. "Kita mesti menggempur ISIL lebih keras dari yang telah dilakukan," tegasnya.
Sembari menetapkan delapan figur penting dalam organisasi IS yang terbunuh dalam operasi pasukan koalisi, Obama mengeluarkan peringatan yang ditujukan bagi para petinggi IS. Dia menyeru, "Para pemimpin IS tidak bisa bersembunyi dan pesan kami selanjutnya kepada mereka amat sederhana. Kalianlah giliran berikutnya!
"Soal perkembangan di lapangan, Obama mengungkapkan pasukan khusus AS saat ini sudah berada di Suriah dan sedang membantu kelompok bersenjata lokal dalam upaya merebut wilayah yang diproklamasikan sebagai 'ibu kota' oleh IS di Kota Raqqa.
"Sejak musim panas, IS tidak mengalami kemajuan operasi yang signifikan di lapangan, baik itu di Suriah maupun di Irak," tegas Obama. (AFP/AP/I-1)