INSTITUSI penelitian konflik, persenjataan, pengawasan, dan pelucutan senjata, Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), mengungkapkan penjualan senjata di dunia periode 2013-2014 dikuasai Eropa Barat dan Amerika Serikat (AS). Salah satu perusahaan yang meraup untung terbesar ialah Lockheed Martin yang bermarkas di Bethesda, Maryland, AS. Pada 2014, penjualan senjata perusahaan 'Negeri Paman Sam' itu telah meningkat 3,9% dan omzet penjualannya mencapai US$3,7 miliar. Kendati masih mendominasi pasar, perusahaan-perusahaan asal Barat itu mengalami penurunan penjualan.
Pasalnya, banyak perusahaan asal Rusia dan negara Asia yang mulai mendobrak dominasi penjualan senjata di dunia. "Eropa Barat dan AS masih mendominasi 100 perusahaan terbesar dengan mengambil alih 80% pasar dunia. Namun, mereka mengalami penurunan penjualan sebanyak 3,2% pada periode 2013-2014," ujar SIPRI, kemarin. Penurunan tersebut, ungkap peneliti senior Program Belanja Militer SIPRI Siemon Wezeman, disebabkan negara-negara Eropa Barat saat ini sedang mengurangi anggaran pertahanan. "Mereka lebih memilih mengurangi pengadaan barang ketimbang melakukan pemotongan gaji," ujar Wezeman.
Seakan memanfaatkan pelemahan yang tengah terjadi di negara Barat, sebanyak 36 perusahaan Rusia dan negara Asia muncul menggeser tradisi yang telah lama terjaga. "Penjualan mereka naik 25%," ujar Wezeman. "Separuh peningkatan itu terjadi karena kegiatan perusahan Rusia." "Perusahaan Rusia tengah mengalami gelombang peningkatan yang pesat, baik dalam ekspor maupun belanja militer nasional mereka," sambung Wezeman. Pertumbuhan pendapatan tahunan dari 11 perusahaan Rusia pada 2014, berdasarkan laporan SIPRI, mencapai 48,4% jika digabungkan.
Salah satu perusahaan senjata terbesar Rusia ialah Almaz-Antey. Perusahaan itu berada di peringkat 11 dunia dengan penjualan mencapai US$8,84 miliar pada tahun lalu. Almaz-Antey ialah perusahaan 'Negeri Beruang Merah' yang memproduksi rudal BUK, yang diduga digunakan untuk menembak jatuh Maskapai Malaysia Airlines Boeing 777 pada 17 Juli, 2014, di wilayah udara Ukraina. Produksi persenjataan perusahaan-perusahaan Rusia sebagian besar digunakan untuk memenuhi kebutuhan militer Rusia sendiri. Namun, perlengkapan militer Rusia juga diekspor ke negara-negara sekutunya, Tiongkok dan India, yang tengah berlomba memperkuat kemampuan militer.
Ekspor ke Suriah Pasokan senjata ke negara yang tengah dilanda perang saudara, Suriah, berasal pula dari Rusia. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, permintaan peralatan tempur dari sekutu Rusia tersebut terus menurun. Namun, sejak hampir lima tahun mengalami konflik, Suriah tidak lagi memiliki anggaran yang mumpuni untuk memperkaya persenjataan mereka. "Kalian bayar, kalian dapat senjata. Jika tidak, jangan berharap," tutur Wezeman menjelaskan prinsip dasar yang dipegang Rusia.
Sementara itu, Turki, yang kini tengah bertegang dengan Rusia menyusul penembakan pesawat perang Su-24, memiliki dua dari 100 perusahaan yang masuk dalam daftar SIPRI. "ASELSAN (perusahaan peralatan militer milik Turki) mendapat peningkatan penjualan sebesar 5,6% dan berada di peringkat 73," jelasnya. Korea Selatan (Korsel) juga menjadi salah satu negara Asia yang masuk ke daftar. Mereka mengalami peningkatan 10,5% pada 2014 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal mengejutkan terjadi karena tidak ada satu pun perusahaan asal Tiongkok yang masuk ke daftar institusi asal Swedia itu. "Kami tidak memasukkan perusahaan Tiongkok ke daftar karena sulitnya mengakses data penjualan senjata negeri tersebut."