PERNYATAAN kontroversial kandidat calon presiden Donald Trump yang melarang muslim memasuki Amerika Serikat (AS) menimbulkan kecemasan para pemimpin bisnis di Timur Tengah, tempat Trump melebarkan sayap bisnisnya.
"Jika dia datang ke kantor saya, saya tidak akan membiarkan ia masuk. Mungkin kami akan bertemu di tempat lain tempat saya bisa berdebat dengannya dengan cara yang beradab, bukan dengan pendekatannya ke orang-orang," kata pebisnis pemilik Al-Habtoor Group, Khalaf al Habtoor, yang semula mendukung Trump.
Selama bertahun-tahun, Trump melakukan bisnis di Timur Tengah, terutama di kawasan Teluk dan Dubai, Uni Emirat Arab. Trump menanamkan investasi di dua proyek lapangan golf ternama dan tengah melakukan pengembangan realestat, juga berencana memiliki 30 hotel di kawasan itu pada 2020.
Sebagai respons ucapan Trump yang kontroversial, perusahaan Landmark Group yang berbasis di Dubai menyatakan akan menarik produk dekorasi rumah yang dipasok dari perusahaan Trump di seluruh gerai di kawasan untuk menghargai dan menghormati sentimen konsumen yang didominasi muslim.
Sebaliknya, kecemasan serupa toh tidak dirasakan Trump. Kandidat calon presiden dari Partai Republik itu menganggap telah melakukan hal yang benar. Itu diucapkannya dalam sebuah wawancara, Rabu (9/12), dalam program The O'Reilly Factor di FoxNews Channel. "Jika saya kehilangan bisnis di luar negeri, itu tidak akan berpengaruh. Apa yang saya lakukan sekarang jauh lebih penting daripada setiap bisnis yang saya miliki," papar Trump.
Pada 2008, Trump meluncurkan Trump International Hotel dan Tower Dubai. Sebanyak 62 pencakar langit terbuat dari kaca dan baja buatan manusia berdiri di Pulau Palm Jumeirah yang menjorok ke Teluk Persia. Perusahaan konstruksi Habtoor Leighton Group menjadi bagian dari ventura senilai 2,9 miliar dirham atau setara dengan US$790 juta dalam kontrak pembangunan proyek pada 2008. Pada 2014, Trump hadir di Dubai dalam peluncuran lapangan golf yang dibangun perusahaan pengembang miliknya, Damac Properties Akoya.
Trump memang identik dengan pernyataan kontroversial. Dalam kampanyenya baru-baru ini, Trump memuji bandara Qatar yang dibangun dengan dana senilai US$15 miliar lantas menyebut bandara AS bandara 'dunia ketiga'.
Pada tahun ini dan 2011 lalu, Trump pernah juga berkomentar bahwa Kuwait tidak membayar apa-apa ke AS untuk membiayai pasukan Irak selama Perang Teluk pada 1991. Padahal, Kongres AS mencatat Kuwait menyumbang US$16,1 miliar untuk perang itu.
Komentar-komentar Trump justru menjadi lelucon bagi Kuwait. "Ia tidak seharusnya mengatakan ide seperti itu. Gagasan itu seperti datang dari orang yang tidak berpendidikan," kata Hamad al-Ali, komedian dari Kuwait. (AFP/Aya/I-1)