"SAYA setuju 100%," ujar Bruce Goacher, 56, mengelukan usul Donald Trump, kandidat calon presiden Amerika Serikat (AS), yang hendak menutup seluruh akses ke AS bagi muslim. Bagi Goacher, apa yang dikatakan Trump ialah sesuatu yang masuk akal.
"Dia bilang tidak ada yang boleh masuk sampai kita tahu masalah apa yang kita hadapi di sini. Entah mengapa kita mesti tidak setuju," lanjut Goacher yang bekerja sebagai tukang sita mobil.
Goacher memang salah satu profil pendukung Trump sejauh ini, yakni warga kulit putih AS yang tidak mengenyam pendidikan universitas. Itu pula yang menjadi alasan kuat Trump selalu berada di posisi teratas dalam sederet polling pemilihan calon presiden.
Goacher dan rekan-rekannya menganggap insiden-insiden terbaru seperti teror di Paris, Prancis, dan San Bernardino, AS, menguatkan apa yang diungkapkan kandidat dari Partai Republik itu. Goacher menganggap Trump ialah sosok yang tepat untuk menjabat presiden AS.
"Jika seorang pria bisa menjadi miliarder tanpa harus bekerja keras, dia pasti seorang yang cerdas, bijaksana, dan cocok untuk menggerakkan AS," papar pria yang pernah menjabat tangan Trump kala sang miliarder menggelar kampanye di Davenport itu. "Dia itu tidak perlu bekerja keras sampai tangannya kapalan seperti kami," tambah Goacher.
Dunia orang-orang seperti Goacher memang berbeda sama sekali dari dunia Trump. Goacher dan rekan-rekannya merupakan penduduk yang seumur hidup mereka bermukim di bantaran Sungai Mississippi dan harus berburu babi sesekali agar kebutuhan mereka terpenuhi.
Bagi Goacher, sikap angkuh Trump ialah apa yang negaranya butuhkan saat ini. Goacher juga menganggap Trump sebagai anutan, bahkan merupakan representasi sebagian dari dirinya. "Ketika mengambil alih mobil, seperti pekerjaan yang saya lakukan, menghindari kontak dengan pemiliknya ialah hal terbaik. Namun, jika itu tidak bisa dihindari, kemampuan untuk mengambil kesimpulan dengan cepat ialah yang terpenting," jelas Goacher.
Hal tersebut, sambungnya, juga dilakukan Trump, hanya dalam skala yang lebih besar. "Kami memiliki cara berpikir yang sama. Bagaimana menurutmu?" Goacher melemparkan pertanyaan ke rekannya, Darrel Beauchamp.
Beauchamp pun menyatakan hal serupa. "Dia orang yang berbeda dari orang lain," ujarnya. Goacher dan sobatnya itu kemudian tertawa bersama-sama. "Kita tengah menghadapi masa bahaya dan tidak stabil. Kami hanya ingin dunia menjadi lebih baik daripada yang sekarang dan lebih aman. Itu juga yang diinginkan Trump. Itulah mengapa kami menyukai dia," ucap mereka.
Keberhasilan Trump mengambil hati para golongan pekerja, ujar Stu Spencer yang mengatur kampanye Ronald Reagan dalam Pemilu 1980, disebabkan sikap dan cara berkomunikasi pria 69 tahun itu yang apa adanya. "Dia telah memainkan rasa takut para pemilih dengan cara yang sangat kuat," Spencer berkomentar. Cara Trump berbicara, menurut Spencer, blakblakan. "Persis seperti cara orang-orang mengobrol di bar," kata dia. (LA Times/Andhika Prasetyo/I-1)