Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Kontroversi Strategi sang Taipan

MI/ANDHIKA PRASETYO
15/12/2015 00:00
Kontroversi Strategi sang Taipan
()
DONALD Trump, 69, kini menjadi kandidat calon Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik yang paling dikenal masyarakat. Namanya juga terus berada di posisi teratas dalam berbagai polling (penjajakan) yang dilakukan di seluruh negeri.

Ketenaran Trump bukan tanpa upaya walaupun tidak bisa dimungkiri sebagian besar hasil positif itu kerap kali berasal dari komentar-komentarnya yang penuh kontroversi. Dalam kesempatan teranyar yang membuat dunia meluapkan kecaman, miliarder itu mengemukakan usulan yang menyebutkan tidak boleh ada lagi warga muslim yang masuk ke AS.

Kecaman datang baik dari dalam maupun luar negeri. Juru bicara Gedung Putih sempat mendesak agar Trump didiskualifikasi dari pencalonan kandidat calon presiden karena yang diutarakannya sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dipegang teguh 'Negeri Paman Sam'.

Kandidat calon presiden lain pun ikut mengeluarkan kecaman untuk laki-laki yang juga menjadi pembawa acara The Celebrity Apprentice itu. Salah satunya kandidat terkuat dari Partai Demokrat, yakni Hillary Clinton. Clinton mengatakan retorika yang dikeluarkan rivalnya itu tidak dapat diterima.

"Dengan begitu, dia malah membantu teroris yang sebenarnya. Dia memberikan keuntungan kepada mereka," ujar istri mantan Presiden AS Bill Clinton itu.

Kritik juga datang dari mancanegara. Di Prancis, Perdana Menteri Manuel Valls mengatakan Trump bak menyiram bensin di tengah api yang dinyalakan kelompok ekstremis. "Perlu diingat bahwa musuh kita yang sebenarnya ialah muslim yang radikal," tegas Valls.

Modal
Kendati banyak yang mengeluarkan kecaman soal pernyataannya tentang pelarangan muslim masuk AS, sejumlah pengamat berpendapat yang dilakukan Trump selama ini, termasuk pernyataan-pernyataannya yang provokatif, mesti diakui sebagai strategi tepat bagi seorang kandidat calon presiden.

Naik turunnya dukungan untuk Trump juga tidak terlepas dari komentar-komentar sang taipan yang selalu berapi-api. "Secara strategi, yang dilakukannya harus diakui memang masuk akal," ujar pengamat pemerintahan dari American University di Washington DC, Jennifer Lawless.

Walaupun selalu memicu perdebatan, jelas Lawless, yang diungkapkan Trump, khususnya yang terkait dengan kebijakan imigrasi, tidak sepenuhnya salah. "Jika kebijakan imigrasi ini dikaitkan dengan tindakan terorisme dan keamanan nasional, pemerintah akan memiliki potensi lebih besar untuk bisa menghadapinya," papar Lawless.

Namun, Lawless menegaskan kesalahannya ialah dia (Trump) sering keluar batas.

Hal serupa diungkapkan David Siegel, pengamat sekaligus profesor ilmu politik dari Duke University di North Carolina, AS. "Saya tidak bisa bayangkan berapa banyak orang yang belum pernah menyaksikan komentar komentar keras dan tegas keluar dari mulut Trump," ujar Siegel.

Usulan-usulan Trump, menurut Siegel, berhasil membuatnya terus disorot media. Itulah modal penting untuk seorang kandidat calon presiden. Selain itu, usulan-usulan itu pun, masih menurut Siegel, cocok dengan keadaan saat ini saat dunia tengah dilanda ketakutan akan terorisme.

"Semua yang terkait dengan terorisme ialah hal yang selalu penuh risiko dan menakutkan. Pada dasarnya, manusia kerap kali tidak mau ambil risiko karena hingga saat ini belum ada solusi pasti untuk menghentikan aksi radikal itu," papar Siegel.

Siegel berpendapat di situlah Trump muncul ke permukaan. "Jadi, ketika ada seseorang yang datang memberikan usulan untuk menghentikan aksi terorisme, walaupun solusi yang ditawarkan itu belum terbukti (efektif) dan tidak ada jaminan bakal berjalan dengan baik, orang-orang tetap akan menganggap hal itu sebagai sebuah jalan keluar," jelas Siegel.

Pusat perhatian
Para pengamat menganggap yang dilakukan Trump saat ini ialah salah satu strategi yang bagus untuk mendongkrak popularitas. Hal itu pun bahkan diakui para anggota partai serta rival dari partai yang sama. "Tidak ada yang bisa menyangkal Trump melakukan kampanye yang brilian," ujar Komite Nasional Partai Republik dari New Hampshire, Steve Duprey.

Sementara itu, Liz Mair, anggota lain Partai Republik, berpendapat, "Trump ada pada langkah yang besar. Media massa berfokus kepadanya dan hal itu menghalangi kandidat lainnya untuk mendapat perhatian dari masyarakat."

Lontaran-lontaran provokatif Trump boleh jadi jurus kampanye yang tepat yang bisa membuatnya menjadi pusat perhatian. Buktinya total pengeluaran Trump untuk kampanye iklan di televisi dan radio hanya berkisar US$300 ribu, sedangkan kandidat lain dari Partai Republik, yakni Jeb Bush, mengeluarkan ongkos hingga US$32 juta untuk program kampanye serupa, dan Trump toh masih unggul dalam sejumlah jajak pendapat. (AFP/AP/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya