KELOMPOK afiliasi Al-Qaeda di Suriah, Front Nusra, menolak hasil perundingan sejumlah kelompok oposisi yang menyatakan setuju bernegosiasi dengan rezim Presiden Bashar al-Assad. Di sisi lain, Rusia mengecam pertemuan kalangan oposisi yang dilangsungkan di Riyadh, Arab Saudi. Sekutu Presiden Bashar al-Assad tersebut menyebut pertemuan itu tidak representatif. Terkait dengan konflik Suriah, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry dijadwalkan berkunjung ke Moskow, Rusia, Selasa (15/12).
Lawatan itu merupakan upaya baru untuk mendorong rencana perdamaian dalam mengakhiri konflik Suriah yang telah berlangsung hampir lima tahun. Seperti dilaporkan AFP, Minggu (13/12), pertemuan kalangan oposisi di Kota Riyadh telah menghasilkan kesepakatan untuk bernegosiasi dengan rezim Al-Assad. Namun, kalangan oposisi menegaskan Bashar al-Assad yang telah memerintah Suriah selama 15 tahun itu harus mundur saat proses transisi politik telah dimulai. Akan tetapi, bagi pemimpin Front Nusra, Abu Mohamed al-Jolani, hasil Pembicaraan Riyadh tidak ubahnya sebuah 'pengkhianatan' dan konspirasi. Ia menuduh kesepakatan itu sebagai upaya mempertahankan rezim Presiden Al-Assad.
"Konferensi itu tidak diadakan dalam rangka menolong rakyat Suriah," ungkap Joulani kepada televisi oposisi Suriah yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab, Orient News. "Ini adalah plot, bukan konferensi. Pertemuan semacam itu sepatutnya gagal," tegasnya. Joulani menyatakan kalangan oposisi menggelar pertemuan karena 'tekanan' internasional. Namun, ia memperingatkan meskipun opisisi telah mencapai kesepakatan, mereka tidak memiliki kekuatan untuk menerapkannya di lapangan.
Pentolan jaringan Al-Qaeda di Suriah tersebut mengakui Front Nusra tidak diundang untuk menghadiri Konferensi Riyadh. Joulani juga menegaskan pihaknya tidak akan sudi menghadiri pertemuan tersebut kendati diundang. Pertemuan Riyadh datang setelah para diplomat dari 17 negara, termasuk pendukung dan penentang pemerintah Al-Assad, sepakat pada bulan lalu di Wina, Austria, tentang peta jalan untuk konflik Suriah. Rusia, sekutu utama rezim Al-Assad, juga mengecam Pertemuan Riyadh.
"Kami tidak setuju dengan upaya yang dilakukan kelompok yang berkumpul di Riyadh untuk memonopoli hak berbicara atas nama seluruh oposisi Suriah," ujar Kementerian Luar Negeri Rusia dalam pernyataannya. Moskow juga mempermasalahkan tidak dilibatkannya faksi Kurdi ke dalam pembicaraan dan tidak adanya pihak yang disebut 'oposisi patriotik Suriah' yang ditoleransi rezim Damaskus.
Serangan IS Sebuah serangan bom mobil yang diklaim kelompok Islamic State (IS) meledak di dekat sebuah rumah sakit di Kota Homs, Suriah, Sabtu (12/11). Gubernur Homs, Talal Barazi, dan kelompok pemantau mengatakan insiden itu menewaskan setidaknya 16 orang dan melukai 54 lainnya. Barazi mengungkapkan serangan terjadi di dekat Rumah Sakit Al-Ahli, di lingkungan Al-Zahraa, tempat tinggal sebagian besar penduduk penganut sekte Alawite yang sama dengan Presiden Bashar al-Assad.
"Kendaraan yang digunakan dalam serangan itu membawa sedikitnya 150 kg bahan peledak," jelas Barazi. Sementara itu, kelompok IS menyatakan selain bom mobil, pihaknya juga melancarkan aksi bom bunuh diri yang dilakukan Abu Ahmed al-Homsi. IS menyebut pelaku memarkir mobil dan meledakkan sabuk peledak yang dikenakan Al Homsi. "Ledakan itu amat menakutkan. Bagian-bagian tubuh bergelimpangan di tanah," ungkap seorang wanita 28 tahun yang sempat melihat lokasi kejadian.