Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Kompetisi Tinju untuk Perdamaian di CAR

MI
13/12/2015 00:00
Kompetisi Tinju untuk Perdamaian di CAR
(Dailymail.co.uk)
NAPAS Ngassima, 18, terengah-engah. Singlet merahnya basah bermandikan keringat. Pukulan jab, straight, hook, atau uppercut berulang kali ia lontarkan untuk menganvaskan lawannya di atas ring.

Hari itu, Sabtu (12/12), Ngassima kalah. Namun, semua yang dilakukannya itu sudah layak dalam upaya membangun perdamaian di Bangui, ibu kota yang juga kota terbesar di Republik Afrika Tengah (CAR).

Kompetisi tinju amatir yang diadakan di PK5 merupakan upaya kelompok muslim dan Katolik memupuk kebersamaan dan membangun saling pengertian dan toleransi. PK5 merupakan sebuah lingkungan muslim di Bangui, yang hancur akibat perselisihan sektarian.

Roger Junior Loutomo, Presiden Federasi Tinju CAR, ialah orang yang menggagas ide itu. Ia sekaligus bertindak sebagai wasit pertandingan. Tampak sebagai sebuah ide gila, menurutnya, kompetisi adu jotos ini harus dilihat secara berbeda.

"Tidak sama sekali, tinju ialah simbol perdamaian!" katanya. "Selepas dua petinju bertarung, mereka berpelukan, tidak peduli siapa yang menang. Itulah pesan yang ingin kita sampaikan.

"Martial Ngoko, lebih dikenal dengan julukan 'Muhammad Ali' ialah salah satu petinju favorit hari itu. Seperti idolanya, ia 'tidak pernah kalah'. Ia bahkan mampu menumbangkan lawan sejak ronde kedua.

"Saya memimpikan seperti dia (Muhammad Ali). Gaya bertinju kami juga mirip," kata Ngoko, yang percaya diri membandingkan dirinya dengan petinju legendaris itu.

Dibesarkan sebagai seorang Katolik, Ngoko memeluk Islam lima tahun lalu saat berkunjung ke Pakistan untuk sebuah turnamen tinju.

Dari sekitar 20 petinju yang ambil bagian dalam kompetisi hari itu, hanya dua yang beragama Islam. Ketegangan di CAR membuat mereka sulit berlatih.

CAR terjerembap ke dalam kekerasan dan kekacauan pada Maret 2013 setelah pemberontak dari mayoritas muslim Seleka menggulingkan Presiden Katolik Francois Bozize, yang telah memerintah sejak 2005.

Kudeta itu memicu gelombang kekerasan antara pemberontak muslim dan milisi Katolik 'anti-Balaka' sehingga membuat negara bekal koloni Prancis itu terjun ke dalam krisis terburuk sejak kemerdekaan pada 1960.

Setiap pihak telah melakukan kekejaman yang meluas terhadap warga sipil, mendorong ratusan ribu mengungsi, dan menciptakan suasana menakutkan.

Namun, untuk saat ini, perselisihan dan kekerasan perlahan-lahan mulai dihilangkan saat anak-anak muda dari komunitas muslim dan Katolik yang beralih ke ring untuk melakukan adu jotos dengan kepalan tangan mereka dan kecerdasan.

Kunjungan pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus, akhir bulan lalu ke CAR juga meningkatkan harapan perdamaian dan rekonsiliasi. Paus menekankan bahwa warga Katolik dan muslim ialah 'saudara'. (AFP/Haufan Hasyim Salengke/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya