Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Jet Tempur F-15 Jatuh, AS Dinilai Kehilangan Kendali dalam Konflik Lawan Iran

Ferdian Ananda Majni
05/4/2026 14:00
Jet Tempur F-15 Jatuh, AS Dinilai Kehilangan Kendali dalam Konflik Lawan Iran
jet tempur F-15.(Army Recognation)

INSIDEN jatuhnya jet tempur F-15 dan pesawat serang A-10 Warthog milik Amerika Serikat (AS) di wilayah Iran menjadi tamparan keras bagi militer Paman Sam. Keberhasilan Iran menjatuhkan pesawat-pesawat canggih tersebut dinilai bukan sekadar kemenangan taktis, melainkan pukulan telak bagi prestise internasional pemerintahan Donald Trump.

Direktur Council for Arab-British Understanding, Chris Doyle menyebut insiden tersebut memiliki arti penting bagi Iran dari sisi prestise.

"Penting bagi Iran dalam hal prestise," katanya dilansir Al Jazeera, Minggu (5/4).

Menurut Doyle, keberhasilan itu menunjukkan bahwa Iran mampu menantang kekuatan besar dunia, tidak hanya secara simbolik tetapi juga melalui perlawanan nyata di medan konflik.

Ia menilai, jika dibandingkan dengan situasi pada awal perang beberapa pekan lalu, posisi Amerika Serikat kini mengalami perubahan. Saat itu, Trump disebut optimistis dapat memenangkan perang dalam waktu singkat.

"Donald Trump berkata kepada sekutunya, saya tidak butuh bantuan Anda. Namun, jauh dari itu, sekarang dia tampak putus asa; tampak kacau di dalam Gedung Putih," ujarnya.

Doyle juga menyoroti dinamika internal militer AS, termasuk langkah Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang memecat sejumlah jenderal, termasuk Kepala Staf Angkatan Darat, Randy George.

"Kita melihat Pentagon di bawah Hegseth; dia memecat para jenderal. Tampaknya kepemimpinan Amerika tidak bisa mengendalikan apa yang sedang terjadi," ucap Doyle.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dalam banyak konflik di Timur Tengah, Amerika Serikat kerap memperluas tujuan militernya di luar target awal. Namun, dalam kasus Iran, pola tersebut dinilai tidak terjadi secara konsisten.

Awalnya, menurut Doyle, pemerintahan Trump memiliki agenda untuk melakukan perubahan rezim di Iran. Namun seiring waktu, tujuan tersebut terlihat berubah.

"Sekarang kita melihat Trump dan yang lainnya mengatakan, Oh, tidak, kita tidak akan melakukan perubahan rezim," ucapnya.

Doyle menilai strategi AS saat ini tampak tidak memiliki arah yang jelas. Sebaliknya, Iran justru dinilai lebih terukur dalam menentukan langkahnya.

"Iran dapat meningkatkan eskalasi sesuka hati dan memperluas konflik ketika dibutuhkan seperti yang kita lihat, misalnya, dengan serangan rudal Houthi baru-baru ini terhadap Israel," ujarnya.

Ia juga memperingatkan bahwa kegagalan menangani insiden seperti jatuhnya pesawat tempur dapat berdampak pada kredibilitas global Amerika Serikat.

"Hal itu juga semakin dipertegas oleh hilangnya pesawat-pesawat ini, yang sangat maha. US$100 juta, F-15 bukanlah pesawat yang bisa dianggap remeh," tegas Doyle.

Sementara itu, Iran mengeklaim telah menembak jatuh dua pesawat militer AS pada Jumat (3/4), yakni jet tempur F-15 dan pesawat A-10 Warthog. F-15 dilaporkan jatuh di wilayah barat daya Iran, sedangkan A-10 ditembak di sekitar Selat Hormuz.

Pilot A-10 dilaporkan selamat. Namun, nasib salah satu awak F-15 masih belum diketahui.

Sejumlah media di Amerika Serikat melaporkan bahwa satu awak F-15 telah berhasil ditemukan dan diselamatkan, sementara satu lainnya masih dalam proses pencarian.

Presiden Donald Trump telah mengonfirmasi insiden tersebut dan menegaskan bahwa kejadian itu tidak akan memengaruhi proses negosiasi dengan Iran.

Sebagai respons, Amerika Serikat segera melancarkan operasi pencarian dan penyelamatan. Di sisi lain, Iran mengumumkan pemberian hadiah bagi pihak yang dapat menemukan pilot AS yang hingga kini belum ditemukan. (Al Jazeera/P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik