Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
DEPARTEMEN Luar Negeri Amerika Serikat mengumumkan penangkapan keponakan dan cucu keponakan dari mendiang komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Jenderal Qasem Soleimani. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Sabtu waktu setempat, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengonfirmasi pencabutan status penduduk tetap (green card) terhadap kedua individu tersebut.
Individu yang ditangkap diidentifikasi sebagai Hamideh Soleimani Afshar dan putrinya, Sarinasadat Hosseiny. Keduanya kini berada dalam tahanan agen Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE) sembari menunggu proses deportasi dari Amerika Serikat.
Berdasarkan keterangan Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS), Hamideh Soleimani Afshar pertama kali memasuki AS menggunakan visa turis pada tahun 2015. Ia kemudian diberikan suaka pada 2019 dan mendapatkan green card pada 2021.
Namun, kecurigaan muncul saat ia mengajukan aplikasi naturalisasi pada 2025. Dalam dokumen tersebut, ia mengaku telah mengunjungi Iran sebanyak empat kali sejak menjadi pemegang green card.
"Perjalanannya ke Iran menggambarkan bahwa klaim suakanya adalah penipuan," tegas pihak DHS.
Selain dugaan penipuan dokumen, Departemen Luar Negeri AS menuduh Soleimani Afshar sebagai pendukung vokal rezim Iran dan kerap mempromosikan propaganda Teheran melalui akun media sosialnya. Selain Afshar dan putrinya, suami Afshar juga telah dilarang memasuki wilayah Amerika Serikat.
Di sisi lain, putri kandung Qasem Soleimani, Narjes Soleimani, membantah keras klaim pemerintah Amerika Serikat tersebut. Ia menyatakan bahwa individu yang ditangkap sama sekali tidak memiliki hubungan keluarga dengan ayahnya.
"Individu yang ditangkap di AS tidak memiliki hubungan apa pun dengan Syahid Soleimani dan klaim yang dibuat oleh Departemen Luar Negeri AS adalah palsu," ujar Narjes Soleimani dalam pernyataan resminya.
Ia juga menambahkan bahwa AS telah menjadi "sangat lemah dan tidak berarti" sehingga harus "merekayasa kebohongan terhadap sosok yang hebat."
Langkah tegas ini diambil di tengah ingatan akan tewasnya Qasem Soleimani dalam serangan udara AS di Irak pada tahun 2020 silam atas perintah Donald Trump. Dalam pidato nasionalnya baru-baru ini, Trump kembali menyinggung operasi tersebut.
"Saya membunuh Jenderal Qasem Soleimani di masa jabatan pertama saya. Dia adalah seorang jenius yang jahat, orang yang brilian, namun merupakan manusia yang mengerikan. Dia adalah bapak dari bom pinggir jalan, dan hidupnya sungguh mengerikan atas apa yang telah dia lakukan," ujar Trump.
Hingga saat ini, proses hukum terhadap Hamideh Soleimani Afshar dan putrinya masih terus berjalan seiring dengan upaya AS memperketat pengawasan terhadap individu yang dianggap memiliki keterkaitan dengan rezim Iran. (BBC/Z-2)
AMERIKA Serikat (AS) dan Israel terus melancarkan serangan terhadap Iran, termasuk fasilitas nuklir Iran Bushehr yang menewaskan satu orang.
Intelijen AS menyebut Iran masih mampu memulihkan bunker rudal dalam hitungan jam meski dibombardir. Setengah peluncur rudal dilaporkan masih utuh.
Iran tembak jatuh jet tempur F-15 AS. Satu pilot selamat, satu hilang. Teheran tawarkan imbalan bagi penangkap awak, memicu perburuan di tengah konflik.
F-15 AS ditembak jatuh di Iran. Satu pilot selamat, satu masih dicari. Dua Black Hawk rusak ditembaki saat misi evakuasi di tengah eskalasi perang.
Iran tembak jatuh jet F-15 AS dan tawarkan imbalan US$60.000 untuk tangkap pilot. AS kerahkan misi penyelamatan di tengah penolakan gencatan senjata oleh Teheran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved