Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
JÜRGEN Habermas, salah satu filsuf dan intelektual publik paling berpengaruh di Jerman pasca-perang, dikabarkan meninggal dunia pada usia 96 tahun. Kabar duka ini disampaikan penerbitnya, Suhrkamp, Sabtu (14/3/2026).
Lahir di Düsseldorf pada Juni 1929, perjalanan hidup Habermas dibentuk oleh sejarah kelam negaranya. Tumbuh besar di era Nazi Jerman, ia sempat terdaftar dalam Pemuda Hitler (Hitler Youth), meski usianya terlalu muda untuk terjun ke medan perang Dunia II. Pengalaman masa kecilnya, termasuk menjalani serangkaian operasi akibat celah langit-langit mulut (cleft palate) yang dideritanya sejak lahir, diakui Habermas sebagai faktor yang membentuk pemikirannya tentang bahasa dan komunikasi.
Tokoh Terkemuka Mazhab Frankfurt
Setelah meraih gelar doktor dari Universitas Marburg, Habermas bergabung dengan Institut Penelitian Sosial di Universitas Frankfurt. Bersama Max Horkheimer dan Theodor Adorno, ia menjadi tokoh terkemuka generasi kedua "Mazhab Frankfurt".
Kelompok pemikir ini dikenal dengan "Teori Kritis" yang mengkritik kapitalisme dari perspektif "Kiri Baru". Habermas berargumen bahwa masyarakat kapitalis cenderung mengubah warga negara yang aktif menjadi konsumen pasif. Ia juga mengkritik komodifikasi media massa dan hiburan yang menurutnya menghancurkan debat publik yang kritis.
Karya monumentalnya yang paling berpengaruh, The Theory of Communicative Action (1981), menguraikan pandangannya bahwa masyarakat manusia bukan ditopang oleh kekuatan politik atau ekonomi, melainkan oleh kapasitas untuk berdialog secara rasional.
Sepanjang kariernya, Habermas bukan sekadar akademisi di menara gading. Pada 1960-an, ia secara vokal mendukung pemberontakan mahasiswa di universitas-universitas Jerman Barat. Di era 1980-an, ia terlibat dalam perdebatan sengit melawan sejarawan konservatif yang mulai mempertanyakan keunikan sejarah Holocaust sebagai fenomena khusus Jerman.
Habermas juga dikenal sebagai pendukung setia persatuan Eropa. Baginya, Uni Eropa adalah pertahanan terbaik melawan kebangkitan rivalitas nasionalisme yang sempat ia khawatirkan kembali muncul saat proses penyatuan Jerman Barat dan Timur pada 1989-1990.
Meninggalnya Habermas menandai berakhirnya sebuah era bagi dunia filsafat dan sosiologi. Warisan intelektualnya tetap menjadi kompas penting bagi demokrasi modern, menekankan pentingnya ruang publik yang sehat dan dialog rasional di tengah dunia yang kian kompleks. (BBC/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved