Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Profil Lengkap USS Abraham Lincoln (CVN-72): Sejarah, Spesifikasi, dan Kekuatan Tempur 2026

mediaindonesia.com
28/1/2026 23:00
Profil Lengkap USS Abraham Lincoln (CVN-72): Sejarah, Spesifikasi, dan Kekuatan Tempur 2026
USS Abraham Lincoln.(Anadolu)

Profil Lengkap USS Abraham Lincoln (CVN-72): Raksasa Laut Penguasa Samudra

Di tengah ketegangan geopolitik global yang kembali memanas pada awal tahun 2026, nama USS Abraham Lincoln (CVN-72) kembali menjadi sorotan utama. Sebagai kapal induk kelima dari kelas Nimitz, kapal ini bukan sekadar alat perang, melainkan sebuah simbol diplomasi koersif Amerika Serikat yang dijuluki "The Big Stick". Dengan kemampuan memproyeksikan kekuatan udara ke mana saja di muka bumi tanpa memerlukan pangkalan darat, CVN-72 tetap menjadi aset strategis paling mematikan di lautan.

Artikel ini akan mengupas tuntas profil USS Abraham Lincoln, mulai dari spesifikasi teknis, evolusi sayap udaranya yang kini mengusung jet tempur generasi kelima, hingga sejarah panjangnya yang memiliki ikatan emosional dengan Indonesia.

Spesifikasi Teknis: Kota Terapung Bertenaga Nuklir

USS Abraham Lincoln sering disebut sebagai "kota terapung" karena ukurannya yang masif dan fasilitas lengkap yang dimilikinya. Ditenagai oleh reaktor nuklir, kapal ini memiliki jangkauan operasional yang tidak terbatas, hanya dibatasi oleh ketahanan logistik (makanan dan amunisi) untuk kru.

Data Teknis Utama (Status 2026)

Kelas Nimitz-class (Kapal ke-5)
Panjang Total 332,8 meter (Setara tinggi Menara Eiffel)
Bobot Tempur Sekitar 104.000 ton (Full Load)
Tenaga Penggerak 2 x Reaktor Nuklir Westinghouse A4W (4 Poros Baling-baling)
Kecepatan Maksimum Di atas 30 knot (56+ km/jam)
Kru & Personel ~3.200 (Kru Kapal) + ~2.480 (Sayap Udara) = Total ~5.680 Personel
Masa Pakai 50 Tahun (Direncanakan pensiun sekitar tahun 2039-2040)

Kekuatan Udara: Evolusi Carrier Air Wing 9

Kekuatan sejati sebuah kapal induk terletak pada pesawat yang dibawanya. Pada tahun 2026, USS Abraham Lincoln menjadi salah satu kapal induk paling mematikan karena telah mengintegrasikan jet tempur generasi kelima secara penuh ke dalam Carrier Air Wing 9 (CVW-9).

1. F-35C Lightning II (Generasi Kelima)

Berbeda dengan kapal induk generasi lama, dek USS Abraham Lincoln kini menjadi rumah bagi skuadron F-35C (varian kapal induk dari F-35). Pesawat ini memiliki kemampuan stealth (siluman) yang memungkinkannya menembus sistem pertahanan udara canggih musuh untuk mengumpulkan intelijen atau melakukan serangan presisi sebelum musuh menyadari keberadaannya.

2. F/A-18E/F Super Hornet (Tulang Punggung)

Meskipun F-35C adalah bintang baru, Super Hornet tetap menjadi "kuda beban" armada. Jet ini bertugas sebagai penyerang utama, tanker udara (buddy refueling), dan pertahanan armada. Fleksibilitasnya menjadikan Super Hornet aset tak tergantikan dalam operasi sehari-hari.

3. E-2D Advanced Hawkeye (Mata Dewa)

Pesawat dengan piringan radar besar di punggungnya ini berfungsi sebagai pusat komando terbang. E-2D mampu mendeteksi ancaman rudal atau pesawat musuh dari jarak ratusan kilometer dan mengarahkan jet tempur untuk mencegatnya. Tanpa E-2D, armada tempur akan "buta" terhadap ancaman jarak jauh.

Sejarah Operasional: Ikatan dengan Indonesia

Bagi masyarakat Indonesia, USS Abraham Lincoln memiliki tempat tersendiri dalam sejarah kemanusiaan, terlepas dari fungsi utamanya sebagai mesin perang.

Operasi Kemanusiaan Tsunami Aceh (2004)

Setelah gempa bumi dan tsunami dahsyat melanda Aceh pada Desember 2004, USS Abraham Lincoln yang saat itu berada di Hong Kong segera diperintahkan berputar haluan menuju Sumatera. Dalam operasi bertajuk Operation Unified Assistance, helikopter-helikopter dari kapal ini menjadi ujung tombak pengiriman bantuan logistik ke daerah-daerah terisolasi di Aceh yang tidak bisa dijangkau lewat darat. Ribuan nyawa terselamatkan berkat misi kemanusiaan ini, yang sekaligus meredakan ketegangan diplomatik antara AS dan Indonesia kala itu.

Evakuasi Gunung Pinatubo (1991)

Dalam misi pelayaran perdananya, kapal ini langsung dihadapkan pada bencana alam letusan Gunung Pinatubo di Filipina. Melalui Operation Fiery Vigil, USS Abraham Lincoln mengevakuasi lebih dari 45.000 personel militer dan keluarga dari Pangkalan Angkatan Laut Subic Bay, menjadikannya evakuasi masa damai terbesar dalam sejarah.

Biaya Operasional yang Fantastis

Mengoperasikan raksasa ini membutuhkan biaya yang mencengangkan. Berdasarkan estimasi anggaran pertahanan tahun 2026, biaya operasional satu gugus tempur kapal induk (Carrier Strike Group) bisa mencapai puluhan miliar Rupiah per hari.

  • Biaya Pembangunan: Setara dengan sekitar Rp70 Triliun (nilai historis, disesuaikan inflasi).
  • Biaya Operasional Harian: Diperkirakan mencapai Rp30-40 Miliar per hari (mencakup bahan bakar pesawat, gaji ribuan personel, perawatan reaktor, dan logistik).

Relevansi di Tahun 2026

Hingga tahun 2026, setelah menjalani peremajaan total (RCOH) yang selesai pada 2017, USS Abraham Lincoln berada dalam kondisi prima. Pengerahannya ke Timur Tengah di bawah komando CENTCOM untuk merespons ketegangan dengan Iran menunjukkan bahwa doktrin "Armada Besar" masih menjadi andalan Washington. Kehadirannya bukan hanya soal daya hancur, tetapi pesan politik bahwa Amerika Serikat siap mempertahankan kepentingannya di belahan dunia mana pun, kapan pun.

Sebagai platform yang menggabungkan kekuatan nuklir, teknologi siluman F-35C, dan ribuan personel terlatih, USS Abraham Lincoln tetap menjadi definisi nyata dari kekuatan super di lautan lepas.

PENAFIAN

Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya