Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
GELOMBANG protes yang melanda Iran sejak 28 Desember lalu kini berubah menjadi tragedi kemanusiaan yang memilukan. Sejumlah saksi mata dan tenaga medis yang berbicara kepada CNN menggambarkan situasi "neraka" di jalanan Teheran dan kota-kota lainnya, di mana aparat keamanan menggunakan kekerasan brutal untuk meredam massa.
Seorang perempuan paruh baya memberikan kesaksian memilukan tentang kondisi salah satu rumah sakit di ibu kota. Ia mengaku melihat "tubuh-tubuh yang menumpuk satu sama lain" di tengah kekacauan fasilitas medis yang kewalahan menangani korban.
Aksi yang awalnya dipicu oleh inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok di pasar-pasar tradisional ini kini telah menyebar ke lebih dari 100 kota. Para demonstran menyebut atmosfer berubah drastis menjadi sangat mematikan sesaat setelah pidato Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, pada Jumat malam.
“Peluru, gas air mata, apa pun yang bisa Anda pikirkan, mereka menembakkannya. Itu sangat menakutkan,” ujar seorang pekerja sosial di Teheran. Ia bahkan menyaksikan seorang gadis disetrum di bagian leher hingga pingsan, serta putra rekannya yang tewas dalam aksi tersebut.
Di Neyshabur, seorang dokter melaporkan setidaknya 30 orang tewas akibat tembakan senapan militer, termasuk anak-anak. “Seorang anak berusia lima tahun ditembak saat berada di pelukan ibunya,” ungkap sang dokter dalam sebuah pesan suara.
Dampak dari tindakan keras ini juga terlihat di berbagai pusat kesehatan. Mohammad Lesanpezeshki, seorang dokter di Chicago yang berhubungan dengan rekan-rekannya di Iran, menyebutkan rumah sakit mata Farabi di Teheran mengalami lonjakan pasien yang mengerikan. Diperkirakan 200 - 300 orang datang dengan peluru pelet yang bersarang di mata mereka.
Kisah memilukan lainnya datang dari Najafabad. Seorang sumber medis di Rumah Sakit Montazeri menceritakan betapa putus asanya para orangtua. "Orang-orang bergegas ke rumah sakit untuk mengambil jenazah anak-anak mereka, lalu segera menguburkan mereka dengan pakaian yang masih melekat," ujarnya. Dalam tradisi Muslim Iran, jenazah biasanya dimandikan dan dikafani sebelum dimakamkan.
Lembaga Human Rights Activists News Agency (HRANA) mengestimasi sedikitnya 116 orang tewas, termasuk 38 personel keamanan, sejak protes dimulai. Tujuh di antara korban tewas adalah anak di bawah umur, dan lebih dari 2.600 orang telah ditangkap.
Meskipun pemerintah melakukan pemutusan akses internet secara total, warga melaporkan bahwa langkah tersebut justru menjadi bumerang. Frustrasi akibat pemblokiran informasi justru mendorong lebih banyak orang dari berbagai usia untuk turun ke jalan di bawah kegelapan malam.
“Sayangnya, kita mungkin harus menerima kenyataan bahwa rezim ini tidak akan turun dengan kekalahan tanpa kekuatan eksternal,” ujar salah satu demonstran dengan nada getir.
Hingga saat ini, komunitas internasional terus memantau situasi di Iran. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan dukungannya terhadap rakyat Iran, sementara militer Iran meminta warga untuk tetap "waspada" terhadap apa yang mereka sebut sebagai agenda musuh. (CNN/Z-2)
Korban jiwa dalam kerusuhan di Iran melonjak drastis hingga 2.000 orang. Presiden AS Donald Trump menyerukan protes berlanjut dan siapkan opsi militer.
Ketegangan AS-Iran memuncak. Teheran mengancam akan menargetkan pasukan Amerika di Timur Tengah setelah Donald Trump menyatakan siap "menyelamatkan" demonstran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved