Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

KTT Uni Eropa Memanas: Rencana Pinjaman Rp1.500 Triliun dari Aset Rusia untuk Ukraina

Thalatie K Yani
18/12/2025 11:38
KTT Uni Eropa Memanas: Rencana Pinjaman Rp1.500 Triliun dari Aset Rusia untuk Ukraina
Pemimpin Uni Eropa berkumpul di Brussels untuk memutuskan penggunaan aset Rusia yang dibekukan guna mendanai Ukraina. Simak rincian rencana dan tantangan hukumnya.(Media Sosial X)

PARA pemimpin Uni Eropa memulai pertemuan puncak selama dua hari di Brussels untuk mengambil keputusan monumental. Apakah akan meminjamkan puluhan miliar euro dari aset Rusia yang dibekukan untuk mendanai kebutuhan militer dan ekonomi Ukraina.

Langkah ini dianggap krusial mengingat kondisi keuangan Ukraina yang diprediksi akan mengering dalam hitungan bulan jika tidak ada suntikan dana segar. Komisi Eropa telah mengusulkan pinjaman sekitar €90 miliar (sekitar Rp1.500 triliun) kepada Kyiv selama dua tahun ke depan, yang diambil dari total €210 miliar aset Rusia yang kini tersita di Eropa.

Sinyal Tegas untuk Moskow 

Kanselir Jerman Friedrich Merz menjadi salah satu tokoh utama yang mendorong penggunaan aset tersebut. Berbicara di depan Bundestag menjelang KTT, Merz menegaskan langkah ini bertujuan mengirimkan "sinyal yang jelas" kepada Moskow melanjutkan perang adalah tindakan yang sia-sia.

Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen juga menekankan urgensi situasi ini. "Kita tahu urgensinya. Ini sangat akut. Kita semua merasakannya dan melihatnya," ujarnya. Menurutnya, langkah ini akan meningkatkan biaya perang yang harus dibayar oleh Rusia.

Tantangan Hukum dan Oposisi Internal 

Meski demikian, jalan menuju kesepakatan tidaklah mulus. Sebagian besar aset Rusia disimpan di Euroclear, organisasi yang berbasis di Belgia. Perdana Menteri Belgia, Bart De Wever, sejauh ini belum tulus yakin, sementara Menteri Pertahanannya, Theo Francken, memperingatkan meminjamkan dana tersebut bisa menjadi kesalahan besar.

Oposisi terkuat datang dari Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban, yang menyatakan tidak akan membiarkan dana Uni Eropa digunakan untuk membantu Ukraina. Slovakia juga menyuarakan keberatan jika dana tersebut digunakan untuk pengadaan senjata daripada rekonstruksi.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menambahkan syarat ketat dasar hukum harus benar-benar solid. "Jika dasar hukum inisiatif ini tidak kuat, kita justru akan memberikan kemenangan nyata pertama bagi Rusia sejak awal konflik ini," tegas Meloni.

Posisi Rusia dan Diplomasi Global

Di sisi lain, Rusia telah melayangkan peringatan keras. Presiden Vladimir Putin memberikan kritik tajam dengan menyebut Eropa berada dalam kondisi "degradasi total". Moskow bahkan telah mengajukan gugatan terhadap Euroclear di pengadilan Rusia untuk mendapatkan kembali uangnya.

Momentum KTT ini juga terjadi di tengah klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebutkan kesepakatan untuk mengakhiri perang "kini lebih dekat dari sebelumnya." Namun, Kremlin tetap menolak keras rencana pengerahan pasukan multinasional pimpinan Eropa di Ukraina meskipun didukung oleh AS.

Jika kesepakatan ini tercapai, pemungutan suara akhir membutuhkan dukungan mayoritas sekitar dua pertiga negara anggota. Presiden Dewan Eropa António Costa berjanji tidak akan mengabaikan kekhawatiran Belgia dalam proses pengambilan keputusan ini. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik