Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
KANDIDAT konservatif Jose Antonio Kast meraih kemenangan telak pada Pemilu Cile. Rivalnya dari kubu kiri, Jeannette Jara, dengan cepat mengakui kekalahan.
Dengan sekitar 80% suara telah dihitung, Kast mengantongi 58% suara, unggul jauh dan tak terkejar dari Jara, anggota Partai Komunis yang memimpin koalisi kiri luas. Di pusat ibu kota Santiago, para pendukung Kast merayakan kemenangan dengan membunyikan klakson mobil, mengibarkan bendera, dan bersorak merayakan hasil yang menandai pergeseran arah politik Cile.
Kast berkampanye dengan janji-janji tegas, termasuk mendeportasi ratusan ribu imigran ilegal, menutup perbatasan utara, menekan tingkat kejahatan kekerasan, serta menggerakkan kembali ekonomi yang lesu. Cile, yang dahulu dikenal sebagai salah satu negara paling aman dan makmur di kawasan Amerika, mengalami tekanan berat dalam beberapa tahun terakhir akibat pandemi Covid-19, gelombang protes sosial, dan masuknya kelompok kejahatan terorganisasi.
“Saya punya harapan besar dia akan membereskan masalah imigrasi,” ujar Maribel Saavedra, 42, pekerja sosial.
Kemenangan Kast menjadi bagian dari tren menguatnya politik kanan di Amerika Latin, setelah hasil serupa terjadi di Argentina, Bolivia, Honduras, El Salvador, dan Ekuador. Bagi Kast, ayah sembilan anak berusia 59 tahun, ini merupakan keberhasilan pada percobaan ketiganya maju sebagai calon presiden.
Jeannette Jara menyatakan telah menelepon Kast untuk mengakui kekalahan. Dalam unggahan di media sosial X, ia mengatakan para pemilih telah berbicara “dengan jelas dan lantang”.
Usai mencoblos di dekat Santiago dan berfoto bersama pendukungnya, Kast berjanji merangkul seluruh rakyat Cile setelah kampanye yang berlangsung sengit. “Pemenang harus menjadi presiden bagi seluruh warga Cile,” katanya.
Meski dikenal memiliki pandangan yang jauh lebih konservatif dibandingkan mayoritas warga Cile, termasuk penolakannya terhadap aborsi tanpa pengecualian, banyak pemilih mengaku siap menerima perubahan drastis demi rasa aman. “Yang penting,” kata ibu rumah tangga Ursula Villalobos, 44, “orang bisa keluar rumah tanpa rasa takut dan pulang malam tanpa khawatir akan terjadi sesuatu di jalan.”
Namun, kemenangan Kast juga memicu kekhawatiran sebagian warga akan kembalinya bayang-bayang otoritarianisme era Augusto Pinochet. “Saya takut karena saya pikir akan ada banyak represi,” ujar pensiunan berusia 71 tahun, Cecilia Mora. “Dia mengingatkan saya pada diktator. Saya melihatnya sebagai Pinochet tanpa seragam.”
Pemilu ini digelar dengan sistem wajib pilih untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade, dengan hampir 16 juta warga terdaftar. Hasilnya kembali menegaskan pola politik Cile yang terus berganti antara pemerintahan kiri dan kanan sejak 2010, di tengah keresahan publik terhadap keamanan dan stabilitas nasional. (AFP/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved