Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

José Antonio Kast Unggul di Putaran Pertama Pilpres Cile, Tantang Kandidat Komunis Jeannette Jara

Thalatie K Yani
17/11/2025 08:53
José Antonio Kast Unggul di Putaran Pertama Pilpres Cile, Tantang Kandidat Komunis Jeannette Jara
José Antonio Kast memimpin perolehan suara putaran pertama Pilpres Cile dan akan menghadapi kandidat Partai Komunis, Jeannette Jara, dalam putaran kedua pada 14 Desember.(Media Sosial X)

PENGACARA ultrakonservatif José Antonio Kast berada di posisi terdepan untuk menjadi presiden Cile berikutnya setelah melaju ke putaran kedua pemilihan presiden. Ia akan berhadapan dengan kandidat Partai Komunis, Jeannette Jara.

Dengan lebih dari 70% suara dihitung, Kast meraih sekitar 24% suara dalam pemungutan suara putaran pertama pada Minggu. Ia berkampanye dengan janji keras untuk menindak kejahatan dan membatasi imigrasi, serta menyuarakan slogan bergaya Donald Trump untuk “mengutamakan rakyat Cile”.

Jara, mantan menteri tenaga kerja di bawah Presiden Gabriel Boric, meraih dukungan sedikit lebih tinggi, yakni sekitar 26%. Namun, para kandidat sayap kanan lainnya mengumpulkan hampir 30% suara, menjadikan Kast sebagai favorit kuat untuk memenangkan putaran kedua pada 14 Desember.

Tak lama setelah hasil suara mulai mengerucut, Johannes Kaiser, kandidat libertarian radikal yang meraih sekitar 14% suara, mengumumkan dukungan kepada Kast, dengan alasan alternatifnya adalah “Nyonya Jara” dan para “pemiskin dari kubu kiri”. Evelyn Matthei, kandidat konservatif lain yang meraih sekitar 13% suara, juga segera menyatakan dukungan. Ia menyoroti “kedatangan migran yang sepenuhnya tak terkendali” dan menyatakan Cile membutuhkan “perubahan arah yang tegas”.

“Mohon dukung Kast… Sangat penting pemerintahan ini tidak terus berlanjut. Kita punya terlalu banyak masalah,” ujar Matthei di hadapan pendukungnya sembari berdiri di samping Kast.

Presiden Boric mengucapkan selamat kepada kedua kandidat yang melaju ke putaran kedua, menyebut hari pemungutan suara sebagai “hari demokrasi yang spektakuler”.

Berbicara di Santiago, Jara berterima kasih kepada para pendukung dan menegaskan Cile tetap negara besar. Meski rival-rivalnya dari kubu kanan menggambarkan sebaliknya.

Kast, 59, menjalani upaya ketiga dalam pencalonannya sebagai presiden setelah kalah dari Boric pada 2021. Kampanyenya berfokus pada dua isu utama, kejahatan dan imigrasi. Salah satu rencananya, disebut Escudo Fronterizo (Perisai Perbatasan), mengusulkan pembangunan parit, penghalang, dan tembok di perbatasan utara Cile untuk mencegah masuknya migran. Lebih dari setengah juta warga Venezuela telah datang ke Cile dalam beberapa tahun terakhir akibat krisis ekonomi di negara mereka.

“Cile telah diserbu… tetapi ini berakhir sekarang,” ujarnya dalam salah satu iklan kampanye.

Kast juga menekankan rencananya memperketat langkah terhadap pelaku kejahatan asing, terinspirasi kebijakan keras Presiden El Salvador, Nayib Bukele. Keamanan publik menjadi isu sentral pemilu akibat meningkatnya kejahatan seperti pembunuhan, penculikan, dan pemerasan, meskipun Cile tetap termasuk negara paling aman di kawasan.

Kemajuan Kast disebut menyenangkan kalangan konservatif di Washington. Para pejabat era Donald Trump, termasuk Marco Rubio, memandang perkembangan ini sebagai bagian dari gelombang konservatisme di Amerika Selatan. Baru-baru ini, Bolivia memilih presiden dari kubu tengah kanan setelah dua dekade pemerintahan sosialis, sementara kandidat sayap kanan juga diprediksi memiliki peluang kuat di pemilu Kolombia dan Peru tahun depan. (The Guardian/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya