Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

AS Kembali Wajibkan Times New Roman untuk Dokumen Resmi, Batalkan Aturan Era Biden

Thalatie K Yani
11/12/2025 07:35
AS Kembali Wajibkan Times New Roman untuk Dokumen Resmi, Batalkan Aturan Era Biden
Menlu AS Marco Rubio(Media Sosial X)

MENTERI Luar Negeri AS Marco Rubio menginstruksikan Departemen Luar Negeri untuk kembali menggunakan jenis huruf Times New Roman sebagai standar dalam seluruh dokumen resmi. Kebijakan itu menggantikan Calibri yang diberlakukan pada masa pemerintahan sebelumnya. Hal ini dikonfirmasi juru bicara Departemen Luar Negeri kepada CNN.

Mulai Rabu, seluruh dokumen harus menggunakan Times New Roman ukuran 14 poin untuk menyesuaikan dengan arahan presiden bertajuk “One Voice for America’s Foreign Relations.” Juru bicara tersebut menyebut jenis huruf ini dinilai lebih formal dan profesional.

Kebijakan baru ini membatalkan keputusan Departemen Luar Negeri pada 2023 yang mengganti font resmi menjadi Calibri. Saat itu, Menteri Luar Negeri Antony Blinken melakukan perubahan berdasarkan rekomendasi kelompok internal yang fokus pada keberagaman dan disabilitas, sebagai upaya membuat dokumen dan laman web lebih mudah diakses.

Calibri merupakan jenis huruf sans serif yang lebih bersih dan tidak memiliki garis tambahan seperti Times New Roman. Menurut sejumlah ahli, karakter huruf seperti ini memudahkan pembacaan bagi penyandang disleksia atau gangguan penglihatan. Standar aksesibilitas ADA juga merekomendasikan penggunaan font sans serif. Namun, pedoman American Psychological Association tetap mengizinkan penggunaan huruf serif seperti Times New Roman, terutama karena teknologi bantu memungkinkan pengguna menyesuaikan tampilan huruf.

“Huruf serif tetap menjadi standar di pengadilan, lembaga legislatif, dan berbagai lembaga federal, di mana keabadian dan otoritas dokumen tertulis menjadi hal utama,” ujar juru bicara Departemen Luar Negeri.

Lucas de Groot, desainer font Calibri, mengatakan dirinya terkejut mengetahui keputusan tersebut. “Saya agak terkejut dengan kabar itu. Menurut saya ini lucu sekaligus keputusan yang agak menyedihkan. Calibri dirancang agar sangat mudah dibaca di layar dalam ukuran kecil,” ujarnya kepada CNN.

De Groot juga menanggapi anggapan karyanya dianggap sebagai font “woke.” “Saya tidak tahu,” katanya sambil tertawa. “Saya tidak tahu apa unsur ‘woke’ di dalamnya.” Ia menjelaskan bahwa Calibri didesain agar mudah dibaca oleh pengguna dengan gangguan penglihatan. “Merancang huruf bagi saya selalu tentang membuatnya mudah dibaca dan memiliki suara yang simpatik, suara yang ramah. Menurut saya, Times adalah langkah mundur ke masa lalu.”

Pembalikan kebijakan ini muncul seiring langkah Presiden Donald Trump yang menargetkan program keberagaman, kesetaraan, dan inklusi di pemerintahan. Pada Januari, Trump menandatangani perintah eksekutif untuk mengakhiri apa yang ia sebut program DEI pemerintahan yang “radikal dan pemborosan.” Pemerintah kemudian menempatkan pegawai federal yang bekerja di bidang tersebut dalam status cuti dan menekan perusahaan agar meninggalkan inisiatif DEI. Sejumlah upaya itu, termasuk pembatasan program DEI di sekolah, telah dibatalkan pengadilan. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik