Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Gunung Api Bawah Laut di Oregon AS Diprediksi Meletus pada 2026

Abi Rama
05/12/2025 11:00
Gunung Api Bawah Laut di Oregon AS Diprediksi Meletus pada 2026
Peneliti memperkirakan gunung Axial Seamount akan erupsi tahun 2026. Pasalnya inflasi gunung api mencapai 95% dari kondisi sebelum erupsi satu dekade lalu.(freepik)

AKTIVITAS Gunung Api Bawah Laut Axial Seamount yang berada di lepas pantai Oregon, Amerika Serikat, kembali menjadi sorotan para ilmuwan. Gunung api yang terletak di sepanjang Juan de Fuca Ridge ini dikenal sebagai salah satu gunung api bawah laut paling aktif di Pasifik Timur Laut.

Tercatat gunung ini sudah pernah mengalami tiga kali erupsi, pada 1998, 2011, dan 2015. Kini, para ahli memperkirakan letusan berikutnya dapat terjadi kembali tahun 2026.

Mengutip dari laman Live Science, prediksi ini merupakan pembaruan dari perkiraan sebelumnya. Pada Desember 2024, para ilmuwan menilai tingkat inflasi gunung sudah hampir mencapai ambang yang sama seperti sebelum letusan pada 2015. Saat itu, inflasi gunung api mencapai 95% dari kondisi sebelum erupsi satu dekade lalu.

Inflasi dalam konteks ini merupakan proses pembengkakan dasar laut yang terjadi ketika magma naik dari dalam perut bumi sehingga menekan permukaan dasar laut. Fenomena ini merupakan tanda aktivitas gunung berapi yang meningkat dan dapat menjadi prediksi awal gunung tersebut akan meletus.

Namun, dinamika Axial Seamount kembali berubah. Memasuki April 2025, laju inflasi melambat, membuat ilmuwan harus meninjau ulang estimasi mereka. Dalam pembaruan blog resmi Axial pada akhir Oktober 2025, peneliti Oregon State University sekaligus pakar gunung api bawah laut, Bill Chadwick, menjelaskan gunung api itu memerlukan waktu lebih lama untuk mencapai ambang inflasi yang memicu letusan terakhir. Ia menegaskan, dengan kecepatan inflasi saat ini, Axial kemungkinan baru mencapai titik kritisnya pada pertengahan hingga akhir 2026.

Chadwick menjelaskan Axial Seamount memiliki pola perilaku yang mirip dengan gunung api Krafla di Islandia. Pada gunung seperti ini, ambang inflasi yang diperlukan untuk memicu letusan biasanya meningkat sedikit pada setiap erupsi baru. Sebagai contoh, ambang inflasi sebelum letusan 2015 tercatat sekitar 30 sentimeter lebih tinggi dibandingkan sebelum erupsi 2011. Karena itu, para ilmuwan menduga Axial juga membutuhkan pengangkatan tambahan sebelum benar-benar meletus.

Saat ini, dasar laut di sekitar Axial berada sekitar 10 sentimeter lebih tinggi dibandingkan kondisi tepat sebelum letusan 2015. Masih diperlukan sekitar 20 sentimeter pengangkatan lagi untuk mencapai ambang yang diperkirakan memicu erupsi berikutnya. Ini tetap merupakan perkiraan terbaik berdasarkan pola sebelumnya, karena perilaku gunung api bawah laut kerap berubah-ubah.

Salah satu alasan meningkatnya ambang inflasi pada setiap letusan adalah karena magma yang naik menekan kerak bumi di sekitarnya. Tekanan tersebut membuat jalur magma semakin sulit ditembus pada erupsi berikutnya. Namun, fenomena ini tidak akan berlangsung selamanya. Pergerakan lempeng di Juan de Fuca Ridge perlahan melepaskan tekanan tersebut seiring penyebaran kerak baru di dasar laut.

Meski begitu, memprediksi letusan gunung api bawah laut tetap menjadi tantangan besar. Chadwick mengakui laju inflasi dan titik ambang letusan sangat tidak stabil. Prediksi-prediksi yang ia jelaskan di blog hanyalah hasil pengenalan pola dari data pemantauan sebelumnya, ditambah perkiraan bagaimana pola itu mungkin terulang di masa mendatang. (Live Science/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya