Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
INGGRIS kini disebut sebagai “negara termahal di dunia” untuk membangun pembangkit listrik nuklir. Hal itu menurut laporan pemerintah yang mengkritik birokrasi sektor energi atom yang terlalu kompleks.
Laporan ini, yang diminta langsung Perdana Menteri Sir Keir Starmer, menyerukan “reset radikal” terhadap strategi nuklir nasional untuk membuat proyek lebih aman dan efisien. Reformasi ini diprediksi dapat menghemat Inggris “puluhan miliar pound” sekaligus membalikkan tren penurunan industri nuklir dalam beberapa tahun terakhir, menurut Nuclear Regulatory Taskforce.
Laporan menemukan sistem regulasi yang “terfragmentasi” telah menciptakan kurangnya pengawasan keselamatan menyeluruh, memaksa pengambilan keputusan yang konservatif dan mahal, tidak sebanding dengan risiko yang sebenarnya dikelola. Sektor ini digambarkan sebagai “hampir monopoli”, dengan program sipil maupun pertahanan rawan mengalami pembengkakan biaya dan keterlambatan jadwal.
Pembangkit nuklir dianggap “krusial untuk masa depan Inggris”, terutama ketika negara ini berisiko tertinggal dari “renaissance nuklir global”. Laporan menyoroti kebijakan Inggris yang terlalu menghindari risiko, termasuk aturan radiasi yang sangat konservatif bagi pekerja.
Salah satu rekomendasi utama adalah pembentukan badan tunggal (“one-stop commission”) untuk pengambilan keputusan nuklir. Kewenangan terpusat agar proyek bisa dijalankan lebih cepat dan efektif.
“Solusi kami radikal, tapi diperlukan. Dengan menyederhanakan regulasi, kita bisa tetap menjaga atau meningkatkan standar keselamatan sekaligus mewujudkan kapasitas nuklir secara aman, cepat, dan terjangkau,” ujar Ketua taskforce John Fingleton.
Pemerintah diperkirakan akan menanggapi temuan laporan ini dalam anggaran bulan ini.
Secara global, sejumlah negara besar tengah meninjau kembali strategi nuklir mereka. Jumlah pembangkit nuklir yang direncanakan saat ini hampir sama dengan jumlah yang sudah beroperasi. Inggris termasuk 30 negara yang menandatangani janji global untuk tiga kali lipat kapasitas nuklir pada 2050 guna menekan emisi karbon.
Saat ini, pembangkit nuklir di Inggris menyumbang sekitar 15% dari total listrik pada 2024. Negeri ini mengoperasikan sembilan reaktor, namun sebagian besar sudah tua, dengan delapan akan ditutup pada 2030. Pembangunan baru sedang berjalan, tetapi membutuhkan beberapa tahun untuk beroperasi. Hinkley Point C di Somerset diperkirakan mulai beroperasi awal 2030-an, diikuti Sizewell C, yang disebut mampu memasok listrik untuk enam juta rumah.
Selain itu, Inggris juga mengembangkan pembangkit nuklir kecil (small modular reactors) yang lebih cepat dibangun dibanding reaktor besar. Di sisi lain, negara seperti Prancis dan Tiongkok memperluas kapasitasnya, sementara Amerika Serikat baru menyelesaikan reaktor pertama dalam lebih dari tiga dekade, dan Jepang menargetkan nuklir menyuplai seperlima listriknya pada 2040. Sebaliknya, Jerman telah menghentikan penggunaan nuklir, mengandalkan energi terbarukan.
Namun, energi nuklir tetap kontroversial, dengan opini publik masih terpengaruh oleh insiden keselamatan besar, termasuk bencana Fukushima 2011 dan Chernobyl 1986. (BBC/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved