Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Mengungkap Hizbullah: Sejarah, Peran, dan Masa Depan Kelompok yang Mengubah Timur Tengah

Irvan Sihombing
17/11/2025 12:24
Mengungkap Hizbullah: Sejarah, Peran, dan Masa Depan Kelompok yang Mengubah Timur Tengah
Bendera nasional Libanon (kanan) dan bendera Hizbullah.(Anadolu Agency)

Apa Itu Hizbullah?

Hizbullah adalah kelompok politik dan militer di Libanon yang didirikan pada tahun 1980-an. Kelompok ini sering disebut sebagai "Partai Allah" dalam bahasa Arab, yang berarti partai Tuhan. Hizbullah lahir di tengah konflik sipil Libanon dan invasi Israel pada 1982. Mereka bertujuan melindungi komunitas Syiah di Libanon dari ancaman luar. Hingga kini, Hizbullah memainkan peran besar dalam politik Libanon, meski sering menuai kontroversi karena hubungannya dengan Iran.

Sejarah Singkat Hizbullah

Hizbullah muncul selama Perang Saudara Libanon (1975-1990). Saat Israel menyerang Libanon selatan pada 1982, banyak pemuda Syiah bergabung untuk melawan pendudukan. Didukung oleh Iran, kelompok ini resmi dibentuk pada 1985 melalui "Surat Terbuka" yang menyatakan tujuannya membangun negara Islam dan melawan Israel.

Peristiwa Penting dalam Sejarah Hizbullah

  • 1982-2000: Perlawanan gerilya melawan Israel di Libanon selatan, yang berujung pada penarikan pasukan Israel pada 2000.
  • 2006: Perang Libanon-Israel, di mana Hizbullah berhasil menahan serangan Israel meski mengalami kerugian besar.
  • 2010-an: Hizbullah terlibat dalam konflik Suriah untuk mendukung pemerintah Bashar al-Assad.

Struktur dan Dukungan Hizbullah

Hizbullah memiliki struktur seperti negara kecil. Mereka punya sayap militer yang kuat, sayap politik yang memenangkan kursi di parlemen Libanon, dan jaringan sosial yang menyediakan layanan kesehatan serta pendidikan bagi warga miskin. Dukungan utama datang dari Iran, yang memberikan dana dan senjata. Di Libanon, Hizbullah kuat di kalangan Syiah, tapi sering dikritik oleh kelompok lain karena dianggap mengganggu kedaulatan negara.

Peran Politik Hizbullah di Lebanon

Dalam politik, Hizbullah adalah bagian dari koalisi pemerintah. Pada pemilu 2022, aliansi mereka memenangkan banyak kursi di parlemen. Pada 2025, setelah perang dengan Israel, Hizbullah mengontrol beberapa kementerian seperti Kesehatan dan Tenaga Kerja di bawah Perdana Menteri Nawaf Salam.

Konflik Terkini: Perang 2023-2024 dan Gencatan Senjata

Pada 2023, ketegangan antara Hizbullah dan Israel memuncak setelah serangan Hamas di Gaza. Hizbullah meluncurkan roket ke Israel dari Libanon selatan, memicu balasan keras. Konflik ini berlangsung hingga 2024, menyebabkan ribuan korban dan jutaan pengungsi di Libanon. Pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, tewas dalam serangan Israel pada September 2024.

Dampak Perang terhadap Libanon

Perang menghancurkan banyak bangunan di selatan Libanon, dengan kerusakan mencapai miliaran dolar. Lebih dari 1,2 juta orang mengungsi. Pada November 2024, gencatan senjata dicapai berdasarkan Resolusi PBB 1701, yang mengharuskan Hizbullah mundur dari perbatasan dan Israel menarik pasukannya.

Isu Diskualifikasi Senjata Hizbullah pada 2025

Pada 2025, Libanon menghadapi tekanan besar untuk mendiskualifikasi senjata Hizbullah. Pemerintah baru di bawah Presiden Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam menyetujui rencana "Perisai Tanah Air" pada September 2025. Rencana ini bertujuan agar hanya tentara Libanon yang memegang senjata, dengan batas waktu akhir tahun. Hizbullah menolak keras, dengan pemimpin Naim Qassem menyatakan bahwa perlawanan mereka tetap kuat untuk melindungi kedaulatan Libanon.

Protes dan Tantangan Politik

Surat terbuka Hizbullah pada November 2025 menolak negosiasi baru dengan Israel dan menekankan penegakan gencatan senjata. Ribuan pendukung Hizbullah memprotes di Beirut, sementara pemerintah berusaha menyeimbangkan tekanan dari AS dan Israel. Meski melemah, Hizbullah tetap berpengaruh, tapi masa depannya tidak pasti.

Masa Depan Hizbullah: Tantangan dan Harapan

Hizbullah menghadapi tantangan besar: kerusakan perang, tekanan internasional, dan perubahan politik di Libanon. Beberapa analis bilang dominasi mereka mulai pudar, tapi kelompok ini tetap setia pada ideologi anti-Israel. Bagi Libanon, diskualifikasi Hizbullah bisa membawa stabilitas, tapi juga risiko konflik sipil. Masa depan tergantung pada dialog dan kompromi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya