Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
SANDWICH keju dan teh menjadi menu sarapan anak Taghrid al-Najjar. Seharusnya ini menjadi momen sehari-hari, tetapi rumah mereka di Jalur Gaza kini sebagian besar berupa puing-puing.
Dindingnya runtuh. Perabotan dan peralatan terkubur di bawah beton. Hingga perang terjadi, ibu berusia 46 tahun ini tidak pernah meninggalkan desa pertaniannya di sepanjang perbatasan dengan Israel di tenggara Jalur Gaza, Palestina.
Sejak Jumat (24/11), gencatan senjata telah menghentikan pertempuran antara Israel dan Hamas, sehingga memungkinkan mereka untuk kembali ke lingkungan yang hancur. "Hanya di sini saya merasa baik-baik saja," katanya.
Baca juga: Israel Jadikan Kota Jenin Zona Militer Perang, Kepung RS dan Kamp Pengungsi
Najjar melarikan diri ketika pengeboman Israel dimulai saat berperang dengan Hamas sebagai pembalasan atas serangan 7 Oktober. Selama berminggu-minggu dia tinggal bersama sembilan anggota keluarganya di sekolah Khan Yunis yang diubah menjadi kamp darurat bagi para pengungsi.
Najjar mengatakan puluhan orang di keluarga besarnya telah tewas. Segera setelah gencatan senjata mulai berlaku pada Jumat--kini telah diperpanjang dua hari lagi--dia mulai berjalan pulang ke Abasan dengan berjalan kaki.
Baca juga: Penyintas Genosida Nazi Menentang Pembantaian Israel di Gaza
"Saya menemukan bahwa rumah saya telah hancur total. Selama 27 tahun hidup saya untuk membangunnya dan semuanya hilang!" dia berkata.
"Selama dua hari saya tidak bisa makan. Lalu saya berkata pada diri sendiri bahwa saya harus terus hidup," tambahnya sambil menatap anak-anaknya.
"Rumah saya hancur tetapi anak-anak saya masih hidup. Jadi kami akan membangunnya kembali. Kami sudah melakukannya sekali. Kami bisa melakukannya lagi," katanya kepada AFP.
Setiap malam keluarga tersebut masuk melalui jendela untuk tidur di satu-satunya kamar yang dindingnya belum seluruhnya roboh. Setelah ada gencatan senjata permanen, kata Najjar, mereka akan mendirikan tenda sampai rumah berdiri lagi.
Perhatian utama tetangganya yang berusia 64 tahun, Jamil Abu Azra, ialah keempat cucunya yang masih kecil. "Mereka bisa tidur di mana saja. Soalnya mereka takut dan trauma," ujarnya. "Bahkan kami orang dewasa pun takut, tetapi kami berpura-pura di depan anak kecil."
Di seberang jalan, Bassem Abu Taaima merenungkan hancurnya bangunan tempat tinggal keluarga dan keempat saudara laki-lakinya. "Kami semua petani atau sopir taksi. Kami sebenarnya tidak ada hubungannya dengan perlawanan," katanya mengenai kelompok bersenjata Palestina. "Jadi kami tidak mengerti mengapa semua ini terjadi kepada kami."
Dengan mengenakan jaket yang diberikan tetangganya, dan celana pendek meskipun cuaca sangat dingin, dia mengatakan dia akan menunggu sampai perang berakhir sebelum mendirikan tenda dan mulai membersihkan serta membangun rumah kembali.
Dia telah menjelajahi puing-puing untuk mencari pakaian hangat, meskipun semua yang dia temukan telah terbakar atau robek.
Sekolah hancur
Di dekatnya, Naim Taaimat, 46, sedang membangun tempat berlindung bagi keluarganya dari kayu, kain, dan beberapa paku. "Di sinilah saya akan tinggal bersama istri saya, ketujuh anak kami, dan ibu saya setelah perang," katanya.
Lebih banyak tenda akan dibutuhkan karena sejumlah saudara laki-lakinya--masing-masing memiliki tujuh anak--juga kehilangan rumah mereka. Saudara-saudara itu berupaya membangun rumah tempat harta milik keluarga tersebut kini terkubur di bawah reruntuhan.
Prioritas pertama Taaimat ialah menemukan pakaian pengantin putrinya, Nivine, karena dia akan menikah minggu depan. Dia menggunakan palu untuk mencoba memecahkan balok beton sebelum mengaduk-aduknya dengan tangan kosong.
"Sekarang dia kehilangan rumahnya dan tunangannya juga kehilangan rumahnya. Jadi aku harus mencari sesuatu agar dia masih bisa sedikit bahagia."
Abdessamad yang berusia dua belas tahun menyela sambil berlari sambil berteriak. "Kami menemukan lampu listrik dan kami punya kayu untuk apinya!"
Duduk bersama teman-temannya di lantai tanah dekat sekolah PBB tempat dulu belajar, yang kini sebagian hancur akibat bom Israel, ia tertawa, bernyanyi, dan bercanda. "Perang benar-benar membuat kami takut dan mengerikan, tetapi ada kabar baik," kata temannya, Nabil, delapan tahun.
Sambil tertawa dan berharap orangtuanya tidak bisa mendengarnya, dia menjelaskan, "Sekolahnya hancur dan kami tidak akan bisa kembali untuk sementara waktu." (Z-2)
Komisaris UNRWA Philippe Lazzarini menyerukan pembentukan panel ahli tingkat tinggi untuk selidiki kematian 390 staf PBB di Gaza. Baca selengkapnya di sini.
PASUKAN Israel menewaskan dua warga Palestina dalam insiden terpisah di Tepi Barat yang diduduki pada Senin (30/3). Ini dikatakan Kementerian Kesehatan Palestina dan militer Israel.
KEPOLISIAN Israel mencegah Patriark Latin Jerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, untuk memasuki Gereja Makam Suci guna merayakan Misa Minggu Palma.
PM Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi memberikan jaminan untuk memfasilitasi penyaluran bantuan kemanusiaan Malaysia kepada masyarakat Gaza.
Menlu Palestina ungkap taktik Israel manfaatkan konflik Iran untuk percepat perluasan pemukiman ilegal di Tepi Barat. Simak kronologi dan dampaknya.
PBB memperingatkan potensi pembersihan etnis di Tepi Barat setelah 36.000 warga Palestina terusir dalam setahun akibat ekspansi pemukiman ilegal Israel.
Menlu Iran Abbas Aragchi menegaskan Teheran siap perang enam bulan dan membantah ada negosiasi dengan AS di tengah konflik kawasan.
PASUKAN militer Israel dilaporkan tidak akan terlibat dalam rencana invasi darat Amerika Serikat ke Iran.
Kemenlu RI menyampaikan kecaman keras terhadap keputusan parlemen Israel, Knesset, yang menyetujui undang-undang pemberlakuan hukuman mati bagi tahanan Palestina.
Pemerintah Jerman mengecam keras serangan yang menewaskan tiga personel UNIFIL asal Indonesia di Libanon dan mendesak semua pihak menahan diri.
Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI, Sodik Mudjahid, menyampaikan duka cita atas gugurnya tiga prajurit serta terlukanya lima prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Libanon.
Presiden AS Donald Trump dilaporkan berang kepada PM Israel Benjamin Netanyahu terkait serangan ke pabrik desalinasi air Iran di Pulau Qeshm. Cek detailnya di sini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved