Rabu 18 Januari 2023, 10:00 WIB

Taiwan Rekrut 200 Tentara Perempuan

Cahya Mulyana | Internasional
Taiwan Rekrut 200 Tentara Perempuan

Sam Yeh / AFP
Ilustrasi: tentara perempuan Taiwan.

 

Pemerintah Taiwan mengizinkan perempuan untuk mengikuti pelatihan pasukan cadangan guna memperkuat pertahanan nasional dalam mengantisipasi ancaman Tiongkok. Jika benar-benar terwujud, ini akan menjadi kali pertamanya pulau itu mengikutsertakan perempuan dalam pasukan mereka.

Taiwan, pulau yang memerintah sendiri secara demokratis, hidup di bawah ketakutan konstan akan terjadinya invasi Tiongkok. Pasalnya, Beijing mengklaim pulau tersebut sebagai bagian dari wilayahnya yang dapat diambil jika diperlukan.

Kementerian Pertahanan Taiwan berencana mengizinkan sekitar 200 tentara perempuan untuk mendaftar dalam pelatihan cadangan sukarela mulai kuartal kedua 2023. Hal ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan pasukan cadangan secara keseluruhan.

"Ini adalah tahun pertama untuk memasukkan perempuan ke dalam pelatihan cadangan," kata Mayor Jenderal Yu Wen-cheng dari Badan Mobilisasi Pertahanan Seluruh Kementerian.

"Kami akan merencanakan kapasitas pelatihan sesuai dengan jumlah pelamar," sambung mereka.

Program sukarela ini bertujuan memperkuat efektivitas pelatihan ulang pasukan cadangan dalam keterampilan tempur untuk membantu meningkatkan kemampuan tempur pasukan cadangan.

Saat ini, hanya pria Taiwan yang diwajibkan melakukan wajib militer dan pelatihan cadangan, meski perempuan juga diperbolehkan menjadi sukarelawan untuk bertugas di angkatan bersenjata.

Banyak analis militer mendesak Taiwan berbuat lebih banyak dalam meningkatkan pasukan cadangannya dan mempersiapkan penduduk sipil di bidang pertahanan, termasuk mengizinkan lebih banyak perempuan untuk berlatih.

Bulan lalu, Taiwan mengumumkan rencana meningkatkan wajib militer bagi pria menjadi satu tahun, naik dari sebelumnya empat bulan. Sementara beberapa anggota parlemen Taiwan telah mengusulkan memasukkan perempuan ke dalam sejumlah layanan wajib.

Presiden Tsai Ing-wen, presiden perempuan pertama Taiwan, mengatakan bahwa perpanjangan dinas militer diperlukan demi memastikan cara hidup demokratis bagi generasi mendatang.

"Tidak ada yang menginginkan perang, tapi rekan senegaraku, perdamaian tidak akan jatuh dari langit," ujarnya.

Taiwan dan Tiongkok berpisah pada akhir Perang Saudara di tahun 1949. Tsai mengatakan, menjadi bagian dari Tiongkok merupakan sesuatu yang tidak dapat diterima oleh warga Taiwan. (AFP/OL-12)

Baca Juga

Rajasthan State Disaster Response Force (SDRF) / AFP

Dua Jet Militer India Tabrakan, Seorang Pilot Tewas

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Sabtu 28 Januari 2023, 19:00 WIB
Peristiwa itu terjadi dalam sebuah tabrakan di udara ketika sedang melakukan latihan di selatan Ibu Kota New...
 Bulent KILIC / AFP

Serangan Rusia Tewaskan Tiga Orang di Kota Kostiantynivka, Ukraina Timur

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Sabtu 28 Januari 2023, 17:23 WIB
Sebelumnya, Kyrylenko mengatakan empat orang telah terbunuh dan sedikitnya tujuh orang terluka akibat serangan Rusia selama 24 jam...
MICHAEL DANTAS / STR / AFP

Alami Gizi Buruk, Anak-anak Suku Asli Amazon Dirawat di Rumah Sakit

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Sabtu 28 Januari 2023, 14:59 WIB
Beberapa anak dari suku Yanomami menderita pneumonia, sementara anak yang lainnya terkena malaria. Beberapa anak bahkan mengalami...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya