Senin 26 September 2022, 10:00 WIB

Polisi Prancis Bubarkan Demonstran Iran di Paris dengan Gas Air Mata

Basuki Eka Purnama | Internasional
Polisi Prancis Bubarkan Demonstran Iran di Paris dengan Gas Air Mata

AFP/Christophe ARCHAMBAULT
Aksi demonstrasi di Paris, Prancis memprotes tewasnya Mahsa Amini, setelah ditahan polisi moral Iran.

 

POLISI Prancis, Minggu (25/9), menggunakan gas air mata dan taktik antikerusuhan untuk mencegah ratusan demonstran di Paris mendekati Kedutaan Besar Iran.

Demonstran berkumpul di Paris di hari kedua secara beruntun untuk memprotes tewasnya Mahsa Amini, setelah perempuan itu ditangkap polisi moral Iran, pekan lalu.

Aksi demonstrasi itu berawal damai di Lapangan Trocadero di pusat kota. Para demonstran meneriakan kecaman terhadap pemerintah Iran dan pemimpin besar Republik Islam itu, Ayatollah Ali Khamenei.

Baca juga: Abaikan Ancaman Pemerintah, Demonstrasi di Iran Berlanjut untuk Malam Kesepuluh

Namun, polisi antihuru-hara menutup jalan saat para demonstran bergerak menuju kedutaan besar Iran. Polisi kemudian menembakkan gas air mata untuk membubarkan para demonstran.

Dalam sebuah pernyataan resmi, Kepolisian Paris mengonfirmasi penggunaan gas air mata dengan mengatakan sejumlah demonstran berhasil menembus barikade yang ditempatkan di dekat kedutaan Iran. 

Sekitar 4 ribu orang ambil bagian dalam aksi demonstrasi di Paris tersebut.

Penggunaan gas air mata itu memicu kemarahan para aktivis yang sebelumnya sudah kesal karena Presiden Prancis Emmanuel Macron bertemu dan berjabat tangan dengan Presiden Iran Ebrahim Raisi di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB, pekan lalu.

"Polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan aksi demonstrasi di Paris demi melindungi Kedubes Iran," cicit aktivis Iran yang bermukim di Amerika Serikat (AS) Masih Alinejad.

"Di saat yang sama, Emmanuel Macron berjabat tangan dengan presiden Iran," lanjutnya.

Para demonstran meneriakan yel-yel yang sama dengan yang digunakan para demonstran di Iran seperti 'zan, zendegi, azadi (perempuan, kehidupan, dan kebebasan) serta yel yang sama dalam bahasa Kurdi, 'jin, jiyan, azadi."

"Melihat apa yang terjadi, kami, warga Iran bersatu," tegas Nina, warga Prancis berdarah Iran yang menolak menyebutkan nama belakangnya. "Kami harus bereaksi meski kami berada jauh dari tanah air."

"Kami harus bersatu agar suara kami terdengar ke seluruh dunia," lanjutnya. (AFP/OL-1)
 

Baca Juga

Dok. Pribadi

Riset Mahasiswa UKI Ungkap 2/3 Populasi Anak-anak di Ukraina Berada di Pengungsian Negara Tetangga

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 09 Desember 2022, 10:08 WIB
Berdasarkan temuan terbaru sekitar dua pertiga populasi anak-anak Ukraina kini tengah mencari tempat pengungsian di negara tetangga...
Medcom

Iran Mulai Eksekusi Mati Demonstran

👤Basuki Eka Purnama 🕔Jumat 09 Desember 2022, 09:45 WIB
Mohsen Shekari, 23, dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati karena memblokade jalan dan melukai seorang petugas paramiliter di masa...
Telegraph

Prancis Gratiskan Kondom untuk Warga Usia 18-25 Tahun

👤Basuki Eka Purnama 🕔Jumat 09 Desember 2022, 09:30 WIB
Kebijakan itu diambil pemerintah Prancis dalam upaya mencegah kehamilan tidak diinginkan di kalangan kaum...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya