Selasa 28 Juni 2022, 13:12 WIB

BRICS akan Memperluas Keanggotaan Indonesia Diajak Bergabung

Fetry Wuryasti | Internasional
BRICS akan Memperluas Keanggotaan Indonesia Diajak Bergabung

AFP
Presiden Rusia Vladimir Putin saat teleconfren di BRICS Summit ke 14, Senin (27/6) waktu setempat

 

NEGARA-negara anggota BRICS, yakni Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, mengatakan akan memperluas keanggotaan mereka. Beberapa negara mereka klaim telah menunjukkan keinginan untuk bergabung seperti Indonesia, Turki, Arab Saudi, Mesir, dan Argentina.

Direktur Jenderal Departemen Urusan Ekonomi Internasional Kementerian Luar Negeri Li Kexin menekankan pentingnya kerja sama di tengah situasi dunia yang didera beragam persoalan, khususnya pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19 dan konflik di Ukraina.

Li menyebut bahwa perluasan BRICS ini bukan menjadi kumpulan negara atau blok untuk menandingi atau melawan blok-blok yang sudah ada seperti G7. Justru mereka ingin BRICS ini inklusif bagi seluruh negara, baik anggota maupun di luar anggota.

Untuk ekspansi keanggotaan tahun ini, para pemimpin mencapai berbagai konsensus penting untuk memulai proses dan mencoba mengidentifikasi pedoman dan prinsip serta kriteria dalam waktu dekat.

"Kami memiliki beberapa negara yang mengetuk pintu saat ini, seperti Indonesia, Turki, Saudi, Mesir, Argentina, dan lainnya. Kami memiliki strategi penjangkauan BRICS. BRICS plus ini sangat mencapai tujuan kerja sama di berbagai tingkatan tidak hanya di tingkat tinggi tetapi juga di tingkat kerja juga," ujar Li dalam bincang sore "Linjia 7 Salon" dengan tema BRICS Summit ke 14, Senin sore (27/6) waktu setempat.

Sebab dunia menghadapi tantangan pandemi yang serius, krisis Eropa, krisis Ukraina, dan persaingan strategis. Sehingga dia memandang keberadaan BRICS adalah alasan yang sangat kuat untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, menjunjung tinggi perdamaian, kesetaraan, dan keadilan, kemudian juga untuk menyikapi eksplorasi pengembangan dan kerja sama dan memajukan pemulihan ekonomi.

Li menjelaskan, sebelumnya pada pidato di forum bisnis BRICS (22/6) Presiden Tiongkok Xi Jinping memberi tiga sinyal untuk memperbaiki kondisi dunia.

Pertama, dunia membutuhkan perdamaian. Maka antar negara harus merangkul dialog dan konsultasi, serta mengatakan tidak pada hegemonisme, politik kelompok dan konfrontasi.

Kedua, dunia membutuhkan pembangunan. Maka antar negara harus merangkul semua upaya untuk mencapai tujuan UN-SDG pada tahun 2030 dan mengatakan tidak pada marginalisasi agenda pembangunan.

Ketiga, dunia membutuhkan keterbukaan. Maka antar negara harus merangkul globalisasi, mengatakan tidak pada pembangunan blok eksklusif. Sebab dunia membutuhkan kerja sama.

Xi juga meminta para pemimpin negara merangkul prinsip-prinsip ekonomi dasar keunggulan komparatif, dan mengatakan tidak untuk menjadi ideologis, memisahkan diri, dan memotong rantai pasokan. "Jadi secara keseluruhan kita harus kembali ke multilateralisme," kata Li.

Li menyebut BRICS mengupayakan ekonomi dunia yang terbuka, menentang sanksi unilateral, juga memperkuat kerja sama ekonomi digital, inovasi teknologi, rantai pasok dan industri, ketahanan pangan dan energi, serta mendorong pemulihan ekonomi dunia.

"BRICS fokus pada pembangunan dan terbuka pada kerja sama dengan siapa pun. Dengan memperluas keanggotaan, kerja sama BRICS bisa semakin kuat. Begitu pula dengan peran dan pengaruh BRICS sebagai pemain penting di dunia,” kata Li.

Duta Besar Afrika Selatan untuk Tiongkok Siyabonga Cyprian Cwele mengatakan terkait isu-isu pembangunan, bagi negara seperti Afrika dan negara berkembang lainnya masih harus terus berjuang atas belas kasihan, dan kemudian mendengarkan para pemimpin lain dari negara-negara maju.

"Ini membantu kami untuk membentuk pemikiran dan memiliki pandangan yang lebih baik tentang bagaimana menghadapi tantangan pembangunan global ini karena memang tidak mudah," kata Cwele.

Negara-negara ini membutuhkan kepemimpinan yang kuat, untuk keberanian bahkan selama masa-masa sulit. "Sehingga kami di BRICS tidak menyimpang dari aspirasi awal untuk memastikan kehidupan yang lebih baik bagi semua orang," kata Cwele.

Pembangunan

Pada pertemuan tahun ini yang bertema ”Foster High-quality BRICS Partnership, Usher in a New Era for Global Development”, kelima negara anggota membahas kerja sama beragam sektor, termasuk penanganan Covid-19, mekanisme pusat penelitian dan pengembangan vaksin, distribusi vaksin yang adil dan setara, serta penguatan kesiapan menghadapi krisis kesehatan masyarakat lainnya.

Presiden Xi dalam pidato pada pertemuan itu juga mengingatkan perlunya menjunjung tinggi solidaritas dan menjaga perdamaian dunia. Ia mengatakan, ada sejumlah negara yang berusaha memperluas aliansi militer untuk mencari keamanan mutlak, memicu konfrontasi berbasis blok dengan memaksa negara lain untuk memihak, serta mengejar dominasi sepihak dengan mengorbankan hak dan kepentingan orang lain.

”Jika ini dibiarkan berlanjut, dunia akan semakin bergejolak dan tidak aman. Penting bagi negara-negara BRICS mempraktikkan multilateralisme, menjaga keadilan, solidaritas, serta menolak hegemoni, intimidasi dan perpecahan,” ujarnya.

Tiongkok juga mengusulkan kerangka Inisiatif Pembangunan Global sebagai bentuk nyata dari kerja sama BRICS. Salah satunya meningkatkan Dana Bantuan Kerja Sama Selatan-Selatan Tiongkok menjadi Dana Pembangunan Global dan Kerja Sama Selatan Selatan, dengan tambahan masukan 1 miliar dollar AS dari US 3 miliar yang sudah ada.

Selain itu juga menambah dukungan untuk Dana Perwalian Perdamaian dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dibuat China, menerbitkan Laporan Pembangunan Global, dan mendirikan Pusat Promosi Pembangunan Global dan Jaringan Pengetahuan Global untuk Pembangunan. (OL-13)

Baca Juga: Presiden Rusia Vladimir Putin Pastikan Hadir di KTT G20

Baca Juga

AFP

Putin Perluas Kerja Sama dengan Korut

👤Cahya Mulyana 🕔Senin 15 Agustus 2022, 23:34 WIB
Kerja sama ini berlandaskan prinsip yang komprehensif dan konstruktif seperti yang diterapkan dengan...
Dok. Bea Cukai

Bea Cukai dan Malaysian Customs Resmi Tutup Joint Task Force Operation 2022 

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 15 Agustus 2022, 20:37 WIB
Selama periode pelaksanaan JTF Operation 2022, Bea Cukai berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 77,72 kg methamphetamine dan sekitar...
AFP/Atta Kenare.

Iran akan Sampaikan Proposal Pembicaraan Nuklir Final Senin Malam

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 15 Agustus 2022, 18:41 WIB
Menteri Luar Negeri Iran mengatakan Teheran akan menyampaikan proposal final pada Senin (15/8) malam dalam pembicaraan untuk menghidupkan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya