Senin 02 Mei 2022, 07:58 WIB

Rayakan Mayday, Buruh dan Polisi Prancis dan Turki Bentrok

Cahya Mulyana | Internasional
Rayakan Mayday, Buruh dan Polisi Prancis dan Turki Bentrok

dailysabah.com
Ilustrasi

 

Polisi dan pengunjuk rasa dari kalangan buruh bentrok di Turki dan Prancis dalam peringatan May Day pada hari Minggu (1/5). Polisi anti huru hara Turki menahan sejumlah demonstran di Istanbul.

Sementara unjuk rasa di Paris dengan cepat berubah menjadi kekerasan ketika pemuda bentrok dengan polisi di sela-sela dan bangunan dirusak. Meskipun serikat pekerja mengatakan lebih dari 200.000 orang bergabung dengan demonstrasi di seluruh Prancis dan sebagian besar menjalankan peringatan ini dengan damai.

Perayaan 1 Mei adalah hari libur umum di banyak negara. Demonstrasi di Eropa memicu kontroversi paling besar dilakukan di Turki yang berkumpul di Taksim Square Istanbul. Mereka meneriakkan panjang umur dan kebebasan May Day.

Pejabat kota Istanbul mengatakan kelompok itu menolak untuk membubarkan diri sehingga 164 buruh ditahan. Menteri Prancis mengecam kekerasan di Paris dan jaksa mengatakan 50 orang telah ditangkap.

Martine Haccoun, seorang pensiunan dokter berusia 65 tahun, mengatakan kepada AFP bahwa dia datang untuk memprotes di kota selatan Marseille untuk menunjukkan kepada Presiden Prancis terpilih kembali Emmanuel Macron atas kebijakan tak memihak buruh selama lima tahun.

Dia mengatakan banyak yang memilih Macron hanya untuk menghentikan penantang sayap kanan Marine Le Pen.

Sementara bentrokan dilaporkan di sejumlah kota di Italia termasuk Turin. Namun ribuan buruh yang berkumpul di London dan kota-kota di seluruh Jerman tidak memicu bentrokan.

Di Spanyol, sekitar 10.000 orang bergabung dalam demonstrasi di Madrid dan lusinan kota lain juga mengadakan rapat umum yang dihadiri banyak orang. Menteri Tenaga Kerja Yolanda Diaz dari partai komunis mengatakan dia ingin menunjukkan solidaritas dengan para pekerja Ukraina, yang hari ini tidak dapat melakukan peringatan Mayday.

Di ibu kota Yunani, Athena, lebih dari 10.000 orang bergabung dalam aksi unjuk rasa dengan latar belakang inflasi yang melonjak. Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis turun ke media sosial untuk menjanjikan kenaikan upah minimum sebesar 50 euro per bulan.

"Kami menghormati orang-orang yang bekerja bukan dengan slogan, tetapi dengan tindakan," tulisnya di Twitter.

Perdana Menteri Kenya Uhuru Kenyatta juga menggunakan pidato May Day-nya untuk menjanjikan kenaikan 12% dalam upah minimum. Meskipun para aktivis mengatakan itu tidak cukup untuk mengimbangi inflasi.

Suasana lebih buruk terjadi di Sri Lanka usai oposisi menunjukkan solidaritas terhadap buruh dan meminta Presiden Gotabaya Rajapaksa untuk mengundurkan diri. Alasannya krisis ekonomi terburuk yang pernah terjadi di negara itu tak kunjung berhenti.

"Sudah waktunya bagi kita untuk menarik telinganya dan menendangnya keluar," kata mantan legislator Hirunika Premachandra pada rapat umum di Kolombo.

Xiomara Castro, presiden baru Honduras, disambut oleh ribuan orang yang meneriakkan namanya, dan dia menjawab dengan mengatakan kepada mereka bahwa dia akan memerintah untuk kaum buruh dan mengakhiri era gelap korupsi dan perdagangan narkoba.

Di tempat lain di Amerika Latin, satu kelompok kiri di Buenos Aires memprotes pembayaran kembali pinjaman dana dari Lembaga Moneter Internasional. Ada juga dua pawai terpisah di ibu kota Venezuela, Caracas, dengan pekerja rumah sakit dan pegawai layanan dasar lainnya menyerukan gaji yang bermartabat dalam satu demonstrasi.

Presiden Nicolas Maduro berbicara kepada orang banyak pada pawai pro-pemerintah terpisah di tempat lain di kota itu, menyalahkan sanksi Amerika Serikat atas badai ekonomi yang menerpa negaranya dan mengumumkan.

Ribuan demonstran 1 Mei di Chili turun ke jalan hanya beberapa hari setelah pemerintah mengumumkan kenaikan 12,5% dalam upah minimum, yang akan mencapai 400.000 peso (US$470) per bulan mulai Agustus.

Presiden Gabriel Boric mengatakan tujuannya adalah untuk meningkatkannya menjadi 500.000 peso pada tahun 2026. May Day datang terlalu cepat bagi banyak orang di Tiongkok. "Jelas itu buruk dalam hal kepentingan diri kita sendiri, tetapi itu perlu secara keseluruhan untuk kebaikan negara," kata seorang pelayan muda di sebuah restoran sepi dekat Kota Terlarang di Beijing. (France24/OL-12)

 

Baca Juga

AFP/Brendan Smialowski.

Negosiator AS: Peluang Kegagalan Kesepakatan Nuklir Iran Lebih Besar

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 26 Mei 2022, 17:30 WIB
Amerika Serikat akan menolak tuntutan yang melampaui cakupan JCPOA, nama resmi untuk Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (Joint...
AFP/Atta Kenare.

Satu Orang Tewas dalam Kecelakaan Unit Penelitian Pertahanan Iran

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 26 Mei 2022, 16:45 WIB
Kementerian pertahanan Iran mengatakan sedang menyelidiki peristiwa di unit penelitian di daerah Parchin, tenggara ibu kota...
AFP/Atta Kenare.

Israel Akui Berada di Balik Pembunuhan Kolonel Iran

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 26 Mei 2022, 16:30 WIB
Ribuan orang menghadiri pemakaman Khodai pada Selasa di Teheran tengah. Doa pemakaman dipimpin oleh imam utama ibu kota dan peti mati...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya