Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Gema Kemunduran Sosialisme

Dhika Winata
19/5/2016 07:35
Gema Kemunduran Sosialisme
(REZA PRATMOKO)

JELANG dekade 2000-an, Amerika Selatan ialah sebuah keganjilan dalam geopolitik dunia.

Pasalnya, Perang Dingin saat itu baru berakhir.

Usai sudah ketegangan politik-militer antara Blok Timur (mewakili kubu kiri) dan Blok Barat (mewakili kubu kanan).

Karena itu, begawan ilmu politik Francis Fukuyama memvonis sejarah sudah berakhir.

Namun, gelombang kepemimpinan politik kiri dan sosialis justru bersemi di Amerika Selatan.

Di Venezuela, Hugo Chavez didaulat sebagai presiden pada 1999.

Ia menjalankan pemerintahan sosialis dengan kebijakan nasionalisasi dan subsidi sebagai andalan.

Meski sempat digoyang kudeta militer pada 2002, Chavez kukuh memimpin hingga kematiannya pada 2013.

Di Brasil, Partai Pekerja berkuasa dan menaikkan Ignacio Lula da Silva sebagai presiden pada 2003.

Lula, begitu dia akrab dikenal, menjabat hingga 2011 dan diteruskan Dilma Rousseff.

Argentina memiliki Nestor Kirchner pada 2003-2007.

Penerusnya yang juga sang istri, Cristina Kirchner, menjabat selama dua periode hingga 2015.

Di Bolivia, Evo Morales memimpin sejak 2006.

Sebagian besar pemimpin itu naik ke posisi puncak setelah krisis ekonomi yang melanda kawasan itu pada 2002.

Kini, karena kasus serupa, beberapa pemimpin sosialis itu mulai terancam.

Kemunduran itu seakan menggema di antero Amerika Selatan.

Sebagian berakhir lumrah.

Di Argentina misalnya, era Kirchner berakhir karena kalah dalam pemilu.

Sebagian lagi mungkin akan berakhir dramatis.

Di Brasil, Rousseff menghadapi pemakzulan lantaran skandal korupsi dan instabilitas ekonomi.

Partai koalisi pemerintahan pecah dan balik menyerang.

Venezuela mengalami turbulensi.

Presiden Nicolas Maduro terus digoyang.

Memburuknya kondisi ekonomi, kekurangan pangan, dan krisis listrik menjadi sorotan.

Apalagi ia dinilai tidak memiliki kharisma kepemimpinan seperti Chavez.

Di Bolivia, Evo Morales terancam tidak bisa melanjutkan kepemimpinannya.

Hasil referendum pada Februari lalu menolak perubahan konstitusi yang memungkinkan Morales berkuasa hingga periode keempat pada 2019. (Dhika Winata/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya