Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJAK misi ke angkasa luar dapat dilakukan manusia pada awal 1960-an, impian untuk membangun koloni di Bulan atau Planet Mars hingga kini menghuni kepala sejumlah ilmuwan. Namun, beberapa pertanyaan masih mengganjal untuk mewujudkan mimpi tersebut, misalnya bagaimana manusia dapat hidup dalam rentang waktu berbulan-bulan atau bahkan tahunan di angkasa luar? Lantas, apa pula nanti yang mereka makan?
Untuk menjawab pertanyaan itu, sebuah tim peneliti dari sebuah universitas di Wegeningen, Belanda, baru-baru ini berhasil mengembangkan sayuran yang ditanam di tanah yang mirip dengan material di Bulan dan Planet Mars. Penelitian itu merupakan langkah awal untuk mengembangkan kehidupan di luar Bumi.
"Kami ingin mengembangkannya dengan materi dari Mars dan bulan sungguhan,'' kata Wieger Wamelink, salah seorang peneliti tersebut, Selasa (17/5). Tentu saja sulit untuk mengambil sampel material di Bulan dan Mars. Namun, kata Wamelink, selama ini Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) kerap menggunakan material tanah yang mirip dengan yang ada di bulan dengan mengambilnya dari sebuah gurun di Arizona, sedangkan tanah yang mirip di Mars diambil dari gunung berapi di Hawaii.
Uji coba pertama yang dilakukan di Wageningen dilakukan pada 2013 setelah mereka membeli 100 kilogram tanah imitasi angkasa luar dengan harga 2000 euro. Wamelink dkk lantas menanam tomat dan beberapa jenis sayuran dalam pot menggunakan tanah itu. Ternyata hasilnya sungguh di luar dugaan. "Tanaman tersebut tumbuh hanya dengan ditambahi sedikit air," ujarnya. Seperti aktor Matt Damoin di film The Martian, Wamelink tekun mengamati dan terpukau dengan pertumbuhan 'sayuran angkasa luarnya' dari hari ke hari.
Pertanyaan yang muncul kemudian ialah apakah tanaman itu layak dikonsumsi, sebab material di Mars dan di Bulan, termasuk juga material imitasi milik NASA, mengandung sejumlah logam berat yang dapat membunuh manusia.
Wamelink kini sedang mencari kemungkinan solusinya. Jika dari hasil analisis sayuran tersebut ternyata mengandung arsenik, merkuri, atau logam, tentu tidak sehat untuk tubuh manusia. Wamelink mengakui penelitiannya itu masih banyak kekurangan. "Memang masih perlu lebih banyak uji coba lagi,'' ujarnya. (AFP/Adiyanto/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved