Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SEMBILAN nota kesepahaman (MoU) akan ditandatangani pemerintah Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Joko Widodo ke 'Negeri Ginseng', 15 Mei mendatang.
Kunjungan kenegaraan Jokowi ke Seoul dilakukan atas undangan Presiden Park Geun-hye.
Dari Seoul, Presiden selanjutnya akan bertolak ke Sochi, Rusia, 18 Mei, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tingkat (KTT) Peringatan 20 Tahun Kerja Sama ASEAN-Federasi Rusia.
"Hasil konkret yang diharapkan tercapai dalam kunjungan (Presiden ke Korsel) ialah penandatanganan 9 MoU, 6 MoU di tingkat menteri, 3 di tingkat eselon satu," ungkap Direktur Asia Timur dan Pasifik Kementerian Luar Negeri, Edi Yusup, saat press briefing, di Jakarta, kemarin.
Sembilan MoU itu di antaranya mencakup bidang kemaritiman, industri kreatif, kerja sama antikorupsi, restorasi hutan gambut, teknologi pertahanan, dan kawasan ekonomi khusus.
Di tingkat eselon satu, akan disepakati kerja sama di bidang energi.
Park dan Jokowi juga akan membahas isu-isu di tingkat regional, seperti kerja sama ASEAN-Korsel, peningkatan kerja sama saling mendukung di badan-badan internasional, dan situasi Semenanjung Korea.
Edi mengatakan Seoul merupakan mitra wicara dan sekaligus mitra strategis Indonesia.
Hubungan perdagangan dan investasi Jakarta dengan Seoul terbilang cukup tinggi.
Di bidang investasi, Korsel meduduki peringkat kelima pada 2015.
Presiden juga akan mengadakan forum bisnis dengan sekitar 400 pengusaha Korsel.
Selain itu, akan ada one-on-one business meeting dengan beberapa perusahaan Korea dan bisnis langsung dengan sekitar 20 pemilik perusahaan terbesar di Korea, salah satunya Lotte Group.
Sementara itu, di Rusia, selain mengikuti KTT Peringatan 20 Tahun Kerja Sama ASEAN-Federasi Rusia, Presiden Jokowi akan melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Vladimir Putin.
Ini merupakan kunjungan bilateral pertama Presiden ke 'Negeri Beruang Merah'.
"Hal-hal yang akan dibahas kedua kepala negara berkisar seputar ekonomi, pertahanan dan keamanan, perluasan akses produk-produk unggulan Indonesia ke Rusia, dan peningkatan investasi Rusia di Indonesia. Rusia sangat tertarik berinvestasi di bidang infrastruktur," ujar Direktur Eropa Timur dan Tengah Kemenlu, Witjaksono Adji.
Sementara itu, di tempat terpisah, guna menindaklanjuti pertemuan Presiden Jokowi dan Presiden Uni Eropa (UE), Jean-Claude Juncker, 21 April silam, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) untuk bersiap mengimplementasikan perjanjian kerja sama dagang di bidang kehutanan.
Rabu (18/5) pekan depan, Komisi UE dan perwakilan pemerintah Indonesia akan melangsungkan pertemuan Joint Implementing Committee (JIC) untuk menentukan tanggal implementasi kerja sama yang disebut Perjanjian Kerja Sama Sukarela Penegakan Hukum, Tata Kelola, dan Perdagangan Bidang Kehutanan (FLEGT-VPA).
"Ini merupakan satu aset Indonesia yang baru. Perlu komitmen dari semua pihak, termasuk pelaku usaha karena kita akan meningkatkan kualitas kita daripada negara lain," kata Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, Kamis (12/5), di Jakarta. (Hym/aya/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved