Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
Insiden kebakaran telah menghancurkan sebuah kamp pengungsi Rohingya di Bawdupa, wilayah barat Myanmar, kemarin.
NASIB pengungsi Rohingya asal Myanmar yang menjadi korban kekerasan komunal masih belum jelas. Pemerintah Malaysia mengatakan pihaknya hanya mengizinkan 371 orang etnik Rohingya yang beragama Islam tinggal di negara mereka.
Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNCHR) mengatakan pemerintah Amerika Serikat (AS) hanya menerima 52 orang Rohingya untuk menetap di negara mereka. Hingga kini, penampungan dan perlindungan ribuan orang Rohingya dari Myanmar belum menunjukkan kejelasan. Di Myanmar, ribuan etnik Rohingya masih tinggal di lokasi penampungan yang tidak layak dan manusiawi.
Sementara itu, ratusan warga Bangladesh yang juga meninggalkan negara mereka turut menjadi manusia perahu. Namun, dengan alasan mengungsi untuk tujuan ekonomi, mereka ditampung dan dipulangkan kembali ke Bangladesh.
Indonesia dan Malaysia ialah negara yang belum menandatangani konvensi pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Oleh karena itu, kedua negara masih memperumit proses pemukiman pengungsi Rohingya.
Dengan kondisi itu, otoritas UNHCR mengeluh soal waktu yang hanya setahun untuk pemukiman kembali pengungsi Rohingya. Lembaga penanggung jawab pengungsi PBB itu mengatakan waktu setahun tidak realistis, terutama mengingat antrean pengungsi yang panjang.
Kini Malaysia telah memiliki sekitar 158 ribu orang yang mencari suaka terdaftar, termasuk 55 ribu orang Rohingya. Sementara itu, Indonesia memiliki lebih dari 7.000 pencari suaka yang terdaftar.
Terbakar
Di sisi lain, insiden kebakaran telah menghancurkan kamp penampungan yang dihuni sekitar 2.000 orang Rohingya di Bawdupa, wilayah barat Myanmar, kemarin. Mereka ditampung di penampungan yang tidak layak huni itu akibat kekerasan komunal yang terjadi pada 2012.
Penampungan etnik Rohingya yang beragama Islam itu hanya terbuat dari kayu seadanya dengan atap dari seng. Ketika kebakaran terjadi mulai pagi kemarin, api dengan mudah melalap kamp penampungan yang berada di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, itu.
Otoritas setempat mengatakan api berasal dari sebuah kompor di sebuah penampungan yang berada tidak jauh dari Kota Sittwe, ibu kota Negara Bagian Rakhine. Angin yang kencang turut membuat api kian besar.
Kantor PBB untuk Koordinasi Bidang Kemanusiaan (OCHA) mengatakan insiden itu menyebabkan 14 orang terluka. Sejauh ini, belum ada laporan warga Rohingya tewas.
"Diperkirakan, ada 440 kepala keluarga (sekitar 2.000 orang) yang menanggung akibat dari kebakaran kamp penampungan pengungsi tersebut, tetapi jumlah pastinya belum dilaporkan," jelas pihak OCHA. Pihak OCHA menambahkan bahwa masyarakat Rohingya sangat membutuhkan tempat penampung dan sejumlah kebutuhan lain.
Sementara itu, Sonamia, 42, seorang etnik Rohingya, mengatakan, selama setahun terakhir tidak bisa tidur nyenyak. Ia kerap dihantui mimpi buruk akibat pengalaman pilunya. Ia dan sekitar 400 orang etnik Rohingya lainnya pernah terombang-ambing dari satu negara ke negara lainnya.
Ia menyebut peristiwa getir yang dialaminya itu sebagai permainan mengerikan yang tak manusiawi. Pengungsi Rohingya diping-pong negara-negara di kawasan Asia Tenggara.
"Saya merasa sangat kecewa dan kacau setiap kali saya mengingat peristiwa tersebut, karena kami merasa diperlakukan seperti bukan manusia," ungkapnya di kamp penampungan di Desa Buyeun, Provinsi Aceh, Indonesia, kemarin. (AFP/I-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved