Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
REFORMASI yang dicanangkan pangeran muda Arab Saudi, Mohammed bin Salman, ditekankan beriringan dengan tradisi Islam kerajaan.
Namun, sejumlah ide yang termaktub dalam draf cenderung membuat sebagian kalangan konservatif marah.
Rencana reformasi berbasis luas yang dikenal sebagai 'Visi 2030' itu sebagian besar bertujuan melepaskan ketergantungan ekonomi Saudi pada pemasukan sektor minyak dan melakukan perubahan sosial yang spesifik.
Namun, reformasi besar-besaran itu juga menyentuh area-area yang telah lama menjadi medan pertempuran budaya.
Sejak diproklamasikan Abdul Aziz bin Abdurrahman Al-Saud pada 1932, segala kebijakan dan langgam sosial Kerajaan Arab Saudi tak bisa lepas dari konservatisme agama.
Bagi Dinasti Al-Saud, yang selama ini selalu memerintah lewat persekutuan dengan kalangan ulama Sunni berpengaruh, kebijakan reformasi tentu harus memikirkan risiko reaksi kalangan konservatif yang memegang pengaruh besar.
Saat mempresentasikan rencana reformasi tersebut, Pangeran Salman langsung menghadapi pertanyaan sulit, yakni apakah perempuan akan segera diizinkan untuk mengemudi.
Selama ini, fatwa atau putusan majelis ulama negara itu melarang perempuan berada di balik kemudi.
Dalam merespons hal itu, Pangeran Salman berusaha menekankan formulasi umum yang dianut bahwa masyarakat belum siap untuk itu, seraya menyatakan kemungkinan beberapa perubahan di ranah yang lain.
Janji investasi di acara-acara budaya dan fasilitas hiburan untuk mendorong kegiatan olahraga dan mempromosikan warisan kuno dan identitas nasional Saudi juga isu yang sangat kontroversial di kalangan konservatif.
Keputusan pemerintah baru-baru ini untuk meningkatkan pembatasan pada polisi agama dan tetap mendukung perempuan bekerja telah mendorong kemarahan kelompok konservatif.
Hal itu menunjukkan tingginya sensitivitas isu budaya.
Di Saudi, bioskop dilarang dan olahraga perempuan tidak dianjurkan.
Era pra-Islam dianggap sebagai masa kejahiliahan dan segala benda pusaka atau peninggalan dari era itu dianggap kemusyrikan atau tidak patut.
"Ketika ia (Mohammed bin Salman) berbicara tentang kualitas hidup, soal hiburan, ia menyadari akan perubahan dalam budaya kita dan apa yang akan dibicarakan dia sudah diprediksi masyarakat. Akan tetapi, pada saat yang sama, ia menunjukkan keengganan," kata Jamal Khashoggi, jurnalis terkemuka Saudi.
Dalam draf Visi 2030 disebutkan, olahraga sebagai andalan gaya hidup sehat dan keseimbangan.
Pemerintah pun berjanji akan mendorong partisipasi luas dan teratur dalam olahraga serta kegiatan atletik.
Sayangnya, dokumen itu tidak memberikan referensi untuk fasilitas bagi kalangan perempuan.
Selama ini Saudi menahan diri untuk memperkenalkan pendidikan jasmani bagi anak perempuan di sekolah-sekolah dasar dan menengah. (Times of India/Huffington Post/Hym/I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved