Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJAK sumber minyak ditemukan pada 3 Maret 1938, Arab Saudi sangat bergantung pada hasil minyak bumi sebagai sumber pemasukan.
Sektor minyak menyumbang 70% pendapatan negara yang memiliki cadangan minyak sebesar 268 miliar barel (Gbbl) atau yang terbesar di dunia itu.
Namun, kejayaan minyak yang telah mengangkat ekonomi kerajaan itu belakangan mulai surut sehingga mereka mengalami defisit besar-besaran.
Saat ini, harga minyak dunia dijual pada kisaran US$40 per barel.
Padahal, di awal 2014, harga minyak masih US$100 per barel.
Akibatnya, Arab Saudi mengalami defisit anggaran sebesar US$100 miliar pada 2015.
Awal bulan ini saja Saudi melakukan pinjaman melalui konsorsium bank internasional sebesar US$10 miliar dengan tenor 5 tahun.
Di samping persoalan defisit tersebut akibat penurunan harga minyak, negeri petrodolar itu dihadapkan pada berbagai persoalan seperti kebutuhan perumahan yang layak dan jumlah pengangguran yang besar, serta besarnya subsidi.
Hampir separuh penduduk kerajaan itu kini berusia di bawah 25 tahun dan jutaan penduduk mencari pekerjaan.
Persoalan-persoalan tersebut mendorong Deputi Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman, anak tertua Raja Salman dalam dinasti Al Saud, meluncurkan program reformasi Vision 2030.
Berdasarkan program itu, pada 2030, ekspor nonminyak diharapkan meningkat 50% atau enam kali lipat dari US$43,5 miliar menjadi US$267 miliar melalui pemangkasan penggunaan energi dan subsidi.
Di tangan pangeran berusia 31 tahun itu, masa depan Arab akan lebih terbuka, baik dalam perekonomian maupun sosial budaya.
"Kita telah menumbuhkan kecanduan minyak (Arab Saudi) dan ini berbahaya sehingga pembangunan sektor lainnya menurun beberapa tahun terakhir," kata Mohammed bin Salman yang juga menjabat Ketua Komisi Pariwisata dan Warisan Nasional, pekan lalu.
Langkah reformasi itu juga dilakukan untuk menjadikan Saudi sebagai negara 15 terkaya di dunia setelah kini di peringkat 19.
Keterbukaan itu ditandai dengan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) kurang dari 5% saham perusahaan minyak terbesar di dunia Arabian American Oil Company (Aramco).
Melalui IPO, pemerintah Saudi berharap menggalang dana senilai US$2 triliun-US$2,5 triliun atau nilai terbesar IPO di dunia.
Setengah dari dana raihan IPO akan digunakan untuk pengalihan public investment fund menjadi sovereign wealth fund (SWF) pertama Saudi dengan total aset US$2 triliun, melampaui SWF Norwegia yang besarnya US$865 miliar.
Kontribusi swasta
Sektor swasta juga digadang akan lebih berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) dari 40% menjadi 65% pada 2030.
Hal yang sama juga berlaku untuk investasi langsung asing (FDI) dari 3,8% PDB menjadi 5,7% (level internasional).
"Ini bukan sekadar mimpi. Ini realitas yang akan menjadi kenyataan. Insya Allah," kata Pangeran Salman yang juga menjabat menteri pertahanan.
Dalam hal sosial budaya, Visi 2030 Arab juga bercita-cita meningkatkan jumlah peserta umrah dan haji dari 8 juta menjadi 30 juta per tahun melalui investasi besar-besaran dan beragam insentif.
Pekerja asing akan mendapat 'Green Card' yang memudahkan mereka membeli rumah di Saudi dan berinvestasi.
Jumlah pengangguran menjadi 7% dari 11,6% juga menjadi visi Pangeran Salman.
Partisipasi perempuan diharapkan meningkat menjadi 30% dari 22%.
Namun, belum diketahui apakah perempuan Saudi akan diperbolehkan mengendarai mobil.
Pangeran Salman mengatakan semua itu bergantung pada keinginan masyarakat, bukan pemerintah.
"Sejauh ini masyarakat belum meminta," imbuhnya.
Disangsikan
Jason Turvey, ekonom bagian Timur Tengah dari Capital Economic, sangsi akan reformasi Saudi itu.
Menurutnya, reformasi itu hanya akan mengubah neraca keuangan, bukan menciptakan aset baru, sehingga tidak akan mengurangi ketergantungan Saudi akan minyak.
"Kami tidak percaya pada pernyataan Mohammed bin Salman bahwa Arab Saudi tidak akan lagi bergantung pada minyak di 2020," kata dia.
Namun, Pangeran Salman optimistis Visi 2030 Arab akan tercapai.
"Arab Saudi tidak akan bergantung lagi pada minyak di 2020," pungkasnya.
Pekan lalu Pangeran Salman mengumpulkan sejumlah ulama, intelektual, dan jurnalis untuk membahas hal itu.
Dia mengimbau semua pihak untuk terlibat aktif menjadikan Saudi negara yang tidak lagi bergantung pada sektor minyak. (AFP/AP/The Guardian/New York Times/I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved