Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
REGU pencari dan penyelamat (SAR) bekerja keras mencari korban yang diperkirakan terperangkap di bawah reruntuhan gedung berlantai enam yang ambruk di Nairobi, ibu kota Kenya.
Insiden yang terjadi Sabtu (30/4) waktu setempat itu menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai sekitar 134 lainnya.
Pejabat mengatakan, insiden tersebut datang saat regu SAR berjuang menemukan korban selamat dari badai, yang menewaskan tujuh orang.
Gedung dilaporkan ambruk setelah lantai beton runtuh di atas satu sama lain selama hujan lebat yang berlangsung sejak sehari sebelumnya.
Bangunan yang baru berusia dua tahun itu merupakan rumah bagi lebih dari 150 keluarga.
Pihak berwenang, dalam hal ini Badan Konstruksi National telah mengapkir gedung tersebut dan memerintahkan evakusi, tetapi diabaikan oleh pengelola gedung.
"Sejauh ini sebanyak 12 orang telah dikonfirmasi tewas dari tragedi tersebut," ungkap pemerintah dalam sebuah pernyataan.
Menteri Dalam Negeri Kenya, Joseph Nkaissery menyatakan masih banyak warga yang terjebak di bawah reruntuhan.
"Ada seorang perempuan dan balita yang masih hidup di bawah reruntuhan, kami akan menyelamatkan mereka,'' ujarnya.
Presiden Kenya, Uhuru Kenyatta yang telah mengunjungi lokasi
kejadian, memerintahkan polisi mengambil tindakan segera untuk mengidentifikasi dan menangkap pemilik bangunan yang telah mengabaikan arahan Badan Konstruksi National.
Bangunan dilaporkan roboh sekitar pukul 9:30 waktu setempat ketika hujan deras mendera wilayah Nairobi.
Curah hujan dengan intensitas tinggi telah menyebabkan banjir dan tanah longsor di berbagai daerah di negara tersebut.
Untuk menghindari potensi jatuhnya korban lebih lanjut, dua bangunan yang berdekatan dengan gedung yang roboh dinyatakan tidak aman dan perintah evakuasi telah dikeluarkan.
Konstruksi buruk
Selain runtuhnya gedung tersebut, cuaca buruk di Nairobi juga menyebabkan banjir yang menewaskan sedikitnya tujuh orang.
Artinya total jumlah korban tewas akibat gedung runtuh dan banjir sebanyak 19 orang.
Pihak Palang Merah Kenya mengatakan lebih dari 50 orang telah dilaporkan hilang, namun tidak terkonfirmasi apakah mereka terjebak di dalam gedung yang runtuh.
"Salah satu korban ditarik dari tumpukan puing setelah fajar," kata petugas Palang Merah Kenya, sekitar 10 jam setelah bangunan runtuh.
Aksi penyelamatan dengan alat mesin yang lebih besar mengalami kendala karena jalan-jalan yang sempit dan ramai.
Upaya penyelamatan korban diharapkan akan terus berlanjut hingga beberapa hari ke depan seiring intensitas hujan yang diprediksi menurun.
Kota Nairobi telah mengalami ledakan pertumbuhan bangunan atau gedung dalam beberapa tahun terakhir, tetapi kualitas bahan yang digunakan dan rentang proses konstruksi yang kelewat cepat, kadang-kadang dipertanyakan.
Kalangan kelas menengah yang bertumbuh telah memicu ledakan permintaan perumahan dan kenaikan harga di negara Afrika Timur itu.
Steven Oundo, Ketua Badan Konstruksi Nasional Kenya, mengatakan pihaknya akan menyelidi apakah bangunan tersebut memiliki sertifikat yang memungkinkan orang untuk tinggal di dalamnya.
Menurut laporan BBC, gedung itu dibangun dalam waktu tiga bulan.
Pihak berwenang mengatakan telah menyarankan pembongkaran namun pihak gedung memiliki sertifikat yang memungkinkan penyewa untuk menyewa 119 kamar di sana. (AFP/BBC/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved